Marshall, Dulu dan Sekarang

October 24, 2010

Kepulauan Marshall terletak di Pasifik Tengah, membujur dari arah tenggara ke barat laut sepanjang sekitar 1.290 km. Gugusan kepulauan ini terdiri dari dua barisan atol dan pulau-pulau karang. Kedua barisan ini terpisah sekitar 200 km satu dengan lainnya. Jumlah pulau maupun karang permukaan air lebih dari 1.200 buah, dengan luas daratannya hanya 180 km persegi dari total 466.000 km persegi luas kepulauan tersebut. Atol terbesarnya adalah Kwajalein, dan pulau utamanya Jaluit yang memiliki pelabuhan bagus. Ibukota kepulauan ini adalah Darrit-Uliga-Dalap (DUD) yang terletak di Pulau Majuro.

Kepulauan ini ditemukan pelaut-penjelajah Spanyol Alvaro Saavedra pada tahun 1529. Tetapi karena kepulauan yang dihuni pribumi Mikronesia ini dinilai tak memiliki kekayaan alam yang menjanjikan, orang Spanyol pun tidak tertarik. Jerman yang mulai bangkit aspirasinya sebagai kolonialis, tahun 1885 menyatakan Kepulauan Marshall sebagai protektoratnya. Namun Jerman tidak lama menguasainya, karena dengan pecahnya PD I, maka Jepang merebutnya dari tangan Jerman pada tahun 1914. Setelah perang usai, Liga Bangsa-Bangsa memberi mandat kepada Jepang untuk memerintah kepulauan tersebut hingga direbut AS pada Februari 1944.

Read the rest of this entry »


Chester Nimitz

October 24, 2010

Laksamana Chester Nimitz

Laksamana Chester Nimitz merupakan salah satu komandan AL semasa PD II yang disegani. Tak langsung ke AL, karier militer Nimitz justru diawali saat dirinya berusaha bergabung ke akademi pendidikan AD di West Point Keinginan ini gagal dan selanjutnya membuat pria Texas kelahiran 1885 ini banting setir dan melamar ke akademi AL (Naval Academy Class) tahun 1905. Rampung menjalani masa pendidikan, Nimitz pertama kali bertugas di laut di atas kapal perang USS Ohio. Jabatan sebagai komandan kapal diraih di atas gunboat USS Panay. Selesai bertugas pada armada kapal perang atas air , pengalaman Nimitz bertambah dengan mengawaki kapal selam. Hal ini dijalani antara tahun 1907­1918. Setahun berikutnya, la ditunjuk sebagai komandan armada kapal selam AS di Atlantik. Sejak saat itu Nimitz bolak balik ditunjuk untuk menduduki sejumlah posisi strategis di ALAS. Nimitz menjadi pemegang kekuasaan tertinggi AL AS di Pasifik pasca serangan Jepang ke Pearl Harbor. Kombinasi antara naluri defensif dan ofensif jadi kunci keberhasilan Nimitz di Pasifik (avi)


Pendaratan di Roi-Namur (Kepulauan Marshall)

October 24, 2010

Menjelang bertolaknya Amtrac dari LST masing­masing, hujan turun dan mengakibatkan serangan udara terhadap pantai Roi dan Namur terancam dihentikan. Tetapi ternyata pesawat dari kapal induk serta tembakan kapal pe­rang dan peluncuran roket dari kapal-kapal pendarat, tidak hirau terhadap hujan. Meriam dan roket kapal tetap menghantam sasaran hingga menit‑menit terakhir menjelang Amtrac mencapai daratan Roi dan Namur, sedangkan pesawat terus beraksi melindungi hingga sepatu Marinir menginjak pasir pantai.

Marinir mendarat di Roi-Namur (Kep. Marshall)

Pendaratan di pantai Roi tidak menemui banyak perlawanan dari Jepang. Selain sebagai akibat bombardemen berhari-hari sebelumnya, ternyata kekuatan pasukan Jepang tidaklah sebesar yang diperkirakan semula. Pasukan Marinir dengan cepat mendaratkan tank-tank ringan dan medium untuk mendukung serbuan ini. Amtrac yang mendaratkan Marinir ke pantai, juga ikut menerjang masuk ke daratan karena kini telah dipersenjatai dengan meriam dan senapan mesin.

Read the rest of this entry »


Dari Kwajalein Sampai Eniwetok (Kepulauan MARSHALL)

October 24, 2010

Berhasil merebut dua posisi kuat Jepang di Atol Tarawa dan Makin, di Kepulauan Gilbert pada November1943, AS kemudian mengarahkan sasaran berikutnya yaitu Kepulauan Marshall. Sejak menguasainya semasa PD I, Jepang telah menjadikan kepulauan ini sebagai pangkalan udara dan laut yang panting di Pasifik Tengah. Pangkalan ini dibangun di Kwajalein, yang meru­pakan atol terbesar di dunia. Kepulauan Marshall sendiri terletak sekitar 850 km barat laut Gilbert.

Pendaratan di Kepulauan Marshal

Seusai mengua­sai Tarawa, Nimitz dan stafnya langsung merancang invasi terhadap Kepu­lauan Marshall. Mereka ingat betul betapa pesawat pengebom Jepang yang berpangkalan di Atol Kwajalein, telah menghancurkan posisi Amerika di Pulau Wake dan lain-lainnya semasa’awal Perang Pasifik. Akhirnya keluar keputusan bahwa serbuan akan dilancarkan mulai akhir Januari 1944. Sasaran utamanya adalah Kwajalein de­ngan pangkalan utamanya di Pulau Roi dan Namur, yang sebet­ulnya merupakan satu pulau tetapi seperti terpisah dan ditautkan oleh sepotong pantai pasir yang panjang.

Read the rest of this entry »