TOKOH DI BALIK PERTEMPURAN


Meski akhirnya dikalahkan Inggris, peperangan di Malvinas tetap meninggalkan makna yang tak terlupakan bagi kebanyakan rakyat Argentina. Makna yang ditinggalkan boleh jadi mirip dengan kenangan konfrontasi Indonesia-Malaysia (1962-66) bagi rakyat Indonesia. Sebagai bangsa yang sedang dililit berbagai persoalan, berperang menghadapi kekuatan asing seperti mencuatkan semangat untuk bersatu.

Siapa saja yang “merancang” peperangan itu, mari kita sorot lebih dulu tokoh-tokoh Argentina yang berdiri di balik pertikaian  itu. Setelah itu baru beralih ke Inggris. Berikut ini potret mereka.

Jenderal Galtieri dan Kelompoknya

Taktkala Argentina memasuki masa-masa kritis akibat ketidkapuasan rakyatnya terhadap kondisi ekonomi dan sosial politik, pada 1981, di dalam negeri terjadi perubahan cepat. Presiden Jorge Videla yang memimpin junta militer sejak kudeta 1976 kehilangan pamornya. Oleh karenanya pada maret 1981 ia terpaksa menyerahkan kekuasaan kepada rekannya sesama Jenderal, Roberto Eduardo Viola. Namun, Viola kondisi kesehatannya kurang mendukung, akhirnya juuga menyerah. Ia tidak tahan terhadap aksi-aksi jalanan yang dilakukan rakyatnya.

Kepala Staf AD,Jenderal Leopoldo Fortunato Galtieri melihat kesempatan ini untuk mengambil alih kekuasaan. Ia menggalang dukungan dari pimpinan militer lainnya, Laksamana Jorge Issac Anaya. Peralihan kekuasaan berjalan lancarkarena pertalian  diantara keduanya membuat AD dan AL yang selama ini bersaing dalam junta militer, menjadi rukun dan saling mendukung.

Galtieri tampil berkuasa pada saat Amerika Serikat dipimpin Presiden Ronald Reagan- Presiden yang tak terlalu mempersoalkan isu-isu hak azasi manusia. Itu sebab, meski catatan pelanggaran HAM-nya terbilang amat buruk, Washington tetap mengeluselusnya karena bisa dijadikan rekan untuk melawan pengaruh komunis di Amerika Latin. Galtieri adalah andalan AS karena kebetulan  dia juga punya banyak koneksi di Washington. Dia pernah memperdalam ilmu militer di Fort Belvoir, Virginia, AS, tahun 1960.

Di kalangan teman Amerikanya, Galtieri dijuluki ‘Jenderal Patton dari Argentina’, terutama karena kemiripannya dengan aktor terkenal, George C.Scoot, pemeran Patton dalam film yang mengisahkan Jenderal Legendaris dalam perang dunia II itu.

Saat dilantik menjadi Presiden Argentina pada 22 Desember 1981, Galtieri juga diwarisi kondisi perekonomian yang amat buruk.Negara sedang berada di ambang kebangkrutan dengan inflasi yang terjun bebas sampai 150%.Moral rakyatnya sangat traumatis dan labil akibat kebijakan negara yang sangat represif yang diterapkan  oleh penguasa-penguasa junta militer sebelumny

Lami Dozo dan Costa Mendez

Bersama Anaya, Galtieri merancang konsep operasi militer untuk mengalihkan perhatian rakyat yang tak puas sekaligus untuk mengangkat popularitas pemerintahannnya. Untuk maksud tersebut, obyek yang paling menarik adalah Kepulauan Malvinas yang memang telah sirejak lama diperjuangan Argentina berdasarkan alasan Sejarah.

Akhir 1981, kedua tokoh menyepakati operasi terhadap Malvinas, yang kemudian disepakati pula oleh Kepala Staf AU, Brigadir Basilio Lami Dozo, anggota junta paling junior. Salah satu unsur penting yang membuat Galtieri yakin akan rencananya itu adalah hubungan baiknya dengan AS.Ia yakin, Washinghton tidak akan ikut campur atau mengintervensi rencananya.

Kedekatannya dengan AS itu kemudian berhasil meyakinkan Menteri Luar Negeri Nicanor Costa Mendez. Faktor Mendez agak krusial, karena orang sipil inilah yang akan menjadi ujung tombak Argentina dalam perjuangan diplomasi di kancah internasional. Dia adalah diplomat senior, intelektual, nasionalis dan pro Barat, sehingga didukung pula oleh AS.

Dalam hal Malvinas, Galtieri yang emosional itu sebenarnya punya pandangan berbeda dengan Anaya. Galtieri melihat Malvinas sebagai cara potong kompas untuk mengangkat lagi popularitas pewmerintahan militer, yang belakangan ini dinilai semakin negatif dan tidak disukai rakyat.Bahkan di kalangan angkatan bersenjata pun mulai timbul perasaan kurang puas terhadap junta. karena itu Jenderal keturunan imigran Italia ini berpendapat, Junta’suatu kesuksesan yang bisa dimanfaatkan untuk mendongkrak dukungan dan popularitas.

Namun bagi Anaya yang dikenal keras, Malvinas bukan hanya alat politik. Kepulauan ini juga bisa dijadikan sarana alternatif  untuk pembangunan kekuatan angkatan laut, terutama untuk psangkalan di bagian selatan. Anaya menilai pangkalan AL Argentina di Ushuaia yang terletak di Tierra del Fuego di ujung selatan Argentina, tidaklah aman karena terlalu dekat dengan Chile. Kedua negera berseteru memperebutkan beberapa pulau di Selat Beagle.

Mereka pernah meminta jasa baik Vatikan tahun 1979, namun solusi yang ditawarkan Takhta Suci pada tahun 1980 ditolak Argentina.Namun dengan malvinas di tangan Argentina, maka AL bisa leluasa beroperasi di laut Selatan dan bebas daru jangkauan Chile.

Melihat kepentingan AL itu, tak ayal Anaya mendukung Galtieri tatkala dia berambisi menduduki kursi Kepresidenan dengan angan-angan merebut Malvinas dari tangan Inggris. Kebetulan tahun 1983 adalah peringatan 150 tahun pendudukan Inggris atas Kepulauan Falklands. Galtieri dan Anaya ingin kepualauan itu sudah berada di tangan mereka sebelum tahun peringatan tersebut.

Bagaimana dengan anggota Junta ketiga, Brigadir Lami Dozo? Sebagai yang paling yunior, dia tidak dapet menolak ‘rencana berani’ kedua seniornya. Baginya, pengembalian Malvinas ke tangan Argentina secara politis memang sewajarnya, dan karena militer memelurkan aksi terhadap Malvinas, sebagai upaya memulihkan reputasi, Dozo pun mendukung.

Ulur waktu yang fatal
Costa Mendez sendiri sebenarnya juga tidak menyetujui rencana perebutan Malvinas, namun dengan iming-iming dari Galtieri bahwa namanya akan tercantum dalam sejarah sebagai tokoh yang berhasil mengembalikan Malvinas ke haribaan Argentina, Costa Mendez yang nasionalis tak kuasa menampik rencana itu. Dia pun berdiplomasi, berusaha meyakinkan negara-negara lain mengenai perjuangan Argentina melawan kolonialisme-imprealisme di Falklands, sekaligus mencari dukungan internasional.

Namun perhitungan Costa Mendez mengenai reaksi Inggris dan AS terhadap tindakan milter Argentina ternyata keliru. Laporan yang masuk ke mejanya dari jalur intelijen Argentina malah menyesatkan.Karena disitu digambarkan  seolah-olah Inggris tidak akan menanggapi aksi Argentina dengan tindakan militer, negara-negara dunia ketiga di PBB akan berpihak kepada Argentina.
Inggris tidak akan memperoleh cukup dukungan di Dewan Keamanan dan kalau perlu Uni Soviet akan memveto sikap yang mendukung Inggris dan sanksi apapun yang dilancarkan Inggris hanya berjangka pendek dan tidak efektif.

Menyadari kekeliruan ditambah kemudian mengetahui bahwa dia sendiri terjebak oleh Galtieri, yang ternyata memiliki agenda lain dalam invasi Malvinas, Costa Mendez pun kecewa. Namun untuk mengundurkan diri, sudah terlambat. Tatkala peperangan sudah berjalan, dia pun melakaukan langkah yang keliru. Khususnya, tatkala menampik usulan perdamaian dari Peru, yang disampaikan Presiden Belaunde Terry. Seandainya Argentina mau mempertimbangkan  usulan tersebut, kemungkinan penyelesaian konflik
Malvinas tidak akan sefatal seperti kekalahan Argentina dalam perangnya dengan Inggris. Setidaknya muka dan harga diri Argentina masih dapat tertolong.

Penolakan Argentina itu resminya dengan alasan seolah-olah usulan Peru tidak jauh berbeda dengan usulan Menteri Luar Negeri AS, Alexander Haig. Namun di balik itu, sebetulnya Costa Mendez diminta sengaja mengulur waktu agar entina dapat kesempatan membeli persenjataan, khususnya rudal exocet, dari pasar gelap dunia.

Militer Argentina yakin betul, jika mereka memperoleh  lebih banyak rudal
tersebut, maka peperangan akan berakhir dengan kemenangan di pihak mereka. Keyakinan Bounes Aires itu menyusul keberhasilan  pesawatnya mengaramkan kapal perusak Inggris HMS Sheffield dengan Exocet pada 20 April 1982. Banyak pengamat berpendapat, penolakan terhadap usulan Peru adalah langka Menlu Costa Mendez yang paling fatal. Karena dengan
itu dia telah memutuskan nasib pemerintahannya.

Cesar Augusto Bedacarratz
Sore hari sekitar pukul 16.00 waktu setempat tanggal 4 Mei 1982, ruangan briefing di Pangkalan Udara Rio Grande, Argentina dipenuhi perwira pilot tempur. Suasana  paling hening dipecahkan sorak suka cita ketika dari radio terdengar penyiar BBC membacakan berita bahwa serangan rudal Argentina menembus parah kapal HMS Sheffield milik Inggris. Berita diperoleh dari
pengumuman langsung Kementrian Pertahanan Inggris.

Pelakunya adalah Kapten Cesar Augusto Bedacarratz yang dalam sortie didampingi wingman Letnan Armando Mayora. Exocet yang menghajar kapal perusak itu, mereka luncurkan dari pesawat tempur Super Etendard.Karena baru duduk di kokpit pesawat buatan Perancis ini, mereka sebenarnya tak yakin dengan keberhasilan itu. Apalagi beberapa detik setelah melepaskan exocet, mereka langsung berbelok tajam kembali ke pangkalan untuk menghindari kejaran dua sea Harier.

Bedacarratz yang berasal dari skadron AL, 2a Escuadrilla Commando de Aviacion Naval tentu patut diacungi jempol. Terutama karena ia baru membukukan 50 jam terbang di kokpit Super Etendard. Saat menembakkan Exocet, ia pun hanya berbekal tehnik serta taktik penggunaanya selama lebih kurang 20 hari. Tetapi ia berhasil menjalankan pesawatnya dalam senyap, tanpa kontak radio dengan sang wingman. Itu artinya, kedua penerbang memang hanya bisa meraba-raba targetnya.

faktor keberuntungan memsang melekat padanya. Tetapi, rekan-rekannya memuji Bedacarratz sebagai pemberi semangat yang telah melakukannya dengan amat tenang, fokus dan penuh perhitungan. Keberhasilan Bedacarratz serta merta memberi semangat pada  penerbang lainnya  untuk membukukan kemenangasn yang lain. HMS Sheffield yang rusak parag di bagian lambung akhirnya karam tiga harai kemudian.

Bedacarratz dikenal sebagai penerbang yang rendah hati. Tanggal 4 Mei 2002, saat peringatan 20 tahun tenggelamnya kapal HMS Shieffield, ia (dalam usia 58 tahun) menyatakan menyesal dan minta maaf kepada sanak saudara korban yang gugur di kapal ini. al itu memang dilakukannya dalam masa perang. “Tapi itu merupakan kepedihan yang mendalam,” ucapnya dalam wawancara kepada
BBC.

 Mario Manendez
Mayor Jenderal Mario Benjamin Menendez dipercaya menjadi pimpinan tertinggi di Malvinas. Jabatannya Gubernur Islas Malvinas. Jenderal berusia 52 tahun ini adalah panglima Korps Tentara Darat Ke-1 Argentina dan pengangkatannya diumumkan oleh Presiden Galtieri di tengah ektasi kemenangan dengan keberhasilan Argentina menduduki Malvinas.

Sebagai komandan tertinggi di Malvinas, Manendez seperti halnya para pemimpin di Buenos Aires juga kurang memperhitungkan rekasi Inggris. Karena itu sebagian besar anak buahnya yang ditempatkan di Malvinas adalah tentara muda hasil rekrutan yang baru, belum berpengalaman dan kurang disiplin.

Pihak Inggris menilai, keseluruhan sikap dan kampanye Manendez di Malvinas menunjukkan kekuatan pertahanan yang pasif dan setengah hati. Ia sendiri juga melakukan kekeliruan, misalnya Armada Inggris akan mendaratkan pasukan di San Carlos.Dia juga merancang Port Stanley sebagai kubu yang tidak pernah jatuh ke tangan Inggris.Nyatanya, 14 Juni, Manendez tiba-tiba melapor ke Presiden Galtieri bahwa pertempuran frontal di Stanley hanya akan berarti
pembantaian habis-habisan, a total massacre. Dia lebih memilih menyerah. Keputusannya yang dianggap kontroversional sebagai tindakan yang paling masuk akal dan langkah paling berani serta paling tegas dalam peperangan Malvinas.Ironisnya, tak lama setelah turun dari jabatannya sebagai Presiden Galtieri ditangkap atas dakwaan terlibat dalam praktik penghilangan lawan politik dan pentolan sayap kiri yang terkenal dalam sebutan dirty war. Dalam perang kotor ini diperkirakan 9.000 sampai 30.000 orang telah terbunuh.
Galtieri kemudian dikenakan tahanan rumah. Ia tetap menjadi pesakitan di negerinya sendiri sampai ajal merenggut di usia 76 tahun

Margareth Thatcher dan Perwira Inggris

Dua bulan sebelum perang Falkland pecah, kepada anggota Parta Konservatif, PM Margareth  Hilda Thatcher sempat mengatakan  bahwa prajurit royal marine yang ada di Port Stanley mampu menghalau kehadiran tentara Argentina. Tetapi pasukan Argentina betul-betul serius menginvaski Kerpulauan Falkland pada 2 April 1982, tak ada pilihan lain baginya untuk mnegirim pasukan
yang lebih besar. Ia meraih dukungan mutlak dari pemerintah Inggris yang selanjutnya juga memberi peluang untuk memenangkan Pemilui 1983.

Thatcher menunjuk Laksamana sir John Fieldhouse sebagai Panglima Armada Inggris dan Laksamana Muda John Woodward sebagai panglima Satgas untuk perebutan kembali Falkland. Setelah bertempur selama 72 hari, Falkland akhirnya berhasil direbut kembali  oleh Inggris. PM perempuan ini akhirnya menngumumkan kemenangan ini melalui parlemen. Ia menjelaskan, bahwa
temenangan ini juga dimungkinkan atas keberanian Mayjen Jeremy Moore dan pasukannya. Merekalah yang merebut Stanley, kunci
dari kemenangan Inggris secara keseluruhan.

Atas kemenangannya itu, Thatcher dikenal sebagai PM dengan masa jabatan terlama sepanjang dekade. Diantara PM-PM sebelumnya,

Thatcher yang paling sering melakukan perubahan, sehingga untuk itu tindakannya kerap disebut Thatcher Revolution. Perubahan

sosial dan ekonomi yang ia lakukan bahkan meruntuhkan berbagai aspek tatanan terhadap kaum papa.

Sir Jeremy Moore

Kepemimpinannya dalam merebut Falkland, patut diacungkan jempol oleh Perdana Menteri Margareth T Order of Bhatcher. Bahkan

Thatcher tak segan-segan menyebutnya Jewnderal pemberani.Sangking jasanya yang dia raih, Pemerintah Inggris memutuskan untuk

memberikan penghargaan Order of British Empire di tahun 1973 dan enam tahun kemudian dia menjad mayor jenderal. Tatkala

perang Falkland berkobar, Jeremy Moore sering kali menyatakan dirinya sebagai pemimpin pasukan darat. Di bawah kendalinya,

Inggris memenangkan perang Falkland.

Herbert Jones  VC OBE

Satu diantara ratusan korban yang jatuh di pihak Inggris adalah Letkol Herbert Jones. Jones menarik perhatian karena dianggap mewakili sosok pahlawan sejati Inggris yang gugur di Falkland. Namun demikian, penghargaan Victoria Cross  yang diberikan kepadanya, dianggap kontroversional.

Jones merupakan Komandan Batalyon Parrachute Regimen saat Perang Falkland. Batalion yang dipimpinnya diperintahkan untuk menyerang posisi musuh di Darwin, Goose, Green dan sekitarnya.Serangan yang dilancarkan ternyata tak berjalan mulus. Pasukan Argentina sudah bersiap menghadapi serangan yang didukung posisi pasukan yang terlindung di parit. Jones dan pasukannya menerima serangan balik. Korban pun berjatuhan di pihak Inggris.

Berkat Jones dan pasukannya, darwin, Goose dan Green berhasil dibebaskan. Tak lama kemudian, kemenangan ini berlanjut ke wilayah lain. Karena aksinya yang heroik, Jones dianugerahi penghargaan Victory Gross.

Nama Jones tak hanya tercantum di Monumen peringatan bagi mereka yang gugur di pertempuran dekat Darwin, tetapi juga di berbagai monumen peringatan. Termasuk pada monumen peringatan Parachutte Regimen di markas besarnya di Aldershot.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: