Hikayat Nyai Naga (U-2 Dragonlady)


Mau tahu faktor paling dominan buat menciptakan pesawat intai pasca PD II? Jawabnya tak lain adalah ketinggian. Bila sebuah pesawat mampu terbang ekstra tinggi maka ditanggung tak ada yang bisa mengganggunya.

Pada tahun 1953 AU AS berniat untuk memiliki pesawat intai yang bisa terbang tinggi. Sebanyak tiga pabrikan dirgantara menyatakan turut serta dalam sayembara tadi. Mereka adalah Bell dengan X-16, Martin meluncurkan prototipe RB-57, dan terakhir Lockheed dengan CL-282. Malang tak bisa ditampik. Pihak AU sama sekali tak melirik burung besi jagoan Lockheed.

Toh, musibah ini bukan pertanda karir CL-282 habis begitu saja. Diluar AU, diamdiam CIA tertarik dengan basil garapan Lockheed. Ironisnya niat Badan Intelijen AS tadi ternyata merontokkan proyek yang digelar AS. X-16 tak jadi diproduksi. Sementara nasib RB-57 yang sempat masuk dinas operasional AU AS tidaklah lama berjaya. Jiplakan pengebom Canberra itu terbukti kerap mengalami retak pada bagian sayapnya.

Berbasis Starfighter

Untuk mendesain CL-282 para insinyur Lockheed Advanced Development Company (lantas bersalin nama menjadi Skunk Works) memakai basis jet pemburu F-104 Strafighter. Tentu saja dengan perombakan di sana-sini. Perubahan paling kentara adalah pada bagian sayap. Bagian ini terlihat sangat panjang. Perhitungan rasio antara lebar dengan rentang dibuat sedemikian rupa agar hambatan pada ujung-ujung sayap dapat ditekan seminim mungkin.

TERBANG TINGGI - Cobalah terbang setinggi -tingginya. Pasti lawan tak bisa banyak berkutik. Prinsip itulah yang dianut Kelly Johnson ketika meracik U-2 Dragonlady. Teori tadi sempat bertahan selama empat tahun. Sebelum akhirnya sebuah rontok oleh rudal Soviet di atas wilayah udaranya. Lantaran terbang ekstra tinggi awak U-2 butuh pakaian khusus.

Tentu saja keputusan insinyur Lockheed yang dipimpin Kelly Johnson tadi bukan dibuat tanpa alasan. Dengan sosok sayap ekstra panjang maka pesawat bisa diajak terbang tinggi dan jauh. Patokannya adalah terbang di ketinggian 70.000 kaki serta sanggup menjelajah hingga jarak 3.500 mil. Sebagai gambaran, jet-jet tempur Soviet paling top pada waktu itu diperkirakan hanya mampu terbang hingga ketinggian 45.000 kaki saja. Jadi sah-sah saja kalau pakem tadi tidak bisa ditawartawar lagi.

Selain desain sayap ada lagi trik lain untuk menyokong kemampuan CL-282. Taktik yang dimaksud adalah meminimalkan bobot pesawat. Oleh karenanya is hanya diperkenankan mengusung sebuah mesin. Bukan itu saja. Mulai dari lapisan baja, kursi lontar, sistem pengatur tekanan kabin, bahkan juga roda pendarat, semua dilolosi.

Mesin special

Memang mudah menyodorkan teori. Tapi untuk melaksanakannya bisa setengah mati. Sebut saja salah satunya adalah mendesain sayap. Punya rentang hingga 80 kaki. Ini berarti tak ada satupun meja gambar yang bisa memuat desain dan rancangannya. Ganjalan serupa juga datang tatkala desain sampai pada proses cetak biru. Alat yang ada pada waktu itu tak punya kemampuan untuk mencetak gambar untuk benda sepanjang itu.

U-2 tetap dipakai AU AS dalam Operasi Iraqi Freedom.

Urusan ketinggian yang wajib dicapai juga jadi masalah tersendiri ketika merancang mesin. Tenaga yang dihasilkan sebuah mesin pada ketinggian normal akan jauh melorot bila dibandingkan ketika berada diketinggian ekstra tinggi. Sebagai contoh mesin yang tadinya bisa menyemburkan tenaga hingga 10.000 pon hanya akan menghasilkan tenaga tak lebih dari 700 pon saja.

Jelas ganjalan tadi membuat Johnson pusing tujuh keliling. Beruntung pabrikan mesin pesawat kondang, Pratt & Whitney menawari mesin garapannya, J-57. Sayang, dapur pacu yang biasa diadopsi oleh pemburu F-100 Super Sabre dan pengebom B-52 Stratofortress itu jugs bermasalah saat dipakai di ketinggian. Tapi jangan khawatir. Masih ada pilihan lain yang disodorkan. Mesin tipe P-37 terbukti paling pas buat beroperasi pada ketinggian di atas 65.000 kaki. Satu-satunya kelemahan yang ada, mesin akan mudah terbakar ketika pesawat melayang diketinggian sekitar 57.000 kaki.

Mesin yang dibutuhkan terpilih sudah. Hanya saja itu bukan pertanda segala masalah bakal segera berakhir. Sekarang giliran bahan bakar yang ternyata mesti dibuat spesial. Ini dilakukan lantaran BBM JP-4/5 yang biasa dipakai tak cocok di ketinggian Mereka mudah mendidih dan menguap. Solusi didapat ketika perusahaan minyak AS, Shell berhasil meramu BBM khusus berlabel JP-7. Asal tahu saja, untuk memproduksi JP-7, Shell mesti memborong semua persediaan insektisida yang beredar di seantero AS. Efeknya, Negeri Paman Sam mengalami krisis racun hama pada tahun 1955.

Selang makanan

Sejak awal Skunk Works memang merancang pesawat untuk beroperasi dalam waktu yang lama. Konsep tadi tak hanya berpengaruh pada soal teknis. Melainkan juga merembet ke urusan fisik operator. Apalagi bila melihat fasilitas pendukung memang sengaja dibuat minim.

Tanpa adanya sistem pengatur tekanan pada kabin kokpit jelas merupakan problem tersendiri. Lingkungan dengan kondisi minim oksigen memicu sang pilot untuk mengenakan pakaian khusus. Namanya partial-pressure suit. Pakaian hasil garapan David Clark Company of Worcester ini dibuat untuk memproteksi tubuh agar tak kehilangan banyak cairan.

Inovasi tak terhenti sampai disitu. Supaya stamina pilot tetap terjaga disediakan pula kotak logistik. Tapi jangan dulu membayangkan isinya seperti suguhan yang kita makan sehari-hari. Supaya ringkas maka kudapan tadi dibuat dalam bentuk cair. Untuk mengoperasikannya maka sang pilot tinggal memompa sebuah tabung. Selanjutnya, makanan tadi akan mengalir melalui selang menuju helm. Dipercaya teknik suplai logistik di udara macam tadi belum lazim diterapkan pada pesawat jaman itu. CL-282 yang kemudian dilabeli dengan U-2 adalah pionirnya.

Kamera spesial

Bukanlah pekerjaan yang mudah untuk mengendalikan U-2. Bahkan ketika is telah sampai pada patokan operasionalnya yaitu di ketinggian 70.000 kaki dengan kecepatan 400 knot. Alhasil, Johnson merancang U-2 agar bisa bekerja secara otomatik. Terutama bagi kamera pengintai.
Bicara soal kamera U-2 tak bisa lepas dari dua nama maestro optik, Edwin “Din” Land dan James G. Baker. Ditangan keduanya lahir kamera intai berlabel Type B. Tak perlu dulu ke urusan teknis. Lihat saja kemampuannya dulu yang terbilang luar biasa. Kamera ini bisa menangkap gambar benda seukuran bola basket dari ketinggian 13 mil (sekitar 20 km).

TETAP BERKIBAR - Lahir diakhir era 50-an. Bila dihitung-hitung sudah lebih dari 40 tahun 1I-2 dipakai sebagai pesawat mata-mata oleh AS. Sudah itu, tak kurang dari sembilan pesawat berhasil dirontokkan lawan. Toh ini bukanlah pertanda berakhirnya karir pesawat hasil garapan Lockheed Skunk Works. Namanya tetap berkibar dalam konflikkonflik terakhir yang melibatkan AS.

Selain bisa menangkap benda berukuran kecil, kamera Type B tadi juga wajib bisa menghasilakan gambar beresolusi mumpuni. Patokannya begini. Agar berguna untuk pihak intelejen maka foto hams punya resolusi lebih dari 10 kaki. Dibawah angka tadi maka gambar yang dihasilkan tak banyak berguna. Alias buram.

Ganjalan datang lantaran kamera intai yang ada pada waktu itu baru bisa menghasilkan gambar beresolusi antara 20 hingga 25 kaki di ketinggian 11 kilometer (33.000 kaki). Itu artinya bila teknologi tadi diaplikasikan pada U-2 yang melayang diketinggian 70.000 kaki jelas tak banyak manfaatnya. Alhasil mau tak mau Baker mesti bisa merancang kamera dengan kemampuan empat kali lipat dari kamera intai yang ada pada waktu itu.

Segala kerumitan yang disebutkan tadi pada akhirnya memang bisa diatasi. Setidaknya hal ini dibuktikan dengan kesuksesan terbang perdana. U-2 terbang pertama kali pada Bulan Agustus 1955. Kode U merupakan kepanjangan dari Utility (serbaguna). Ini merupakan trik CIA untuk mengelabui tugas sebenarnya yang bakal diemban oleh U-2 sebagai pesawat mata-mata. (avi)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: