Memburu Pelaku “Black September”


Profil pesawat AS Boeing 707 TWA yang dibajak oleh anggota Black September. Pesawat komersial yang bisa mengangkut penumpang lebih dari 100 orang itu dibajak bersama dua pesawat lainnya. Peristiwa pembajakan pesawat lebih dari satu unit dalam satu hari itu kemudian terulang lagi pada peristiwa 9-11-2002 yang berlangsung di New York AS.

Ketika para pejuang Palestina makin kesulitan untuk melaksanakan serangan teror terhadap pesawat-pesawat komersial Israel karena penjagaan demikian ketat, mereka mulai menyasar ke target di luar Israel. Salah satu kelompok teroris Palestina yang paling gencar menyerang sasaran Israel adalah Black September. Organisasi teroris yang dikeluarkan dari Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) akibat tindakannya yang terlalu berani dan kejam. Akibatnya malah merugikan rakyat Palestina yang sedang memperjuangkan kemerdekaannya. Tapi meskipun telah didiskualifikasi dari PLO, Black September ternyata tetap melancarkannya aksinya.

Profil teroris Jerman Ulrike Meinhof dan Andreas Baader.

Tindakan yang membuat rakyat Palestina dan dunia Arab berang adalah ketika Front Rakyat Untuk Pembebasan Palestina (PFLP) melancarkan pembajakan pesawat secara besarbesaran pada bulan September 1970. PFLP yang dipimpin oleh George Habash pada 10 September berhasil membajak tiga pesawat sekaligus yang sedang terbang di sebelah utara Aman, ibukota Yordania. Uniknya pesawat komersial yang dibajak bukan pesawat Israel melainkan pesawat Boeing B747 Pan American penerbanganan 93 (Brusel-New York), Boeing B707 TWA penerbangan 741 (Frankfurt-New York), dan DC-8 Swissair penerbangan100 (Zurich-New York). Ketiga pesawat nahas dengan total penumpang 400 orang itu kemudian dipaksa mendarat di Zarka, Yordania, dan langsung ditawan oleh puluhan teroris bersenjata lengkap. Kendati tidak ada penumpang bangsa Israel di tiga pesawat itu, teroris PFLP meminta agar semua rekan-rekannya yang sedang ditahan di penjara Israel dibebaskan.

Akibat ulah pembajakan oleh PFLP yang merupakan aksi terbesar dan menggemparkan dunia, bukan hanya Israel yang dibuat berang tapi rakyat dunia. Sebanyak 400 orang dari berbagai warga negara di tiga pesawat diancam akan diledakkan jika permintaan mereka tidak dituruti. Aksi ini jelas merupakan tindakan brutal yang tak bisa diterima aka’ sehat. Selain bermaksud membebaskan kawan-kawannya para pembajak, mereka juga berniat untuk memanfaatkan AS, Inggis, dan Swiss sebagai negara yang secara politik bisa menekan Israel. Militer Israel sebenarnya sudah tidak sabar lagi untuk melancarkan serangan komando guna membebaskan para sandera. Tapi Menhan Israel, Moshe Dayan ternyata memiliki keputusan untuk menempuh jalan non militer yang diyakini merupakan cara lebih aman.

Cara yang ditempuh militer Israel adalah menahan sekitar 450 orang Palestina yang memiliki hubungan kerabat dengan teroris PFLP. Operasi penahanan yang berlangsung semalam itu ditujukan untuk mengancam balik para pembajak. Jika mereka melukai para sandera, sanak saudara para teroris yang saat itu berada di tahanan Israel akan terancam.

Jenis pesawat Boeing TWA yang dibajak pejuang Palestina dan suasana Bandara i tengah padang pasir Zarka, Yordania tempat 400 penumpang disandera. Profil pesawat Pan Am yang dibajak dan kemudian dibakar sehingga memicu kemarahan raja Yordania.

Pembajak akhirnya membebaskan semua penumpang tapi sebelum mereka pergi, tiga pesawat yang dibajak langsung dibakar. Aksi pembakaran pesawat itu jelas membuat penguasa Yordania, Raja Hussein murka karena gerilyawan PFLP telah melakukan tindakan seenaknya sendiri di negeri orang. Raja Hussein yang merasa dilecehkan lalu memerintahkan pasukannya, Legiun Arab, untuk membunuh dan mengusir dengan kejam orang-orang Palestina yang berada di perkampungan Yordania.

Tindakan kejam Legiun Arab terhadap orang-orang Palestina yang berlangsung pada 15 September ternyata memunculkan dendam baru. Sejumlah orang Palestina yang berhasil melarikan diri ke Suriah, Lebanon, bahkan Israel akhirnya berhasil membentuk kelompok gerilyawan barn bernama Black September. Sebagai organisasi teroris yang kemudian berhasil membangun jaringan secara internasional Black September pun terus menggalang kemampuan untuk menyerang musuh bebuyutannya, Israel.

Munich Massacre

Hanya dua tahun setelah berdiri, Black September kembali melancarkan serangan spektakuler dengan sasaran orang-orang Israel. Pada 5 September 1972 tujuh anggota Black September meloncati pagar keamanan di perkampungan atlet Olimpiade di Munich, Jerman. Ketujuh penyerang itu mempersenjatai diri dengan senapan serbu AKM, pistol Tokarev, dan sejumlah granat. Dengan gerakan terlatih mereka segera bergerak menuju gang bernama Konnollystrasse 31 tempat menginap atlet Olimpiade Israel. Setelah menguasai gedung mereka segera menyergap para atlet Israel. Setelah melalui perlawanan singkat yang berakibat terbunuhnya dua atlet Israel, sebelas atlet Israel berhasil disandera dan beberapa di antaranya berhasil melarikan diri. Black September segera mengumumkan tuntutannya kepada Israel yang sebenarnya cukup klasik.

Gedung tempat penginapan para atlet Israel saat Olimpiade Munich digelar. Wisma yang berlokasi di Konnollystrasse 31 itu menjadi sasaran teror anggota Black September sehingga memakan banyak korban dan dikenal sebagai peristiwa Munich Masacre.

Mereka meminta agar Israel membebaskan 234 personel Black September yang ditahan. Tak hanya menuntut Israel, Black September juga meminta kepada pemerintah Jerman agar segera membebaskan dua rekan teroris internasionalnya, Ulrike Meinhof dan Andreas Baader dibebaskan dari penjara Jerman. Mereka juga meminta pesawat yang akan digunakan untuk kabur dari Jerman.

Berita penyanderaan di Munich itu segera mengguncang Israel karena Mossad sudah menduga serangan terhadap kontingen Israel sangat mungkin terjadi. Semula Mossad bahkan sudah menyiapkan pengawalan khusus sekaligus mempersenjatai para atlet Israel. Tapi karena pemerintah Jerman menjamin keamanan semua atlet, meskipun sangat kesal, Mossad membatalkan rencananya. Kini Israel merasa kesulitan karena aparat keamanan Jerman yang dianggap kurang pengalaman berniat membebaskan sandera melalui tindakan militer.

Setelah melalui perundingan yang melelahkan dan tak kunjung mencapai hasil pemerintah Jerman akhirnya sepakat untuk mengeluarkan anggota Black September dan tawanannya keluar Jerman. Para penyandera dan tawanannya kemudian dibawa menuju pangkalan udara militer di Munich menggunakan dua helikopter. Setibanya di pangkalan udara Munich sudah menunggu sebuah pesawat Lufthansa yang tampaknya dipersiapkan untuk mengangkut anggota Black September dan tawanannya keluar daft Jerman.

Operasi yang gagal

Pesawat Lufthansa yang menunggu sesungguhnya berisi para aparat keamanan Jerman yang siap melumpuhkan para penyandera sekaligus membebaskan sandera. Sementara itu di sudut-sudut pangkalan udara juga telah bersiaga para penembak jitu yang siap merobohkan para teroris. Ketika helikopter mendarat di pangkalan, empat anggota Black September segera keluar dan menuju ke Lufthansa. Sebagai kelompok teroris yang berpengalaman mereka ingin mengecek dahulu kondisi pesawat dan siapa saja yang berada di dalamnya. Sementara anggota Black September dan para tawanan lainnya tetap bersiaga di dalam helikopter dengan kondisi mesin masih menyala.

Surat kabar dunia seperti The Sun dan The New York Time memasang berita penyanderaan Munich di halaman utama.

Bergeraknya empat anggota Black September menuju Lufthansa sama sekali tak diduga. Aparat kepolisian dan militer Jerman yang kebetulan masih belum pengalaman dalam operasi pelumpuhan teroris menjadi panik dan kurang koordinasi. Penembak jitu yang berada di pinggir pangkalan dan atap bangunan segera melepaskan tembakan tapi karena kurang latihan. tembakan yang dilepaskan meleset. Akibatnnya empat temris yang berada di luar sempat memberikan tembakan balasan sehingga menimbulkan korban jiwa. Keempat teroris Black September itu akhirnya tumbang setelah ditembaki dari berbagai arah.

Sementara itu ketika empat rekannya yang berada di luar ditembaki anggota Black September yang berada di dalam helikopter ternyata tidak panik. Mereka segera berloncatan keluar dan selanjutnya menghancurkan dua helikopter yang berisi para sandera menggunakan granat dan berondongan senapan serbu. Helikopter segera meledak dan menewaskan semua tawanan Israel. Operasi penyelamatan sandera yang dilancarkan aparat keamanan Jerman akhirnya gagal total. Selain semua sandera dan empat anggota Black September tewas, polisi Jerman juga kehilangan salah satu anggotanya. Namun, pihak yang paling terpukul dan malu atas semua kejadian pembantaian itu adalah kepala Mossad, Zwi Zamir. Apalagi saat operasi penyelamatan sandera berlangsung tak ada satu agen Mossad pun yang terlibat. Ketika Zwi Zamir tiba di lokasi bahkan sudah terlambat dan hanya bisa menyaksikan pertempuran sengit yang berakibat pada tewasnya semua atlet sandera Israel.

Balas dendam

Peristiwa pembantaian Munich segera membuat seluruh warga Israel marah besar dan Mossad pun tak mau menanggung malu terlalu lama. Zwi Zamir dan Jenderal Aharon Yariv yang diangkat oleh PM Israel, Golda Meir, sebagai penasihat khusus untuk menangani teroris segera merancang serangan balasan. Operasi balas dendam itu sendiri di kalangan Israel sudah sangat dikenal sebagai Operasi Penuntut Darah. Untuk menghantam langsung para pentolan teroris Palestina, baik Zamir dan Jenderal Yariv tidak lagi menggunakan cara konvensional dengan membombardir perkampungan orang-orang Palestina. Tetapi mereka sepakat untuk melaksanakan serangan balasan dengan target para pimpinan teroris, khususnya para pemegang komandonya. Untuk menghabisi targetnya Mossad telah memegang nama-nama tertentu karena pada dasarnya tokoh-tokoh Black September adalah pemain lama.

Regu-regu pembunuh untuk mencari anggota Black September yang berada di Eropa dan Timur Tengah segera disebar oleh Mossad. Regu pembunuh ini sebenarnya bukan terdiri dari orang-orang kejam melainkan orang-orang terlatih yang biasa melaksanakan penghilangan nyawa secara cerdik. Setelah mempelajari secara cermat siapa raja teroris Palestina yang akan dihabisi, Mossad lalu menyodorkan nama-nama yang dipastikan sebagai pentolan Black September. Nama-nama itu antara lain, Mohammad Yusuf El-Najjar, kepala seluruh gerakan Black September, wakilnya Kemal Adwan, dan Ali Hasan Salameh kepala seluruh operasi Black September, dan tokoh-tokoh penting lainnya. Tapi karena untuk menghabisi para pentolan Black September itu merupakan operasi yang sulit dan perlu waktu, Mossad lalu mengubah taktiknya. Untuk menghantam Black September, Mossad memprioritaskan sasaran yang paling mudah dan bisa memicu efek jera yaitu dengan menyerang markas Black September yang berada di Beirut.

Seorang aparat keamanan Jerman tampak bersiaga dengan senjatanya dalam upaya melaksanakan pembebasan sandera secara militer. Profil salah satu anggota Black September ketika muncul untuk melakukan perundingan. Upaya pembebasan sandera yang kemudian menimbulkan aksi tembak menembak sengit itu gagal dan menewaskan seluruh atlet Israel yang disandera.

Langkah awal Mossad yakni dengan mengirimkan enam personelnya, lima pria dan satu wanita, masuk Beirut menggunakan paspor palsu. Agar tidak mengundang kecurigaan dan karena merupakan operasi rahasia, keenam agen Mossad itu masuk ke Beirut menggunakan pesawat dan berangkat dari tempat yang berbeda. Ketiba sudah tiba di Beirut keenam agen Mossad itu menginap di hotel yang berbeda-beda dan menyamar sebagai pengusaha, konsultan manajemen, turis dan lainnya Namun, dari markas besar Mossad, keenam agen yang telah menyusup ke Beirut itu diinstruksikan sebagai pelancong biasa dan bertugas menghapal semua jalan, pantai Beirut, dan sejumlah nama sopir taksi.

Setelah tugas menghafal jalan dan pantai yang nantinya akan dipakai sebagai tempat pendaratan pasukan komando dan aksi serbuannya, termasuk jalur melarikan diri, keenam agen Mossad juga bertugas memata-matai markas besar PLO, serta apartemen yang digunakan sebagai markas dan gudang senjata oleh Black September. Agar acara kumpul-kumpul para agen Mossad tidak menarik perhatian, mereka menggunakan pantai Beirut sebagai tempat memancing dan berlagak sedang pacaran. Setelah lokasi pendaratan pasukan komando di pantai Beirut dan tempat tinggal para pentolan Black September ditemukan, keenam agen Mossad kemudian mengontak markas besar agar segera dilaksanakan serbuan komando. Untuk melancarkan operasi serbuan komando para agen Mossad juga menyiapkan empat mobil sewaan untuk mengangkut pasukan, menyewa empat rumah untuk menampung pasukan komando yang diperkirakan akan tertinggal, dan logistik lainnya. Untuk mengangkut pasukan setelah usai melakukan serbuan komando disiapkan pula kapal transpor yang disamarkan di lepas pantai Beirut.

Operasi serbuan komando dilancarkan oleh pasukan khusus Israel pada 9 April 1973 pukul 01.30 pagi. Sekitar 30 personel pasukan komando secara diamdiam diturunkan dari helikopter Zodiac di tepi pantai Ramletel Beida, Beirut, sesuai petunjuk yang diberikan oleh agen Mossad. Setelah meloncat ke air laut yang dingin ketiga puluh pasukan komando yang dilengkapi ransel kedap air berisi pakaian dan senjata, bahan peledak, alat pemancar radio dan peralatan lain yang biasa digunakan perampok profesional itu, segera berenang menuju daratan berdasar panduan kilatan lampu mobil. Panduan berupa cahaya lampu mobil itu dioperasikan sepasang agen Mossad yang berpura-pura sedang pacaran. Pasukan komando sesuai instruksi bergerak menuju pantai dalam bentuk regu yang kemudian disambut oleh mobil pengangkut. Tiga menit kemudian mobil kedua tiba dan regu pasukan komando berikutnya segera masuk. Cara mengangkut pasukan komando dalam interval tiga menit sengaja dilakukan agar tidak mengundang kecurigaan Lima belas menit kemudian semua pasukan komando sudah berada dalam mobil transpor sewaan dan bergerak menuju pinggiran kota. Mereka menuju sebuah tempat yang selama ini dipastikan sejumlah anggota Black September tinggal di situ.

Kecoh polisi Lebanon

Berdasar info intelijen yang diberikan Mossad, begitu turun dari mobil transpor pasukan komando Israel segera membentuk formasi serbuan. Sasaran pertama adalah gedung berlantai tujuh tempat tinggal para pentolan anggota PFLP dan sasaran kedua berupa bangunan berlantai empat tempat kediaman pentolan penting Black September seperti Mohammed Yussuf El Najjar, Kamal Nasser, dan Kemal Adwan. Gerakan pasukan komando yang sangat terlatih dan agresif bukan merupakan tandingan para penjaga pintu gerbang yang sedang duduk terkantuk-kantuk. Sebelum mereka bisa mengaktifkan senjata, peluru senapan mesin pasukan komando Israel telah menuntaskan hidup mereka. Sambil melompati mayat para penjaga, pasukan komando.segera menuju sasaran tempat anggota Black September tinggal. Sedangkan sejumlah pasukan komando lainnya mengambil posisi bersiaga di serambi dan siap menyambut serangan lawan yang datang dari luar.

Ketiga pentolan Black September ternyata berada di kamarnya masing-masing. Kamal Nasser yang tinggal di lantai tiga sedang asyik makan saat berondongan peluru senapan serbu menembusi pintu dan kemudian menghajar badannya. Pria lulusan Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Beirut yang kerap menjadi juru bicara PLO itu pun roboh bersimbah darah. Sasaran berikutnya adalah Kemal Adwan. Saat diserang, ia sedang duduk menghadap meja tulis. Tokoh PLO ini selalu siaga dan senantiasa ditemani sepucuk senapan serbu AK-47 di sampingnya hingga mudah dijangkau. Ketika pasukan komando Israel menyerbu sambil mendobrak pintu, Adwan sempat meraih senjata dan siap menembak. Tapi peluru-peluru yang ditembakkan pasukan komando terlebih dahulu menghantam tubuhnya. Pria yang merupakan kepala operasi sabotase di wilayah-wilayah yang masih diduduki oleh pasukan Israel itu pun tewas.

Sasaran ketiga adalah Yusuf El Najjar yang juga dikenal sebagai Abu Yusuf dan merupakan ketua Black September dalam organisasi Al Fatah sekaligus merupakan tokoh nomor tiga di PLO. Karena tinggal bersama keluarganya, pasukan komando terlebih dahulu menembak kunci pintu apartemen dan membidik Najjar yang masih berdiri terpaku. Ketika terjangan peluru senapan mesin dan pistol menghantam tubuhnya, ia langsung roboh tewas. Istrinya yang ada di ruangan sebenarnya bermaksud menghadang tapi tak ada kompromi bagi pasukan komando yang didoktrin menghabisi sasaran bukannya untuk mengasihani. Istri Najjar pun tewas dan roboh di atas tubuh suaminya. Tapi tembakan gencar yang meletus di dalam gedung segera mengundang perhatian tentara PLO yang berada di jalanan. Mereka bergerak menuju gedung sambil melepaskan tembakan serampangan.

Helicopter yang diledakan oleh para terorist Black September

Gerakan pasukan PLO menuju gedung terhenti ketika pasukan komando Israel yang berada di serambi dan dalam posisi terlindung melancarkan tembakan terarah. Sewaktu tembak-menembak sengit sedang berlangsung, agen Mossad segera menelepon kepala polisi Lebanon dan memberi tahu orangorang Palestina sedang saling tembak. Sadar bahwa untuk melerai tembak-menembak itu merupakan tindakan sia-sia, kepala polisi Lebanon langsung menarik anak buahnya untuk tidak turun ke jalan. Dalam kondisi seperti itu pasukan komando Israel pun makin leluasa bergerak. Sejumlah pasukan komando segera memasang peledak di dalam gedung sementara agen Mossad yang terlibat dalam serbuan sibuk mengangkut dokumen yang berada di kamar tiga anggota Black September yang sudah tewas tergeletak.

Sementara itu di gedung lainnya pasukan komando yang menyerbu untuk membunuh siapa saja anggota PLO yang ditemui terlibat pertempuran sengit. Mungkin karena kurang pengalaman tempur di dalam gedung, pasukan PLO yang berada di lantai atas turun ke bawah untuk membantu teman-temannya menggunakan lift. Tapi begitu pintu lift terbuka mereka langsung disergap pasukan komando tanpa bisa memberikan balasan. Dengan cepat dan diam mayat-mayat disingkirkan dari lift disusul masuknya pasukan komando dalam posisi siap menembak. Begitu lift sampai di atas dan terbuka, pasukan PLO yang sedang menunggu belum sempat menyadari kekeliruannya ketika peluru senapan mesin pasukan komando menghujani tubuh mereka.

Bis yang mengangkut sandera atlet Israel ke Bandara

Setelah operasi pembersihan dan pemasangan bahan peledak di semua gedung selesai, pasukan komando terus bergerak untuk menghancurkan gudang logistik Black September. Bona yang dipasang pun meledak merobohkan gedung dan menimbulkan kepanikan yang belum ketahuan ujung pangkalnya. Untuk menghancurkan gudang logistik, pasukan komando sempat menghadapi perlawanan tapi karena personel penjaga logistik hanya sedikit mereka segera bisa dilumpuhkan. Meledaknya gedung PLO dan gudang senjata Black September jelas mengundang tanda tanya bagi polisi Lebanon. Tapi ketika kepala polisi Lebanon mulai berpikir untuk bertindak, agen Mossad kembali menelepon bahwa militer Lebanon akan segera mengirim helikopter untuk meredam kekacauan.

Ketika Mossad menelepon kepala polisi Lebanon tentang pengiriman helikopter, pada saat yang sama agen Mossad lainnya juga mengontak helikopter yang sudah mendarat dan bersiap di tempat tersembunyi di pantai Beirut, untuk datang. Tugas helikopter itu antara lain untuk mengangkut pasukan komando yang gugur atau terluka serta dokumen yang berhasil disita. Penerbangan heli Israel di atas Lebanon pun berlangsung tanpa dicurigai dan sukses mengangkut pasukan yang terluka serta dokumen-dokumen penting milik PLO/Black September. Sementara pasukan komando lainnya dan agen Mossad segera masuk ke mobil menuju pantai Beirut dan kemudian berenang menuju kapal transpor Israel yang sudah menunggu. Polisi Beirut yang kemudian tiba di pantai hanya menemukan mobil-mobil kosong dengan kunci kontak masih menempel. Serbuan pasukan komando Israel terbilang sukses, lebih dari 100 gerilyawan PLO tewas, tiga pentolan Black September berhasil dibunuh, dan sejumlah dokumen penting berhasil disita. Tapi Mossad tetap tidak puas jika belum berhasil membunuh tokoh utama Black September, Ali Hassan Salameh.

Salah sasaran

Meskipun untuk memburu Salameh merupakan tugas sangat sulit, Mossad yang terus mengerahkan daya upayanya akhirnya berhasil mendeteksi keberadaan gembong Black September itu. Berdasar info agen Mossad yang terus disebar, Salameh diketahui sedang berada di Norwegia. Mossad merasa mendapat info berharga karena sejak operasi penumpasan anggota Black September di Beirut baru kali ini keberadaan Salameh diketahui. Mossad lalu mengirim tim sebanyak 14 orang ke Norwegia dengan target secepat mungkin menghabisi Salameh. Seperti biasa, tim Mossad tiba di Norwegia dengan beragam profesi sebagai penyamaran. Kunci untuk menemukan Salameh adalah dengan membuntuti seorang pria bernama Benamane yang diyakini oleh Mossad sebagai kurir Black September dan kerap berkunjung ke Norwegia.

Sebagai tanda belasungkawa atas terbunuhnya para atlet Israel yang disandera oleh Black September, pemerintah Israel mendirikan monumen dan patung untuk menghormati pengorbanan mereka. Monumen peringatan Munich Massacre berdiri di pusat kota yang juga menjadi ibukota Israel. Tel Aviv.

Ketika pada suatu hari Benamane tiba di Oslo, setiap gerak-geriknya selalu dibayangi oleh agen Mossad. Saat yang ditunggu kapan Benamane menemui seseorang yang diyakini sebagai Hassan Salameh akhirnya terjadi. Suatu hari ketika Benamane nongkrong di kedai kopi yang bernama Caroline Café, ia tampak mengobrol dengan dua orang kenalannya. Satu orang bertampang Eropa dan satunya lagi bertampamg Arab. Para agen Mossad yang sedang mengintai terperangah karena orang Arab yang mengobrol di samping Benamane ciri-cirinya sama dengan Hassan Salameh. Penyelidikan agen Mossad pada tahap berikutnya juga makin menambah keyakinan bahwa Hassan Salameh memang sedang berada di kota Lillehammer. Rencana untuk menghabisi pria yang dianggap Hassan Salameh pun digelar.

Operasi untuk membunuh Hassan Salameh dilaksanakan pada pukul 20.00 malam saat Salameh dan teman wanitanya pergi menonton film di bioskop. Tim Mossad dengan sabar menunggu keduanya pulang sambil menimang-nimang pistol Beretta-nya. Ketika Salameh dan pasangannya keluar bioskop pada pukul 22.35 malam, tim Mossad terus membuntuti pasangan yang sedang menumpang bus itu. Jarak antara bioskop dan apartemen Salameh cukup dekat dan hanya perlu waktu lima menit untuk sampai ke tujuan. Jarak dekat itu juga menguntungkan agen Mossad yang terus mengintai karena kemungkinan buruannya lobos sangat kecil. Ketika keduanya turun dari bus dan berjalan menuju apartemen, sebuah mobil sedan Mazda berjalan pelan menuju ke arahnya. Tiba-tiba dua agen Mossad melompat turun sambil menembakkan pistol Beretta ke arah pria Arab yang diyakini sebagai Hassan Salameh. Pria Arab itu langsung terhuyung-huyung terhantam peluru dari penembak terlatih dan kemudian tewas. Tapi tanpa diduga sepuluh menit setelah penembakan sejumlah polisi tiba dan segera melakukan pengejaran. Polisi bahkan sempat mengenali mobil Peugeot yang kabur dan memberi tahu semua unit terkait untuk memeriksa secara cermat mobil jenis Peugeot tersebut.

Dua agen Mossad pelaku penembakan kabur menggunakan dua mobil Mercedes dan Peugeot yang sudah disediakan oleh para agen Mossad lainnya. Ketika mereka sedang kabur, agen Mossad belum menyadari bahwa pria Arab yang ditembak bukan Hassan Salameh melainkan Ahmed Bouchiki, imigran Norwegia asal Maroko yang bekerja sebagai pelayan restoran. Dua puluh empat jam kemudian para agen Mossad menuju Bandara Oslo menggunakan mobil Peugeot. Polisi yang telah disebar, khususnya di Bandara segera mengenali buruannya dan meringkus penumpangnya. Agen Mossad yang beroperasi di Norwegia rupanya kurang pengalaman karena dari agen yang tertangkap di Bandara Oslo, is langsung menunjukkan alamat rumahnya yang sedang dihuni oleh agen-agen Mossad lainnya. Tak berapa lama kemudian polisi Norwegia yang melaksanakan penggerebekan berhasil menahan sebagian agen Mossad. Sedangkan sebagian agen Mossad lainnya berhasil lobos setelah melarikan diri dengan cara tergesa dan sembrono.

Gagalnya operasi Mossad di Norwegia karena salah membunuh orang ditambah sebagian besar agen lainnya berhasil diringkus polisi jelas membuat Mossad dan Israel sangat malu. Upaya pemerintah Israel menekan Norwegia agar membebaskan enam agen Mossad yang ditawan ternyata tidak berhasil. Para agen Mossad yang dikenai tuduhan kriminal dan tindakan spionase itu kemudian diadili dan dipenjara. Mossad terpaksa harus menelan pil pahit akibat operasi yang gagal itu selama bertahun-tahun. Hanya ada satu cara untuk mengobati kegagalan itu, yakni menemukan Hassan Salameh dan membunuhnya. Sebelum Salameh dihabisi, Mossad harus menanggung beban sebagai kambing hitam, karena setiap pembunuhan warga Arab di berbagai negara, Mossad selalu dituduh sebagai pelakunya. Namun, kali ini Mossad sadar akan makin sulit menemukan Salameh karena pentolan Black September itu pasti makin hati-hati dan dikawal super ketat.(win)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: