Pasukan Darat, Petarung Yang Banyak Menginspirasi


Adalah menjadi kebanggaan bagi kebanyakan pemuda Jerman bergabung dengan Wehrmacht atau Waffen-SS. Di satu sisi mereka tak punya pilihan pekerjaan di tengah peliknya perekonomian Jerman, di sisi lain memang mereka sangat percaya bahwa Nazi lah satu-satunya kunci bagi kehidupan yang lebih baik. Sementara dorongan lain, yaitu sebagai keturunan bangsa petarung, adalah alasan lain yang seperti sudah menyatu dengan darah daging mereka.

Dibawah panji-panji Nazi dan pidato Adolf Hitler yang berapi-api, Wehrmacht dan Waffen-SS melindas satu demi satu negara-negara di Eropa. Akhirnya dari satu perang ke perang lainnya hingga di Afrika Utara, kesatuan-kesatuan ini menjadi kesohor. Mereka jadi teruji dan tangguh menghadapi musuh. Bahkan ada yang sampai dijuluki Divisi Hantu, karena kehadirannya selalu mengejutkan musuh karena nyaris tidak terdeteksi. Padahal divisi ini diperkuat kendaraan lapis baja. Karena itu pula, baik divisi infanteri, kendaraan lapis baja, kesatuan khusus macaw Waff en-SS, Komando Skorzeny dan Brandenburg, antas disebut sebagai pasukan elit. Se jumlah pengamat minter dan jenderal sekutu, mengakui bahwa tentara Jerman Nazi memang pejuang yang tangguh.

Kegigihan prajurit Jerman memang tidak bisa dilepaskan dari mata rantai sejarah yang sangat panjang. Mereka, bangsa Germanic, dari dulu memang sudah ditakuti. Kekaisaran Romawi pemah merasakan susahnya menghadapi Germanic. Baik karena ketangguhan maupun kecerdasan mereka dalam bertempur. Pemah mereka bertempur dengan kamuflase yang luar biasa. Melepas baju dan melaburi tubuh mereka dengan bahan celupan berwarna hitam, coklat dan hijau. Julius Caesar menyebut pasukan fanatik ini sebagai petarung malam.
Kala itu Germanic sudah menerapkan pola bertempur ala pasukan khusus. Berpenampilan ringan (light infantry) dan bertugas hanya mengacaukan konsentrasi pasukan Romawi. Serangan dilakukan tak tentu, siang maupun malam. Karena kelebihan dan bakat berperang ini, akhirnya Romawi memilih jalan tengah dengan berdamai dengan Germanic. Buktinya sepeninggal Octavianus pada 14 Masehi, Kaisar kedua Romawi Tiberius membat alkan seluruh operasi militer di Germania. Romawi makin memahami bahwa ras petarung ini sulit dikalahkan di medan tempur.

Akan lebih berguna merangkul mereka mengalahkan mereka melalui politik tersamar seperti divide and conquer daripada perang terbuka. Selain karena tekanan bangsa Hun dari Asia Tengah dipimpin Attila, tekanan bertubi-tubi dari Germanic Tribes dan lepasnya satu persatu koloni dan protektorat karena invasi dari “bangsa barbar” ini, Romawi akhimya membubarkan dinpada tahun 476. Setelah itulah dikenal masa Dark Ages atau Jahiliyah.

Begitulah bangsa Jerman dalam sejarah. Bertarung seperti sudah bagian dari hidup mereka. Kebesaran inilah yang coba dimanfaatkan Hitler ketika menduduki kursi tertinggi di pemerintahan Jerman. Didukung pasokan dana dari Barat, Hitler berangan membangun imperium yang besar di Eropa. Militernya tidak hanya tangguh di medan perang, tapi juga bertempur dengan perlengkapan yang lebih maju dari jamannya.

Memang invasi Jerman Nazi terhenti dan berakhir dengan kekalahan. Namun dunia militer hingga scat ini tidak bisa berbohong, bahwa banyak dari perlengkapan, persenjataan, seragam dan konsep operasi, diadopsi dari Jerman Nazi. Tak terkecuali konsep pasukan khusus yang buku putihnya berhasil dicuri Inggris pasca kekalahan Jerman. (ben)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: