A-12/SR-71 Blackbird, Faster Than Bullet


Terkadang kita mamang haurus mengikuti isnting. Ini adalah salah satu solusi agar terindar dari masalah. itulah yang memicu CIA untuk membuat pesawat intai legendaris satu ini:  Blackbird!

adan Intelijen AS (CIA) sudah punya perasaan kalau burung besi mata-mata U-2 Dragon Lady tak bakal lama berjaya. Maklum saja upaya Soviet buat mengembangkan sistem rudal hanud terbilang cepat. Diluar perkiraan para petinggi militer AS.

Jauh sebelum insiden Gary Powers yang menghebohkan itu, CIA sudah berancang-ancang untuk melahirkan pesawat intai generasi penerus U-2. Tepatnya pada tahun 1959 ide ini digelar sebagai sebuah proyek.

Dan sekian banyak pabrikan pesawat yang ada di AS, pada akhirnya hanya dua yang dianggap layak ikutan dalam program ini. Mereka adalah Lockheed Skunk Works dengan Gusto dan Convair yang mengandalkan pesawat intai parasit bertenaga ramjet. Pesawat parasit tadi rencananya akan digendong oleh jet pengebom B-58 Hustler yang telah dirombak habishabisan.

Menyalip peluru

Dua industri dirgantara tadi bertarung. Pada fase final, Skunk Works berhasil menggaet proyek ini. Selanjutnya untuk memenuhi hasrat CIA dan juga kemudian Pentagon maka sekitar selusin prototipe dilansir. Mulai dari A-1 (A kepanjangan Archangel)hingga A-12 yang lantas bersalin kode menjadi SR-71 untuk memenuhi kebutuhan AU AS. Tak hanya nama pesawat saja, label proyek rahasia Skunk Works ini juga berubah menjadi Program Oxcart.

BEREKOR BESAR - Untuk menampung tambahan sensor elektronik serta perangkat pertahanan diri maka ada varian Blackbird yang punya ekor tambahan. Ketika mendarat bagian tadi akan bergerak ke bawah sebesar kurang lebih delapan derajat. Ini merupakan taktik agar parasut tak melilit. Varian Blackbird berekor besar mengusung kode SR-71A (BT)

Bangga bukan main hati sang bos Skunk Works, Kelly Johnson, bisa mendapat order dari pemerintah. Cuma ini bukanlah pertanda mereka bisa berleha-leha. Sebaliknya masa banting tulang sudah dimulai.

Tantangan pertama adalah mewujudkan pesawat yang bisa melaju konstan pada kecepatan Mach 3,2 di ketinggian 90.000 kaki. Artinya, is melesat lebih cepat dari kecepatan sebutir peluru! Bukan main  Jelas ini bukan kendala biasa. Sebagai gambaran. jet eksperimental X-15 hanya mampu menorehkan angka Mach 3 dalam tempo beberapa menit saja. Sementara jet operasional F106 Delta Dart bisa mengantongi angka Mach 2 dalam tempo tak lebih dari 15 menit.

Ganjalan terakhir yang tak kalah hebat adalah urusan panas. Pesawat berkecepatan ekstra cepat di ketinggian supertinggi maka seluruh bagiannya akan diselimuti oleh panas berlebihan. Kalkulasipara ahli Skunk Works menyebutkan, panas yang dialami ujung-ujung sayap akan setara dengan suhu pada ujung solder. Sementara suhu di dalam kokpit membuat Anda bisa memanggang roti didalamnya. So, jangan coba-coba untuk menempelkan tangan ke kaca kokpit lebih dari semenit. Walau sudah berbalut sarung tangan.

Serba spesial

Bukan Kelly Johnson namanya kalau tak punya solusi. Jujur saja, untuk menjabarkan semua solusi problem tadi dalam edisi ini, jelas tak mungkin. Maklum, buku tentang studi kasus yang pernah dirilis di AS saja, tebalnya mencapai tiga inci. Itupun barn tentang masalah dan jalan keluar teknis bagi SR-71 dan derivatnya.

Sebuah SR-71 tampak sedang taxi dari salah satu pangkalan utamanya, Lanud Beale.

Bukan berarti tak ada satupun yang bisa dibeberkan. Toh, bisa dipastikan seluruh bagian pesawat, mulai dari bahan bakar (BBM), sistem pelumasan, mesin, hingga roda pendarat punya problem yang sama. Soal panas yang berlebihan!

Kita mulai saja dari bahan bakar Untuk menangkal panas ekstra jenis bahan bakar yang dipakai adalah tipe JP-7. Beda dengan versi standar yaitu JP 4/5, BBM ini tak mudah mendidih pada suhu tinggi. Selanjutnya dengan mengadopsi sirkulasi mirip dengan sirkulasi darah tubuh manusia, maka JP-7 sekaligus juga merupakan media buat mendinginkan seluruh bagian pesawat.

Rampung urusan BBM, kini giliran menciptakan bagian pesawat yang mesti tembus pandang. Bagian ini vital bagi tiga sistem kamera yang bakal diusung. Namun, tidaklah gampang untuk menciptakan kaca antidistorsi. Apalagi yang tahan dari terpaan panas. Solusi didapat oleh industri lensa, Corning Glass Works & Perkin Elmer. Mereka membuat kaca dengan campuran pasir kuarsa (quartz). Lantas untuk menempatkan kaca pada rangka (frame), cara yang dipakai juga terbilang aneh. Pihak pabrikan memakai gelombang berfrekuensi tinggi. Jadi tak heran kalau hasil temuan ini membutuhkan waktu pengembangan selama tiga tahun plus dana sebesar dua juta dollar AS.

Upaya lain yang terbilang inovatif adalah konsep rancang bangun. Untuk yang satu ini Johnson mengadopsi konsep yang biasa diaplikasikan pada kapal laut. Tekanan udara yang padat serta suhu tinggi dianggapnya sebagai gelombang laut. Alhasil bagian moncong pesawat punya bentuk mirip dengan ujung lambung kapal laut. Bukan itu saja. Mulai dari hidung hingga pangkal sayap utama terdapat bagian yang menyerupai sirip. Ini tak lain merupakan usaha untuk mendongkrak daya angkat dan mengurangi hambatan udara.

Masih berhubungan dengan bodi pesawat. Untuk menangkal panas di sekujur badan Skunk Works mencomot campuran yang terbilang spesial pada masanya. Bodi pesawat memakai panel-panel yang terbuat dari adonan silikon dan asbestos. Dengan cara ini maka tubuh pesawat jadi tahan hingga suhu 550 derajat Farenheit. Tak hanya itu, campuran tadi kabarnya juga mampu menyerap gelombang radar lawan.

Trik spesial pengendalian

Mengendalikan derivat A-12/SR-71 jelas beda dengan pesawat tempur biasa. Singkatnya butuh kelihaian khusus. Terutama ketika pesawat akan mendarat.

TANDEM- Blackbird juga punya saran kursi ganda untuk keperluan latih. Varian ini mengusung kode SR-71B. Sayang, penambahan kursi ternyata membuat stabilitas pesawat terganggu. Kelemahan tadi diatasi dengan tambahan sirip tegak pada mesin.

Kunci agar bisa aman sampai darat adalah kesabaran sang pilot untuk mengurangi ketinggian. Pakem ini mesti dipatuhi. Lantaran bila pesawat diajak turun tibatiba maka ia akan mengalami perubahan suhu yang sangat ekstrem dari panas ke dingin. Semua metal yang dipakai terutama dibagian mesin akan susut mendadak. Kejadian selanjutnya bisa ditebak. Bagianbagian tadi bisa saja saling beradu dengan elemen-elemen penyekat.

Namun kelemahan tadi tidaklah bisa diartikan kalau bagian-bagian tubuh A-12/ SR-71 longgar. Kecepatan Mach 3,2 adalah patokan laju yang dianut. Bila udara di langit tinggi dingin, ia bisa saja dipacu hingga angka 3,6 atau bahkan Mach 4. Tapi sekali lagi aturannya adalah Mach 3,2 di ketinggian 80.000 kaki. Menurut ahli Skunk Works, pada kecepatan dan ketinggian tadi maka seluruh bagian dan sistern pesawat benar-benar pas pada dudukannya masing-masing.

Selain saat mendarat, pilot juga mesti hati-hati ketika mengendalikan A-12/SR-71 pada kecepatan di atas Mach 2. Persoalan ini datangnya dari aliran udara ke mesin yang kelewat besar. Diperkirakan sekitar 100.000 kubik udara masuk ke tiap lubang pasokan udara mesin. Memang untuk mengatasinya Johnson telah mengaplikasikan semacam tudung (spike) pada moncong mesin. Dengan kombinasi pintu pengatur serta corong tambahan maka pasokan udara idealnya bisa diatur sesuai kebutuhan Semua dilakukan dengan bantuan komputer.

Sayang, sistem tadi tak sepenuh bisa bekerja sempurna. Bahkan bisa dikata sering ngadat. Kalau sudah begini, maka efeknya bakal menimpa pada kinerja mesin. ” Terasa ada ledakan dahsyat dibokong pesawat. Lantas disusul dengan guncangan hebat yang bisa membuat kepala membentur kaca kokpit. Anda serasa seperti menabrak tembok, “begitu penuturan Garfield Thomas asal Lockheed Martin.

A-12 atau SR-71?

Tak banyak perbedaan antara sosok SR-71 dengan A-12. Itu kalau disimak dari luar. Tapi bila dibedah lebih dalam maka ada beberapa bagian yang membedakan keduanya.

METAL COLONGAN- Buat menciptakan tubuh SR-71 agar tahan panas maka Johnson mengadopsi Titanium. lronisnya metal ini merupakan barang colongan. Diambil secara ilegal oleh CIA dari Soviet. Lantas diselundupkan agar lolos dari pengamatam bea cukai AS sendiri. Lebih ironis lagi, Soviet sebenarnya adalah produsen Titanium terbesar sejagat.

Poin paling penting adalah jumlah awak yang dibawa. SR-71 mengusung dua orang awak. Awak pertama bertugas sebagai pilot. Sementara sisanya adalah operator pengendali perangkat elektronik intai (RSO-Reconnaissance System Officer). Berbeda dengan SR-71. A-12 hanya mengandalkan satu orang saja untuk semua tugas. Mulai dari mengendalikan laju pesawat hingga perangkat elektroniknya.

Perbedaan tadi mau tak mau juga berbuntut pada kemampuan pesawat. Secara teknis, A-12 lebih agresif ketimbang rekan seperguruannya. Ia bisa terbang lebih tinggi 5.000 kaki, sedikit lebih cepat, serta mampu memotret wilayah tiga kali lebih luas dibanding SR-71.

Bukan impian Johnson untuk menciptakan pesawat kembar beda kemampuan. Dengan bekal insting bisnis, Ia mendesain airframe A-12 sebagai basis bagi varian lain. Mulai dari versi pencegat rudal balistik, yaitu YF-12 atau M-12, sang penggotong drone intai, D-21. Begitulah kira-kira upaya Skunk Works untuk menjawab insting CIA. (avi)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: