Rommel, Si Jago Afrika Itu


AFRIKA KORPS - Para perwira Afrika Korps tengah mengamati bombardir artileri dari garnisun Tobruk. Korps Afrika yang dipimpin Rommel menjadi rumah bagi sebagian besar tentara Nazi.

Nama Jenderal Heins Guderian sebagai Bapak Tank Jerman tidak ada yang menurunkan pamornya hingga akhir tahun 1940. Akan tetapi mulai tahun 1941, nama Jenderal Erwin Rommel mencuat ke permukaan. Srigala Gurun ini mengalahkan pamor semua jenderal perang saat itu. Kiprah Rommel mencapai puncaknya kola diturunkan Hitler di wilayah Libya. Rommel berhasH mengusir balik Inggris, walau dengan akhir yang begitu dramatis.

Ketika pemimpin Fasis Italia Bennito Mussolini menyatakan perang terbuka dengan pihak sekutu pada 10 Juni 1940, ia telah memastikan bahwa di Libya dirinya telah menempatkan sedikitnya 157.000 tentara dari total 1.000.000 personel yang ia miliki di kawasan Afrika. Sementara di Mesir, tetangga Libya, ia pun tahu bahwa Inggris hanya memiliki sekitar 36.000 tentara saja untuk mernaga Terusan Suez dan ladang-ladang minyak milik Arab.

Sebenarnya, keputusan Mussolini untuk menyerang Inggris dan Mesh saat itu dinilai masih terlalu dini. Meski iumlah tentaranya besar, sebenarnya perlengkapan senjata artileri yang dimilik tentara Italia terbilang masih minim. Senjata artileri dan tanknya tidak cukup modem. Moril para tentara Italia saat itu terbilang ielek, lantaran makanan dan barak yang ielek. Dari 14 divisi Italia di Libya, hanva tiza divisi saja yang masih bersemangat untuk berperang. Tiga divisi itu tak lain adalah pasukan Kemeja Hitam, bentukan langsung Mussolini.

Meski demikian, Mussolini tetap pada keputusannya. Ia ingin segera mengusir Inggris dari Mesir. Hal ini terdorong oleh rasa ingin kalah dari sohibnya Adolf Hitler yang pada saat itu bersamaan melancarkan serangan ke wilayah Inggris dengan nama Operasi Seeloewe (Singa Laut). Kalau Hitler saja berani, kenapa saya tidak? Kira-kira begitu pikiran Mussolini.

Keputusan untuk mengusir Inggris secepatnya dari Mesir, ditentang oleh komandan pasukan Marsekal Rudolfo Graziani. Graziani mengatakan kepada sang dewa bahwa tentaranya belum siap. Medan gurun di Afrika butuh perbekalan air yang memadai untuk tentaranya, sementara saat itu moril tentara Italia sedang runtuh. Graziani meminta waktu agak lama untuk melakukan persiapan.

Mengapa cerita invasi pasukan Italia e Mesir untuk mengusir pasukan Inggris ini diutarakan dalam bab Rommel? Tidak lain karena pada saatnya nanti, Rommel iah yang diutus Adolf Hitler untuk kembali memenangkan pertempuran setelah pasukan Graziani nyata-nyata tidak bisa menyerang Inggris. Bahkan sebaliknya dipukul mundur habis oleh Inggris.

Tahanan tentara Italia ketika di kumpulkan di Tunisia tahun 1943.

Kita teruskan sedikit mengenai tentara Italia. Setelali beberapa kali Graziani meminta pengunduran waktu invasi demi persiapan pasukan, akhirnya Bennito Mussolini tak sabar pula dengan kata-kata yang disampaikan Graziani. Pada September 1940, Mussolini mendesak Graziani untuk segera melakukan penyerangan  ke Mesir. Permintaan Mussolini kali ini :idak main-main. Ia bahkan mengancam akan memecat Graziani bila tidak mau melaksanakan titahnya itu.

Akhirnya, pada 13 September 1940, Marsekal Rudolfo Graziani beserta lima divisi pasukannya mulai melancaraka serangan menuju Mesir. Sebelum sampai di jantung Mesir, Graziani mesti menguasai dulu kota-kota perbatasan Libya-Mesir. Seperti kota Musaid, Sollum, Sidi Barani, Matruh, Sidi Otmar, Tobruk dan lainnya.

Pagi hari 13 September, kota Musaid mulai berubah wajah. Tembakan-tembakan senjata artileri memecah kesunyian kota. Setelah itu kota Sollum, hujan tembakan dan debu memekat di sepanjang pemandangan kota. Setelah pemandangan kembali terbuka, tampaklah iring-iringan sepeda motor, tank ringan dan berbagai kendaraan bermotor. Mereka tidak lain adalah tentara Inggris yang mulai mundur teratur dari Sollum. Mereka menarik diri menuju Sidi Barani.

Sidi Barani berhasil dikuasai tentara Italia pada 17 September 1940. Alangkah girangnya Mussolini. Ia begitu yakin bahwa pasukannya yang dikhawatirkan Graziani ternyata memang bisa memukul Inggris hingga Sidi Barani. Tentara Inggris itu kini mundur lagi ke kota Matruh. Tetapi, kegirangan Mussolini tidak berlanjut Graziani mogok melanjutkan serangan menuju Matruh. Padahal, sejatinya Mussolini ingin melakukan serangan jauh hingga ke Yunani. Sebelum ke Yunani, Matruh dan kota-kota lainnya, dalam pandangan Mussolini, harus dihabisi dulu.

Mengapa Graziani mogok? Sudah dijelaskan sebelumnya, sebenarnya kondisi di lapangan amatlah tidak mendukung. Di Sidi Barani, Graziani bermaksud istirahat sambil menunggu kiriman logistik dan senjata baru. Ia amat tidak yakin bila serangan tetap dilanjutkan akan memberikan kemenangan sebagaimana diharapkan Mussolini. Bahkan, dalam pengusiran pasukan Inggris hingga ke kota Matruh pun, pihak Italia sebenarnya mengalami tingkat keguguran prajurit lebih tinggi dari tentara Inggris yang mundur teratur. Tetapi semua tidak digubris oleh sang pemberi perintah, Pemimpin Fasis Bennito Mussolini.

Diserang balik

Keputusan Graziani untuk menunda penyerangan hingga dua bulan ke depan jelas sangat beralasan karena faktor-faktor yang disebut tadi. Graziani berencana melanjutkan penyerangan ke Terusan Suez kira-kira pertengahan Desember. Kesempatan ini nyata-nyata dimanfaatkan Jenderal Inggris bernama Archibald Wavell.

Wavel memanfaatkan situasi lemah pasukan Graziani dengan melakukan penyerangan terlebih dahulu pada tanggal 6 Desember 1940. Wavell melakukan penyerangan hanya menggunakan dua divisi pasukan. Satu diantaranya adalah divisi lapis baja. Sementara di Sidi Barani, Graziani masih memiliki sekitar tujuh divisi.

Meski demikian, dua divisi pasukan Wavell nyatanya lebih kuat dari tujuh divisi yang dimiliki Graziani. Hanya dalam tempo tidak lebih dari tigahari, tentara Italia berhasil didepak oleh pasukan Inggris dibawah pimpinan Wavell. Akibat penyerangan ini lebih dari 38.000 tentara Italia berhasil ditawan Inggris. Sebanyak 237 meriam dan 73 tank ringan dan medium berhasil dirampas. Bagaimana dari pihak Inggris? Tentara tewas hanya 624 orang saja.

Kemenangan Wavell sangat gemilang. Inggris tidak hanya berhasil mengusir Italia dari Mesir, tetapi bahkan memporakporandakan pasukan Italia di basisnya sendiri, Libya. Italia mundur sekitar 800 km dari Mesir. Tepatnya di kota Beda Fomm, Agedabia. Penyerangan Inggris di Libya mulai dilakukan pada 9 Desember 1940 dan berakhir 10 minggu kemudian.

Dua divisi Jenderal Archibald Wavell melawan tujuh divisi dan total 10 divisi pimpinan Marsekal Graziani, adalah prestasi sangat besar. Italia mengalami kerugian pasukan sebanyak 130.000 orang, 380 tank dan 845 pucuk meriam. Sementara dari pihak Inggris, hanya tercatat total kurang dari 2.000 jiwa tewas.

Prestasi mencengankan dicapai Inggris inilah yang kemudian memancing kemarahan Pemimpin Nazi Jerman Adolf Hitler. Hitler benar-benar geram Inggris telah mendepak dan mencincang pasukan Italia keluar dari basisnya sendiri di Afrika Utara.

Bulan Januari ketika Tobruk telah dikuasai Inggris, Adolf Hitler segera memanggil dan mengangkat Jenderal Erwin Rommel memimpin pasukan melawan Inggris di wilayah Afrika Utara. Bagaimanapun, Hitler merasa terhina sekutunya, Italia, diinjakinjak Inggris dengan mudah. Sebaliknya di pihak Italia, Marsekal Graziani mengundurkan diri Februari 1941.

Titah Hitler kepada Rommel inilah yang kemudian makin melambungkan nama Jenderal Erwin Rommel, melebihi kepopuleran semua jenderal Jerman Nazi saat itu.

Rommel diturunkan

Tanggal 12 Februari 1941, tibalah Letnan Jenderal Erwin Rommel di Tripoli, jantung Libya. Inggris di bawah Jenderal Archibald Wavell saat itu tidak meneruskan bombardir pasukan Italia hingga ke Tripoli. Padahal, dengan kondisi morat-marit baik mental maupun fisik dari pasukan Italia, sangat memungkinkan kemenangan diraih terus oleh Inggris. Mengapa serangan Wavell hanya berhenti di Agedabia? Ini pula yang disorot para pengamat militer dunia. Wavell telah melakukan kesalahan fatal.

KEGIGIHAN ROMMEL - Field Marshal Erwin Rommel bersama stafnya dan sebuah rongsokan tank Inggris di El Alamein, Juli 1942. Duel pasukan Rommel dengan Inggris memang alot. Lucunya, pernah kedua pasukan sating menunggu karena keterlambatan logistik dan rencana yang berbeda dari Inggris. PM Churchill sendiri turun tangan untuk "mengurus" pasukan Rommel.

Di Tripoli, Rommel diperkuat oleh Divisi Bermotor Ringan ke-5. Dua bulan kemudian, kekuatan ini diperkuat lagi dengan Divisi Lapis Baja ke-15. Dua divisi inilah embrio khusus yang ditanam Hitler dalam Deutsche Afrika Korps dengan komandan berusia 50 tahun, Jenderal Erwin Rommel

Pengalaman bertempur di medan gurun seperti di Afrika Utara, bagi Rommel adalah hal baru. Bahkan dapat dikatakan is nol pengalaman untuk medan gurun yang tandus, berlumpur kering tanpa persediaan air memadai. Rommel pernah mempin Divisi Panzer ke-5 pada Mei-Juni 1940 di Prancis. Tetapi medannya jelas beda. Saat itu, namanyapun masih kecil dibanding kiprah Guderian yang tiada tara.

Di Tripoli, Rommel tidak langsung menjadi Jenderal besar. Di atasnya masih ada nama Jenderal Italo Garibaldo, pemimpin pasukan Italia di tanah jajahan Libya. Dibawah komando Gariboldi ini pula Rommel bisa mengerahkan pasukan aliansi jerman-Italia.

Sifat dinamis Rommel rupanva bertentangan dengan sifat-sifat orang yang lebih kalem, seperti Jenderal Gariboldi. Rommel jelas saja “gusar” mendapat kendala yang semestinya tidak menghalanginya. Bagi Rommel, untuk melawan pasukan Inggris dibutuhkan senjata dan peralatan perang yang memadai. Lebih dari itu, semangat bertempur lah yang perlu dikobarkan sebesar-besarnya.

Salah duga

Di pihak Inggris, Jenderal Wavell menghitung-hitung, Rommel tentu tidak akan berani melakukan penyerangan sebelum Divisi Lapis Baja ke-15 datang pada bulan Mei. Namun perhitungan Wavell sungguh jauh meleset. Rommel bukanlah tipe jenderal yang mau berdiam
diri lama-lama dan tidak melakukan pertempuran.

I Segera meminta restu kepada Jenderal Gariboldi untuk melakukan serangan. Gariboldi tidak setuju. Tetapi Rommel terus memberikan alasan-alasannya. Dalam perhitungan Rommel, posisi pasukan Inggris saat itu sebenarnya sedang lemah. Ini tidak lain karena Inggris sebenarnya tengah berkonsentras’i untuk menyerbu Yunani. Sehingga, itu sebabnya Jenderal Wavell hanya berani mengusir pasukan Italia sampai di Agedabia saja.

Atas dasar itu, Jenderal Gariboldi memberikan kelonggaran. Namun, rencana penyerangan masih tetap dibatasi hanya sampai daerah-daerah terdekat saja. Rommel segera mengerahkan pasukan. Saat itu, 31 Maret 1941, Rommel menyerang kota Mersa Brega. Benar saja. Pasukan Inggris kocar-kacir dan Mersa Brega seketika pula bisa dikuasai.

Suskes menguasai Mersa Brega, Rommel berniat melanjutkan penyerangan dan pengusiran pasukan Inggris dari seluruh wilayah Cyrenaica. Seperti diketahui, Libya terbagi dalam dua kelompok wilayah besar, yakni Cyrenaica dan Tripoli. Di Cyrenaica itulah pasukan Inggris zguasai wilayah Libya.

Gariboldi protes keras. Ia tidak setuju Rommel melakukan penyerangan hingga wilayah Cyrenaica. Gariboldi mengkhawatirkan nasib tentara Italia dibawah pimpinan Rommel yang dinamis itu akan kembali tertawan oleh pasukan Inggris.

Rommel tentu saja tidak menerima alibi Gariboldi yang dalam pandangannya sungguh pengecut. Rommel pun mengambal sendiri dengan segala konsekwensinya. Jerman di sisi lain, pada saat itu memang tidak bisa memberikan bantaun lebih besar kepada pasukan Rommel. Ini karena Adolf Hitler tengah mengonsentrasikan pikiran dan kekuatan pasukannya untuk melakukan penyerbuan ke wilayah beruang merah, Soviet.

Rommel tidak patah arang. Diserbulah wilayah Cyrenaica yang dikuasai Inggris dengan teknik penyerbuan kilat. Untung pula Rommel memiliki staf yang sejiwa.

Sehingga penyerbuan ke Cyrenaica tidak menimbulkan keragu-raguan di lapangan. Komandan lapangan yang setia pada perintah Rommel itu antara lain Jenderal Streiech, Mayjen Kircheheim, Letkol Graf Schewerin serta Letkol Olbrich. Dibawah bantuan tangantangan mereka pula, rencana Rommel dapat direalisasikan.

Sementara para pimpinan di Tripoli, Roma dan Berlin jelas berang dengan ulah yang dilakukan Rommel Bagi Rommel, semua telah diprediksi. Baginya, untuk melumpuhkan Inggris dari Cyrenaica, tidak bisa hanya dari balik meja di markas komando. Namun dari lapangan di mana is ikut bertempur.

Rommel memang tipologi jenderal lapangan yang dekat dengan pasukan. Baginya, seorang jenderal haruslah berada di tengah-tengah pasukan yang dikerahkannya. Ini adalah bentuk dukungan moril yang benar-benar dibutuhkan tentara saat bertempur.
Dalam melakukan serangan, seperti telah disinggung di atas, Rommel menerapkan taktik serangan kilat. Pergerakan pasukan benar-benar beberapa kali lipat dari pergerakan pasukan Jenderal Wavell mengusir pasukan Italia. Hasilnya luar biasa. Hanya dalam tempo beberapa hari saja, bukan berminggu-minggu seperti dibutuhkan Jenderal Wavell, Rommel berhasil mengusir pasukan Inggris dan menguasai Cyrenaica. Rommell hanya butuh waktu 11 hari, bukan 10 minggu.

AUCHHINLECK - Jenderal Auchinleck pernah merasa ragu ketika diperintah menghadapi Rommel. Padahal ditangannya sudah 500 tank yang dikirimm Churchill hingga akhir Juli 1941.

Dua jenderal Inggris yang bertugas menjaga Cyrenaica dan menjaga Mesir berhasil ditawan pasukan Rommel Masingmasing jenderal Neame dan Jenderal O’Connor. Rommel berhasil menguasai Cyrenaica dan masuk ke perbatasan Mesir. Hanya kota Tobruk lah yang belum berhasil direbutnya. Pasukan Inggris di kota itu berhasil mempertahankan diri. Di perbatasan Mesir, Rommel terpaks a harus istirahat sejenak. Hal ini karena bantuan logistik yang dibutuhkannya terhambat akibat jarak yang ia tempuh sudah terlamp au jauh.
Sementara di pihak Inggris, pada bulan Mei, kemudian Juni datangbantuan senjata baru.

Sebanyak 300 tank dikirimkan Winston Churchill khusus untuk memperkuat pasukan Jenderal Wavell. Anehnya, bantuan ini seperti tidak memberikan makna apa-apa bagi Rommel. Pasukan Jenderal Wavell berhasil dipukul mundur oleh Rommel dan divisinya. Melihat gelagat yang sudah tidak kondusif, Churchill segera memindahtugaskan Wavell dari Mesir ke India. Ia digantikan oleh jenderal baru, yakni Jenderal Claude Auchinleck.

Untuk melawan Rommel, Jenderal Auchinleck mengangkat Letjen Sir Alan Gordon Cunningham yang beroperasi di Afrika Timur dan Abbysinia. Perdana Meriteri Inggris Winston Churchill segera meminta Auchinleck untuk menyerang pasukan Rommel Tanpa dinyana, Jenderal Auchinleck ternyata merasa belum pe-de (percaya diri) dengan 500 tank yang dikirimkan Churchill hingga akhir Juli 1941. Auchinleck masih meminta tambahan 250 tank lagi. Baru setelah itu ia akan melakukan perlawanan pada bulan November.

Dua posisi yang saling menunggu terjadi. Rommel menunggu bantuan logistik di perbatasan Mesir. Sementara Inggris dibawah komando Jenderal Auchinleck baru akan melakukan serangan pada bulan November. Maka, bulan-bulan antara Juli hingga Oktober, tidak ada perubahan berarti di medan Afrika Utara.

Dihancurkan Inggris

Salah satu kelemahan Jerman-Italia dalam mendukung pasukan Rommel di Afrika Utara adalah terputusnya jalur-jalur logistik akibat dihalau dan dihancurkan di tengah jalan oleh Inggris. Jerman pada saat itu memang telah berkonsentrasi pada perang di Soviet. Sehingga banyak pesawatpesawat tempur dan pembom dikerahkan ke sana. Akibatnya, kapal-kapal pembawa logistik dari jalur lautan menjadi makana empuk pasukan Inggris yang mengint dari laut maupun udara.

Barikade meriam artileri berat Jerman di Tunisia. Dengan dua front perang di Afrika Utara, terang saja tentara Jerman kelabakan.

Perhubungan laut Jerman dapat dikatakan sangat lemah. Antara Juli hingga September, tingkat kehancuran logistik yang dibutuhkan Rommel termasuk meningkat. Pada Juli 1941, sekitar 17 persen dari puler kapan perang yang dikirim Jerman mela laut, berhasil ditenggelamkan pasuk Inggris. Bulan Agustus meningkat meningkat menjadi 35 persen, dan September naik lagi menjadi 38 persen. Puluhan ribu ton kapal, puluh ribu senjata, makanan dan perlengkapan hilang sia-sia.

Inggris memang menguasai Malta. Pulau antara Sisilia dan Tunisia ini adalah benteng laut dan udara Inggris antara It dengan Libya.
Puncak penenggelaman kapal logistik untuk pasukan Rommel terjadi tanggal 89 November 1941. Kala itu, tujuh kapal pengangkut yang membawa peralatan tempur untuk pasukan Rommel berhasil ditenggelamkan oleh armada udara dan armada laut Inggris. Padahal, tujuh kapal logistik Jerman saat itu dikawal dua penjelajah berat dan 10 kapal perusak dari Italia.

Satu-satunya balasan yang diberikan Jerman adalah penenggelaman kapal induk Ark Royal oleh U-boat U-81 dan U-205. Saat itu, 13 November 1941, kapal induk pengangkut pesawat Ark Royal tengah berlayar dari Malta menuju Giblartar. Meski demikian, Inggris masih tetap menguasai Laut Tengah dan suplai logistik untuk pasukan Jenderal Rommel terhambat.

Bayangkan saja, dari 60.000 pasukan yang mestinya sampai kepada Rommel, hanya sekitar 8.000 saja yang selamat sampai tujuan: Lemahnya jalur suplai ini pula yang suatu saat kemudian menimbulkan akumulasi kekalahan Jerman di medan perang.

Jenderal pintar

Meski demikian, Erwin Rommel bukanlah jenderal cengeng Minimnya perlengkapan perang dan logistik tidak membuatnya berkecil hati. Baginya, mengusir Inggris dari Mesir adalah tujuan utamanya. Bahkan ia berambisi untuk sampai di Kairo dan Terusan Suez. Bagaimana caranya, apa saja, pikirnya

INVASI ROMMEL - Konvoi inlanteri dan kendaraan lapis baja Korps Afrika dalam invasinya di Libya yang diperintahkan Rommel melaju ke Mesir yang dijaga ketat oleh Inggris. Pertempuran demi pertempuran terus dijalani pasukan Rommel hingga pada satu titik jumlah pasukan dan ranpur yang dimiliki amat sedikit.

Inggris yang bisa dikatakan sangat geram pada Rommel, pemah coba mengambil jalan pintas. Upaya pembunuhan Rommel pun dilaksanakan. Tanggal 17 November 1941, didaratkanlah 30 pasukan komando yang dibawa menggunakan kapal selam dibawah pimpinan Kolonel Laycock. Namun apa daya, temyata upaya itu tidak mempan. Alih-alih bisa membunuh Rommel, malah 28 anggota pasukan komando Inggris itu tewas, kecuali Laycok dan Sersan Terry yang berhasil menyelamatkan diri.

Inggris kemudian mulai melaksanakan penyerangan di wilayah Tobruk yang sebagian telah diduduki pasukan Rommel Di sinilah pertempuran tank terbesar terjadi. Pasukan Inggris mengerahkan 100.000 personel. Demikian juga dengan pasukan Rommel. Bedanya bila Inggris dilengkapi 724 tank, Rommel hanya punya 558 unit saja.

Pertempuran hebat terjadi di sini. Di Tobruk. Lebih seribu tank bertempur. Demikian juga dengan berbagai pesawat dan meriam artileriberdesingmendentum makin membuat kalang kabut medan pertempuran. Perang di Tobruk ini sungguhlah teramat dahsyat. Perang berakhir pada tanggal 23 November 1941 dengan kemenangan di pihak Rommel!

Kembali, nama Jenderal Erwin Rommel melambung ke seantero jagat raya. Dengan modal tank yang lebih sedikit, ia berhasil memenangkan pertempuran. Sebaliknya, Auchinleck dan Cunningham dari Inggris tidakbisa memanfaatkan kelebihan persenjataannya untuk melumpuhkan Rommel Rommel ibarat babi hutan yang tidak terbendung. Ia mengerahkan pasukannya dengan amat cepat dan bertempur dengan tank-tank yang terpadu.

Lain halnya dengan pihak Inggris. Salah satu kelemahan yang menjadi faktor kekalahan itu adalah karena Cunningham tidak menyatukan pasukan tanknya dalam melakukan serangan. Ia memencar-mencarkannya ke berbagai tujuan.

Kekalahan di Tobruk membuat Jenderal Auchinleck marah. Cunningham dipecat. Kedudukannya digantikan oleh Jenderal Ritchie. Pasukan Cunningham yang telah berencana mundur ke Mesir, akhirnya dipaksa bertempur lagi merebut Tobruk. Pasukan Inggris kini diperkuat dengan sebuah brigade lapis baja yang ditarik dari Afrika Selatan. Bantuan serangan inilah yang kemudian membuat pertempuran tidak seimbang. Rommel mulai menyadari kalau pasukannya yang sudah menipis, kini harus menghadapi pasukan yang masih segar dan banyak pula.

Menyadari kekuatannya tidak akan mampu lagi menghadapi pasukan Inggris, Rommel segera mundur. Mundurnya pun tidak tanggung-tanggung, yakni hingga ke Agedabia, tempat dimana setahun lalu ia mulai melakukan serangan. Kondisi moratmarit yang dialami pasukan Rommel memang tidak main-main. Sejak pertempuran di Tobruk hingga mundur ke Agedabia, Rommel hanya menyisakan paling banyak 70 tank saja.

Belum lagi jumlah personel yang tewas atau tertawan musuh. Jumlahnya pun tidak sedikit. Rommel kehilangan sekitar 13.000 tentara Jerman dan 18.000 tentara Italia.

Bantuan dari medan Soviet

Beruntunglah, pada saat terdesak itu, kondisi peperangan di Soviet telah lebih baik dari semula. Sehingga, Hitler segera mengalihkan satu korps angkatan udaranya ke Afrika Utara. Korps udara itu dipimpin oleh Marsekal Kesselring. Kesselring segera membombardir Malta yang meniadi benteng Inggris dan penghambat suplai logistik bagi pasukan Rommel. Hasilnya luar biasa. Jalur logistik Jerman tidak lagi terhambat oleh pasukan Inggris. Mestinya, dulu, Hitler telah melakukan hal ini ketika Rommel mulai mengusir pasukan Inggris dari Cyrenaica. Demikian kata para pengamat.

Jenderal Montgomery

Januari 1942, kondisinya sudah lebih baik bagi Rommel. Pasukannya mulai bertambah dan ia pun mulai menyusun ulang serangan balik ke pihak Inggris. Rommel melakukan pemindahan alutsista barunya itu pada malam hari. Sehingga gerak langkah Rommel benar-benar tidak diduga oleh Inggris.

22 Januari 1942, Rommel mulai melakukan serangan balasan. Agedabia berhasil direbut kembali. Seminggu kemudian, pelabuhan penting di di Afrika Utara juga berhasil dikuasai, termasuk Pelabuhan Benghazi.

Maret 1942, Rommel sengaja terbang ke Jerman guna menemui Hitler. Dikatakannya kepada Sang Fuhrer bahwa ia butuh tambahan pasukan dan alutsistalagi guna masuk ke Mesir. Namun Hitler menolak dengan alasan perang di Rusia belum selesai.

Meski kecewa, Rommel tetap melanjutkan serangannya. Ia masuk ke Tobruk dan bertempur melawan Inggris. Tanggal 21 Juni 1942, Tobruk akhirnya berhasil ia kuasai. Hitler memberi Rommel pangkat tertinggi, yakni Marsekal (Feldmarschall). Namun Hitler tetap tidak memberikan bantuan perseniataan. Akibatnya, ketika pasukan Rommel mulai melintasi perbatasan Libya-Mesir, ia hanya punya 44 tank saja! Padahal tugasnya berat, mengusir tentara Inggris ke-8 hingga Kairo.

Pasukan Inggris terus mundur. Jenderal Auchinleck semakin bingung. Di sisi lain Rommel pun sebenarnya bingung. Bagaimana tidak, pertempuran demi pertempuran terus ia lewati. Dan ini mengakibatkan tank yang tersisa tinggal 26 unit saja. Ia pun tidak didukung kekuatan udara. Padahal di Mesir, Inggris punya beberapa pangkalan udara yang kuat. Jenderal Auchinleck mundur sampai ke El Alamein. Di sinilah awal kehancuran Rommel seiring munculnya bintang baru di jajarat jenderal Inggris, yakni Jenderal Bernad Law Montgomery.

Bantuan tank Amerika

Direbutnya kembali Tobruk oleh Rommel jelas meruntuhkan moril pasukan Inggris. Inilah yang membuat sekutu berat Inggris, yakni Amerika kemudian memberikan bantuan 300 tank Sherman. Tank ini diklaim satu-satunya yang bisa menandingi pasukan panzer Jerman.

Bantuan tank dari Amerika mulai dikirimkan Juli 1942. Sementara Jenderal Auchinleck tidak lama setelah itu dipecat oleh Churchill yang menganggapnya sebagai j enderal lapangan yang tidak becus. Tanggal 8 Agustus Auchinleck diberhentikan. Posisinya digantikan Jenderal Harolds Alexander. Sementara Jenderal Montgomery diangkat untuk menggantikan posisi Tenderal Ritchie yang memimpin pasukan Tentara Inggris ke-8.

Saat tiba di Mesir, Montgomery segera memeriksa pasukan Inggris. Seketika itu pula diketahui bahwa mental pasukan Inggris telah jatuh. Menurut Montgomery, inilah yang menyebabkan kekalahan pasukan Inggris dari pasukan Rommel.

Sama seperti Rommel, Monty panggilan akrab Montgomery, menitik beratkan se mangat berjuang terlebih dahulu kepada pasukannya. Ia menyatakan tidak akan sekali-kali mundur bila Rommel menyerbu. Di sisi lain, Rommel sebenamya makinlemah. Saat pasukannya masuk Mesir, sisa tank yang ia punyai hanya 12-13 unit saja.

Tanggal 30 Agustus 1942 Rommel mulai menyiapkan penyerangan. Dipikirnya sampai kapan lagi harus menunggu bantuan Kalau tidak segera menyerang is akan diserang duluan oleh Montgomery. Pertempuran antara Rommel dengan pasukan Montgomeri pun pecah hingga tanggal 6 September.

Rommel menyerang ke wilayah El Rahman sampai ke El Hemeimat. Pasukan Rommel mendapat pukulan dari matra udara melalui pembom AU Inggris (RAD. Rommel kebingungan, sementara bantuan yang dijanjikan Marsekal Cavallero dari Italia tak kunjung datang.

Pasukan Rommel gagal dalam penyerangan. Tapi Montgomery tidak langsung menghabisinya. Ia mulai menyerang lagi tanggal 23 Oktober 1942. Saat itu jumlah tank Montgomery telah mencapai 1.000 unit. Setengah dari tank tersebut adalah tank Amerika, yakni Sherman dan Grant. Tidak hanya tank, di udara Montgomery juga punya 1.200 pesawat siap tempur. Jelas ini sangat meruntuhkan moril pasukan Rommel yang hanya menyisakan 12 pesawat dan beberapa tank.

Rommel sendiri pada saat terjadinya penyerangan tengah berada dalam perawatan akhir sanatorium di Jerman akibat sakit kuning yang dideritanya selama tiga minggu. Posisi Rommel saat itu dijabat sementara oleh Jenderal Ritter von Thoma. Rommel sudah bertekad untuk kembali ke medan tempur Afrika. Namun, Inggris keburu menyerang pasukannya.

Penyerangan Inggris yang amat dahsyat, ibarat balasan amuk dari Jenderal Montgomery terhadap superioritas Rommel sebe-
lumnya. Mulai saat itulah, untuk pertama kali segenap tentara Korp Afrika pimpinan Rommel mulai merasakan kegetiran luar biasa. Mereka yang gagah berani kini ciut nyalinya menghadapi gempuran pasukan Montgomery.

Rommel berteriak meminta bantuan kepada Italia agar pasukannya segera dikirimi tank dan logistik perang. Naas, bantuan dari Italia kembali kandas di tengah lautan akibat serangan torpedo kapal dan pesawat pembom Inggris. Sehingga jumlah yang mestinya utuh diterima Rommel senantiasa berkurang jumlahnya Pasukan Rommel terus mundur, sementara Montgomery mulai siap-siap menggelar Operasi Supercharge. Yakni operasi membumihanguskan pasukan Rommel di Afrika.

Satu per satu kota di Cyrenaica yang dulu dikuasai Jerman kini mulai berbalik tangan kepada Inggris. Jenderal von Thome berhasil ditawan pasukan Inggris. Sementara Rommel dengan segala kekuatan tersisa, perlahan harus mulai belajar mengakui kehebatan pasukan Montgomery. Di El Alamein, si pejuang julukan Rubah Gurun itu terhuyung-huyung. Sementara nama Montgomery makin mencuat. (ron)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: