Saat Amerika Kehilangan “Vacum Cleaner”


EP-3E Aries yang mengalami kerusakan. Tampak hidung Aries yang rusak sudah dilepas.

Maksud hati “bebersih”, vacuum cleaner malah berpindah tangan. Jadilah Amerika pesakitan memohon-mohon alat andalannya dikembalikan Cina.

Semua negara tahu bagaimana ketatnya pengamanan negara Paman Sam. Jangan coba-coba menjalankan misi pengintaian di wilayah kedaulatannya. Kalau nekat juga, bisa-bisa jadi sasaran. Amerika akan dengan gencar menggalang kekuatan. Apa lagi kalau bukan dengan cara menarik “simpati” negara lain.

Namun sudah bukan rahasia bahwa AS senantiasa menjalankan misi spionase. Bahkan di tengah masa damai. Berbagai peralatan mata-mata canggih jadi andalan. Yang konyol kalau AS tertangkap basah saat tengah melakukan misi pengintaian. Dengan wajah polos, “Paman Sam” akan berkilah misi pengintaian adalah hal yang lumrah.

Adm. Dennis Blair, Homandan Satuan Minter AS di Pasifik, saat memberikan penielasan seal Inside), antara Aries 11 dengan jet F-11Cina. Dengan tegas Blair menyatakan kesalahan di pilot Cina.

Begitu pula saat AS kepergok Cina tengah menjalankan misi pengintaian. Memang wilayah pengintaian yang diintai termasuk wilayah kontroversial. Cina menganggap itu adalah wilayahnya sementara banyak negara lain menganggap itu adalah laut internasional. Pihak manapun yang benar tetap saja menimbulkan gejolak. Apalagi kalau bukan karena kecanggihan teknologi mata-mata AS. Siapa yang bisa menjamin apa yang mungkin didapat AS adalah hak internasional. Bahkan saat pengintaian di wilayah intemasional.

Cerita menjadi panjang karena pesawat tempur yang mencegat pesawat pengintai saling bertabrakan. Pesawat tempur Cina jatuh. Pesawat pengintai AS juga “jatuh” ke tangan Cina.

Peralatan nguping

Tengah asyik menjalani misi pengintaian di atas Laut Cina Selatan, pesawat AL AS EP-3E Aries II dikejutkan dengan kehadiran pesawat jet tempur Cina. Alihalih menghalau pesawat AS, pesawat tempur Cina tersebut malah kebablasan. Alhasil terjadi tabrakan. Pesawat tempur Cina yang jelas-jelas kalah ukuran, jatuh dan pilotnya dinyatakan hilang. Pesawat AS bemasib lebih baik karena berhasil mendarat darurat.

Sementara Cina mencak-mencak kehilangan pesawat tempur dan pilot, AS kebakaran jenggot. Pesawat yang diibaratkan “electronic vacuum cleaner” jatuh ke tangan Cina. Hal ini tentu tidak bisa dihindari karena “vacuum cleaner” itu mendarat darurat di landasan udara Lingshui, selatan Hainan yang notabene wilayah Cina.

Lt. Shawn Osborn memberikan penjelasan setelah berhasil kembali ke tanah airnya. Osborn beserta awak mendapat predikat pahiawan dan dianugerahi Air Medal.

Disebut electronic vacuum cleaner bukan tanpa alasan. Pesawat mata-mata EP-3E Aries II ini dilengkapi peralatan “nguping”, sensor, penerima, dan antena parabola. Kecanggihan peralatan ini mampu melacak radar sekaligus menyadap  komunikasi suara dan satelit. Pendek kata, lalu lintas radio, radar, telepon, e-mail, dan faks dapat disadap habis.

Para pakar menilai peralatan paling sensitif adalah perangkat lunak dan peralatan sandi untuk mengacak kode militer. Peralatan canggih berikut metodenya inilah yang dikhawatirkan bocor ke tangan Cina. Seperti diungkap seorang pengamat militer, Cina dapat mempelajari pesawat. Bukan sekadar data yang berhasil disadap. Yang paling kritis adalah metode rahasia yang digunakan dalam menyadap. Dalam dunia intelijen, yang paling utama adalah apa yang bisa diketahui tentang orang lain. Sama juga dengan Cina yang tentu tidak akan melewatkan kesempatan untuk tahu lebih jauh.

Menurut AS insiden 1 April 3 tahun lalu itu tidak seharusnya terjadi. Karena AS yakin Aries yang tengah menjalankan operasi vacuum cleaner rutin itu sesungguhnya terbang dalam wilayah udara internasional. Sebaliknya Cina mengklaim sebagian besar Laut Cina Selatan adalah wilayah perairan Cina. Beberapa negara yang memanfaatkan wilayah perairan tersebut untuk jalur pengiriman barang juga menolak mentah-mentah klaim Cina.
Cina serta merta menyalahkan AS. Namun komandan satuan militer AS di Pasifik tidak berpikir demikian. Ia pun mengkritik taktik agresif Cina dalam mencegat pesawat AS. “Bukan hal yang normal untuk bermain-main ala born-born car di udara,” kata Adm. Dennis Blair berargumen kepada wartawan di Camp Smith, Honolulu.

DIPERETELI - Si vacuum cleaner yang terpaksa dipereteli agar bisa kembali ke tangan pemiliknya. Aries yang sudah tinggal badan pesawat tengah di atur posisinya agar bisa dimuat ke pesawat yang akan membawa pulang.

Tak cukup saling menyalahkan, kedua negara bersikukuh tahan gengsi. Permintaan Bush kepada Cina untuk mengembalikan pesawat dianggap angin lalu. Begitu juga sebaliknya, Bush keukeuh tak mau memberikan pernyataan maaf yang diharapkan Cina. Bahkan peluang Cina mengorek teknologi mata-mata pesawat Aries tidak cukup melunakkan Bush untuk menyampaikan maaf.

Amerika bukan tak mengkhawatirkan kebocoran teknologii mata-mata Aries. Tapi prosedur pengamanan yang ada dianggap cukup menenangkan. Menurut Pentagon, para awak dilatih untuk menghancurkan informasi berharga apabila pesawat dalam masalah. Prosedurnya, inventarisir peralatan vital yang berharga bagi negara lain Terutama yang dapat mengungkap kemampuan dan keterbatasan AS. Dalam situasi Aries, para awak akan menjalankan rencana penghancuran darurat semaksimal mungkin dalam waktu mendesak.

Dipereteli

Berkurang kekhawatiran soal kebocoran teknologi, masih ada kekhawatiran soal nasib para awak Aries. Berhasil mendarat dengan selamat ternyata tidak berarti bebas. Dengan senang hati Cina menerima ke 24 awak Aries sebagai “tahanan”.

Bagian sayap Aries sedang dilepas.

Meskipun Cina menolak anggapan awak Aries sebagai tahanan, sebagian kalangan hukum menganggap sebaliknya. Memang tidak sebagai tahanan namun “sandera”. Perlakuan baik yang diberikan Cina kepada awak Aries pun terkesan percuma. Meskipun pejabat militer yang menengok para awak sudah memastikan kondisi awak dalam keadaan baik.

Tidak ada tanda-tanda Cina akan mengembalikan Aries berikut awak. Kabar yang beredar bahkan Cina tidak akan melepaskan para awak sebelum pilot Wang Wei berhasil ditemukan. Presiden Cina Jiang Zemin tetap memaksa AS untuk meminta maaf dan menahan kegiatan penerbangan mata-mata di Cina.

Setelah berhari-hari saling tank ulur melempar pernyataan dan tuntutan, akhirnya Cina menerima penyesalan Presiden Bush dan mengumumkan pembebasan awak Aries. Pada 12 April, para awak Aries tiba di Honolulu.

agian sayap Aries sedang dilepas (tengah). Sudah keluar 34.000 dolar AS masih harus mengeluarkan ongkos untuk pemeretelan dan pengangkutan. Saat ekor Aries dilepas.

Menurut awak Aries, F-8 Cina melakukan dua putaran di dekat pesawat AS. Pada putaran ke-tiga, F-8 merangsek terlalu cepat. Sang pilot Cina berusaha memperlambat dengan menaikkan hidung pesawat. Namun temyata sang pilot kehilangan kontrol dan ekor F-8 menyembul di bawah baling-baling nomor 1 Aries. Pesawat F-8 kemudian terbelah dua dan jatuh ke laut.

Sekembali awak Aries, Bush menganugerahkan penghargaan bagi mereka. Dalam upacara di dekat Lanud Andrews, pilot Letnan Shawn Osborn dianugerahi penghargaan paling bergengsi di AL AS, Distinguished Flying Cross. Osborn dianggap sukses berjuang mendaratkan pesawat bermesin empat yang rusak akibat tabrakan. Keduapuluh tiga awak lain menerima Air Medal tanda kepahlawanan. Selain itu Osborn dan awak senior juga menerima Meritorious Service Award.

Awak sudah pulang, tinggal memulangkan pesawat. Cina dengan tegas menolak permintaan AS untuk memperbaiki pesawat dan menerbangkannya kembali. Akhimya dengan berat hati, AS menyetujui untuk mempereteli pesawat Aries dan dikirim pulang dalam potongan-potongan. Mulai 3 Juli 2001, potongan-potongan Aries mulai diangkut menggunakan 2 pesawat kargo Rusia An-124. Kedua pesawat kargo ini membawa potongan Aries dari Pulau Hainan ke Pangkalan AS di Okinawa.

DIPULANGKAN - Rampung urusan pemeretelan, bagian per bagian dari Aries dimuat ke dalam pesawat angkut Rusia An124 dan dipulangkan ke pangkalan Amerika di Okinawa. Tugas pengangkutan diserahkan kepada perusahaan Rusia Polyot Air Cargo Ltd. Sementara tugas pemeretelan diserahi kepada Lockheed Martin yang memproduksi Aries II.

Tidak cukup dengan itu, Cina juga menuntut ganti rugi atas biaya yang dikeluarkan bagi para awak Aries selama dalam “penahanan” Pejabat Departemen Dalam Negeri menganggap tuntutan sebesar 1 juta dolar AS yang diajukan Cina berlebihan. Alhasil, AS mengirimkan cek senilai 34.000 dolar AS. Lumayan besar. Apalagi ditambah dengan ongkos memereteli pesawat yang ditanggung Lockheed Martin.

Meliputi ongkos kontraktor Cina, hotel, sewa kendaraan sebesar 75.000 dolar AS, ruang penyimpan peralatan, dan biaya-biaya lain di Hainan. Tapi AL AS tidak menyebutkan berapa ongkos yang dikeluarkan untuk perusahaan Rusia Polyot Air Cargo Ltd. yang diserahi tugas mengangkut Aries.
Sungguh hukuman mahal bagi AS. (don)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: