Sehari Bersama B737


OK PUNYA - Tak terlalu ketinggalan, ltulah kesan penulis ketika diajak mengikuti patroli pesawat 8737-200 2X9 Skadron Udara 5 TN AU. Teknologi surveillance yang diusung oke punya, tinggal pengoptimalan. Diakul kru, beberapa peralatan sudah tidak bisa difungslkan. Akibatnya tentu kepada optimalisasi hasil operasi jadi berkurang.

Terbang dalam misi militer? Mana mungkin, kitakan orang sipil. Tapi itulah yang akan saya alami, ketika diakhir pengarahannya kepada
wartawan, Marsma TNI F. Djoko Poerwoko (waktu itu Kastaf Kohanudnas) mengatakan: “Saudara-saudara akan diajak ikut patroli maritim dengan pesawat intai Boeing 737 Surveillance ke Selat Malaka.” ‘

Ada rasa bangga sekaligus ragu. Betapa tidak, kami di redaksi sudah sangat paham etika mengikuti penerbangan militer. Tidak ada asuaransi, segala kejadian tanggung sendiri! One way ticket, begitu kata pilot-pilot militer. Hari itu dan beberapa hari kemudian ketika mendapat taklimat singkat dari KSAU Marsekal TNI Chappy Hakim, kata-kata itu disampaikan lagi secara verbal.

“Saudara-saudara ragu, masih ada kesempatan untuk kembali,” ujar KSAU saat briefing di VIP room Lanud Halim Perdanakusuma.
Subuh itu, tanggal 26 Maret 2003, saya dan beberapa rekan wartawan dari Kompas, RCTI (juru kamera Fery Santoro yang kini disandera GAM), Metro TV, dan TVRI, sudah berkumpul di base operation Lanud Halim Hari itu sesuai janji, kami akan menjadi saksi mata operasi patroli maritim dengan pesawat B737-200 2X9 Skadron Udara 5 TNI AU.

Namanya juga operasi militer, kehadiran kami juga diset supaya tidak menyolok. Rapi sekali rencana yang disusun TNI AU. Pukul 06.16 Wib, kami diminta bersalin pakaian dengan overall biru, layaknya kru B737. “Biar kalau ada apa-apa kalian dikira kru,” bisik seorang perwira menengah sambil senyum.

Tigapuluh empat menit kemudian, Marsma Poerwoko menggelar briefing singkat. Kami diminta menyepakati aturan main selama terbang. Yang paling membahagiakan saya adalah pernyataan sang jenderal, “Silahkan potret sepuaspuasnya.” Sekitar setengah jam kemudian, KSAU Marsekal Chappy Hakim tiba. Setelah briefing singkat lagi, kami dipersilahkan menuju pesawat. Personel TNI AU yang lalu lalang di base ops, dengan muka terheran-heran menyaksikan keberangkatan kami menuju pesawat.

B737 Surveillance registrasi AI-7303 terpampang di depan mata. Punuk SLAMMR (side looking airborne modular multi-mission radar) diekor pesawat langsung menyita perhatian saya. Kamera pun langsung beraksi, jep… jep… jep….

Puas memotret, kami diminta naik ke pesawat dan mengambil tempat duduk masing-masing. Sebelum menghenyakkan pantat di kursi di kabin depan yang empuk, mata saya menangkap kabin belakang yang lowong. “Ini dia pusat kendalinya nih,” gumam saya dalam hati.

Benar saja, di sisi kanan kabin berjejer lima konsol. Ruang ini disebut mission room. Dari ruang inilah komando dilaksanakan. Sambil mata  menerawang kebelakang, Marsma Poerwoko meminta saya untuk duduk. Pesawat pun meninggalkan Lanud Halim Perdanakusuma. Sekitar 15 menit setelah pesawat mengudara, kami pun mulai beredar.

Ada yang asyik ngobrol dengan kru, ada juga yang mengambil gambar. Setelah dua jam terbang, kami tiba di daerah operasi. Pesawat terbang di ketinggian 30.000 kaki. Km tiba-tiba meminta kami melongok ke jendela. Ternyata sebuah B737 lainnya (AI-3702) terbang beriringan. “Mereka tengah memantau Lhokseumawe,” kata kru tadi. Sempat pula tower Singapura “teriakteriak” di radio karena menangkap dua B737 terbang berbarengan. “Kami keep silence,” ujar Letkol Tamsil Gustari Malik, Komandan Skadron Udara 5 yang langsung memimpin misi.

Saatnya membedah B737 pun tiba. Saya langsung merangsek ke kabin tengah. Di sisi kanan berjejer lima konsol misi. Masuk ke belakang, saya bertemu “juru foto” surveiller, seorang sersan merangkap teknisi. Kami pun hanyut dalam kisahkisah misi surveiller. Dan sersan ini saya tahu, selain mata elektronis, kamera SLR (single lens reflector) juga digunakan. Ada Minolta 500, Nikon F4, Nikon N90s, Agiflite, dan teropong Nikon. Soal lensa, ada satu ukuran 600 mm.

Lagi asyik ngobrol, perwira operasi memanggil. Ia memperlihatkan hasil tangkapan radar. “Titik kecil di layar monitor itu menunjukkan kapal ikan,” jelasnya. Aka mencurigakan, posisi target akan dihitung. Selanjutnya mission commander melaporkan kepada komando darat untuk mendeteksi keberadaan sasaran.

Setelah terbang sekitar tiga jam, kami mendarat di Lanud Pekanbaru. Sekali lagi kami diberi kesempatan sebagai surveiller. Target yang tadi ditentukan, dikejar dengan pesawat NC-212 yang dilengkapi kamera obligue Haseblad dan kamera vertical RMK A. Jangan kira enak. Misi kali ini betulbetul bikin puyeng. Pesawat terbang rendah hingga ketinggian 500 kaki sambil bermanuver. Pintu samping belakang sengaja dibuka untuk juru kamera. Ketika target ditemukan, pesawat terbang makin rendah dan berputar beberapa kali. Dua jam pun berlalu.

Tidak usah malu untuk buka mulut. Sebagian dari kami dibuat pusing bahkan ada yang muntah. “Terbang seperti ini memang bikin pusing, kami dulu juga begitu, ini karena sudah biasa saja,” kata km NC-212 asal Skadron Udara 4. Asal tahu saja, sebelum operasi militer di gelar di NAD, mereka-mereka inilah yang bertugas memetakan posisi pasukan GAM di pedalaman NAD dari udara.

Sore itu juga kami kembali ke Jakarta. Sejuta khayalan bergalau di benak saya. Membayangkan betapa jenuhnya pekerjaan yang hams dituntaskan hingga tak jarang mereka hams terbang 6 jam. Tapi, itulah pengabdian. (beny adrian)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: