Sheffield yang Megah itu Karam


Letnan Peter Walpole, perwira di anjungan HMS Sheffield tercengang sesaat tatkala melihat bintik hitam di horison sebelah barat dengan asap putih bergerak menuju kapalnya.Bintik hitam itu muncul setengah menit setelah perwira radar Letnan Nick Batho melapor bahwa ada pesawat muncul di sebelah barat. Secepat kilat ia mengaktifkan serangan peran serangan rudal, tapi laju sang rudal benar-benar tak tertandingi. Rudal yang tadi masih berjarak sekitar satu mil laut, 5 detik kemudian sudah menembus lambu Sheffield.

4 detik kemuudian, kapal modern yang ironisnya dirancang untuk antiserangan udara itu pun meledak.Perlahan tapi pasti, dinding aluminium kapal habis termakan api dan karam tiga hari kemudian. 21 dari 268 awaknya tewas seketika, sementara 24 orang lainnya cidera.

Inggris benar-benar kecolongan.Kemunculan 2 Super Etendart pelepas rudal itu sebenarnya sempat tertangkap radar kapal perusak HMS Glasgow yang berada pada posisi paling utara. Info yang dikirim ke HMS INvincible, tetapi gagal terkirim karena ada kerusakan sistem alarm pada kapal koordinator perang ini. Glasgow kembali menangkap Super Etendard ketika sedang pop-up (menanjak untuk ancang-ancang melepas rudal) dan melapor ke kapal koordinator, tetapi Invincible lagi-lagi tak bergeming.

Tragisnya sebulan sebelum karam, kapal berikut awak Sheffield baru saja menghirup udara bebas di pangkalan induk di Porstmouth, Inggris dari tugas patroli ke Teluk Aribia. Baru istirahat 4 hari, London menugaskan mereka ke Falkland. Tentu saja tidak ada yang percaya, bahwa tugas ini adalah akhir dari kisahnya. Sheffield adalah kapal perusak tipe 42 bersenjata rudal Sea Dart.Dibangun Januari 1970, berbobot mati 4.100 ton.

Selasa pagi, 4 Mei 1982, pukul 07.50, Sheffield tengah melakukan pemantauan radar di wilayah perairan Falkland pada posisi 70 mil di sebelah tenggara Port Stanley. Kapten kapal sama sekali tidak menyangka, kalau posisinya telah lama dipantau pesawat patroli AL Argentina, P-2 Neptune. Pilot Neptune, Captain EP. Leston langsung mengirim profile sasaran berikut koordinatnya ke 2a Escuadrilla Commando de Aviacion Naval Argentina (markas pembom tempur Super Etendard) di Rio Grande. Untuk itu Kapten Cesar Agusto bersama wingman Letnan Armando Mayora diperintahkan untuk siap-siap merudal.

Haruskah dibatalkan?

Tatkala Cesar Agusto dan Mayora bersiaga, muncul lagi laporan tambahan dari Neptune. Sasarannya ternyata tidak satu, tetapi tiga. Satu besar (HMS Sheffield) dan lainnya medium (HMS Yarmouth dan HMS Arrow).Kedua frigat berlayar berdekatan, sekitar 65 km dari kapal yang lebih besar. Pangkalan Rio Grande pun membuat perkiraan, termasuk memperhitungkan kemampuan radar peringatan dini tipe 42 dari kapal perusak Inggris.

35 menit kemudian, kedua komunikasi dibuka sesaat untuk transfer data koordinat terakhir sasaran dari Neptune.Kondisi cuaca cukup jelek, awan mendung terlalu rendah diliputi hujan dan terkadang salju.Lapisan mendung menghampar 150 meter dari muka laut.Jarak pandang hanya 1000 meteran.Agusto dan Mayora mencari lubang diantara kepekatan awan, lalu menurunkan ketinggian hingga 30 meter dari permukaan laut.

Menurut Agusto, laporan terakhir Neptune menunjukkan kapal-kapal itu berada di sekitar 185 km dari pesawat mereka. Ia pun mengirim sinyal ke Letnan Mayora untuk mengarah ke sasaran paling besar.

Radar Avage terpasang di Super Etendard adalah radar untuk menyerang.Agusto dan Mayora ingat akan instruksi bahwa radar ini hanya boleh dihidupkan beberapa detik agar tak tertangkap sistem elektronik musuh.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: