Membangun Kembali Kejayaan Militer


HEIL HITLER - Naiknya Hitler ke posisi kanselir. langsung membawa pengaruh besar. la mewujudkan impiannya dengan memulai langkah pembangkangan terhadap Traktat Versailles secara terbuka. jiwa kemiliteran pemudanya dibakar lewat pidato-pidatonya. Hitler juga menciptakan salam penghormatan yang terkenal sambil teriakan Heil Hitler

Adolf Hitler sejak mengambil alih kekuasaan di Jerman pada awal 1933, secara terang, terangan maupun dengan diam-diam, berusaha membangkitkan kembali kejayaan militer Jerman yang dikebiri dan dipasung oleh Perjanjian Versailles. Perjanjian 1919 yang dipaksakan sepihak oleh sekutu setelah PD I berakhir, benar-benar melucuti Jerman dari kekuatan militernya.

Jerman pasca PD I juga dikenai kewajiban membayar ganti rugi kepada Inggris dan Prancis dalam jumlah besar sehingga menguras habis keuangannya. Akibatnya menimbulkan kekacauan ekonomi dan berupa inflasi dan stagnasi, yang semuanya ini dimanfaatkan oleh Hitler dan Partai Nazinya untuk menarik simpati rakyat dengan janji dan slogannya untuk membangkitkan lagi kejayaan Jerman Perjanjian Versailles yang didiktekan sekutu untuk meniadakan ancaman Jerman di kemudian hari, kini berbalik dijadikan mesiu bagi Hitler untuk menguasai Jerman. Ia selalu mendengung-kan kebenciannya terhadap “Dictat von Versailles”, pendiktean Versailles.

Masyarakat militeris

Tatkala akhirnya meraih kekuasaan, Hitler pun konsekwen dan berani mengambil risiko, dengan sepihak membatalkan klausul pembayaran ganti rugi dan pembatasan persenjataan terhadap Jerman. Kondisi politik dunia ketika itu juga memberi peluang bagi Hitler untuk melaksanakan niatnya menjayakan kembali Jerman Ketika itu, awal-awal tahun 1930-an dunia melihat bangkitnya komunisme di Rusia, berkuasanya fasisme di Italia, timbulnya perbedaan Inggris dengan Prancis dalam soal pendudukan wilayah Jerman, mundurnya Amerika dari Perjanjian Versailles, serta kondisi ekonomi Jerman yang porak poranda.

Semua peluang itu dimanfaatkan Hitler untuk melaksanakan niatnya membangun kembali kejayaan militer Jerman. Tahun 1935 is pun langsung memberlakukan peraturan baru bahwa berdinas dalam angkatan bersenjata Jerman, Wehrmacht, tidak lagi berdasar kesukarelaan, melainkan kewajiban. Hitler mengetahui bahwa keharusan tersebut tidak akan menimbulkan tentangan, karena is memahami kultur masyarakat Jerman yang mempunyai tradisi sebagai masyarakat disiplin, yang militeris. Kebanyakanrakyat Jerman melihat kewajiban masuk tentara bukanlah sesuatu yang mengganggu kebebasan sipil, melainkan suatu kehormatan. Mereka malah bangga karena boleh dan dapat melaksanakan kewajiban terhadap negara dan bangsanya. Dalam kehidupan sosial, anggota militer pun memperoleh status yang -tinggi di mata masyarakatnya.

Pembangunan kekuatan oleh Hitler juga didasari ideologinya mengenai superioritas ras Arya, yang tidak hanya membenci kaumYahudi yang dianggapnya telah menusuk Jerman dari belakang dalam PD I, juga memandang rendah bangsabangsa lain, termasuk Eropa Timur yang wilayahnya diincar Lebensraum Nazi. Merekaharus ditaklukkan dan diperbudak.

Hermann Goring, salah sate tokoh kunci dalam kebangkitan Jerman lewat partai Nazi.

Sedangkan terhadap Prancis, Hitler memang punya dendam terhadap sikap Prancis yang dianggapnya hegemonis dan melecehkan Jerman setelah berakhimya perang. Hitler juga tidak suka dengan konsep Prancis mengenai kesamaan deraiat antara semua orang (egalite, human equality), termasuk terhadap orang Yahudi. dan Negro. Konsep itu bertentangan apa yang dianut Jerman Nazi perbedaan ras dan keunggulan ras Arya. Kaum Nazi sakit hati ketika Perancis menempatkanpasukannya yang terdiri orang-orang asal Afrika untuk menduduki wilayah tertentu Jerman.

Dan “kitab suci” kaum Nazi, yaitu Mein Kampf karangan Hitler, dengan jelas diketahui ambisi teritorialnya. Ia menyebutkan Jerman perlu tambahan wilayah seluas 500.000 km persegi untuk tahap pertama. Karena dalam PD I Jerman telah kehilangan sekitar 70.000 km persegi wilayahnya, Adolf Hitler pun dalam bukunya menegaskan, bahwa “Batas wilayah Jerman tahun 1914 )sebelum PD I pecah) sama sekali tidak ada artinya bagi masa depan bangsa Jerman!”

Dengan rumusan itu, pemimpin Nazi tersebut jelas menggariskan ambisinya untuk memperluas wilayah Jerman hingga jauh di luar batas-batas wilayahnya sendiri sebelum PD I. Untuk mencapai maksud tersebut, pasti tidak akan melalui perundingan atau kesepakatan dengan bangsabangsa lain yang tanahnya akan dicaploknya. Satu-satunya cara hanyalah merebutnya melalui perang, dan untuk itu kekuatan hams disiapkan terlebih dulu!

Hitler dan militer

Hitler memang tidak menjelaskan luas wilayah bangsa lain yang ingin direbutnya dalam tahap kedua. Ia hanya menyatakan para petani Jerman yang akan menggarap tanah yang direbut itu harus mampu menyiapkan pengadaan jutaan prajurit baru guna penaklukan wilayah selanjutnya. Karena wilayah yang dimaksud adalah Eropa Timur termasuk Rusia, ia pun dari awal sudah memperhitungkan rencananya pasti tercapai apabila tidak timbul penghalang di belakangnya. Karena itu untuk terjaminnya pencaplokan wilayah Eropa di bagian timur, Jerman terlebih dulu harus “membereskan” musuh-musuhnya di barat, baru kemudian berpaling dan menyerang ke timur.

Hanya beberapa hari sesudah Hitler memegang tampuk kekuasaan sebagai kanselir atau PM Jerman, pada 3 Februari 1933 ia memanggil para pimpinan militer Jerman. Kepada mereka, Hitler menjelaskan dengan cukup terinci apa yang selama ini ada dalam benaknya, termasuk langkah untuk membangun kembali suatu angkatan bersenjata Jerman yang besar dan kuat, serta tugas pihak militer untuk mewujudkan cita-cita Lebensraum dengan menaklukkan bangsa-bangsa lain di Eropa. Gayung pun bersambut.

Pihak militer tentu saja senang dengan rencana pembangunan kembali angkatan bersenjata Jerman yang telah dipangkas habis-habisan oleh Versailles. Di sinilah bertemu kepentingan kedua pihak, Hitler dan militer. Dengan iming-iming pembangunan besar-besaran kekuatan militer Jerman, meski dengan risiko melanggar Versailles, pimpinan militer pun mendukung rezim Nazi meskipun mereka sendiri resminya tidak berpolitik. Bahkan banyak di antara para perwira tentara Jerman yang sebetulnya tidak menyukai Nazi, baik ideologis maupun sepak terjangnya.

Di kalangan angkatan bersenjata, hanya pimpinan Luftwaffe atau Angkatan Udara Jerman saja yang merupakan tokoh Nazi, yaitu Hermann Goering. Sedangkan banyak lainnya yang tetap prajurit profesional dan tidak menjadi Nazi, seperti Panglima AD Jenderal Werner Freiherr von Fritsch serta Kepala Staf AD Jenderal Ludwig Beck, sedangkan tatkala perang telah berkecamuk maka dikenal namanama seperti Marsekal Erwin Rommel, Marsekal Erwin von Witzleben, Jenderal Karl-Heinrich von Stulpnagel, Jenderal Hans Speidel, dan lain-lainnya. Di lingkungan AL, tokoh anti-Nazi adalah Laksamana Wilhelm Canaris, pemimpin dinas intelijen militer, Abhwer.

Jenderal seperti Fritsch dan Beck cukup terbuka dalam menentang rencana Hitler memulai peperangan baru demi merebut wilayah orang lain Namun Hitler cukup cerdik untuk mengatasi kemungkinan Pembangkangan dari para jenderalnya, dengan mengharuskan setiap perwira mengangkat sumpah kesetiaan yang mengikat bukan hanya terhadap tanah air Jerman, namun juga terhadap pribadi sang pemimpin, Fuehrer, Hitler sendiri. Sumpah kesetiaan ini merupakan manipulasi Hitler, karena is tahu para perwira Jerman terikat tradisi kaku dalam kode kehormatan terhadap pemimpinnya, sebagai warisan berabad-abad melayani danberbakti kepada raja-raja yang sah.

Sehingga tidaklah mengherankan apabila pimpinan tentara reguler Jerman, Wehrmacht, dibuat tak berdaya dalam dilema mereka. Mereka hams melaksanakan segala perintah Hitler, termasuk invasi terhadap Rusia yang sebetulnya mereka tentang karena merasa belum siap. Hal ini berbeda dengan pasukan bentukan Hitler sendiri yang memang fanatik berideologi Nazi, yaitu SS (Schutzstaffell yang memanz pejah-gesang nderek Hitler atau mati-hi,iu;- sepenuhnya ikut Hitler.

Bukannya tanpa risiko

Selain mengikat loyalitas para perwira militernya, Hitler pun memanipulasi dunia dan rakyatnya sendiri dengan “politik perdamaiannya”. Ia memang memahami politiknya membangun dan mempersenjatai kembali kekuatan militer Jerman demi ambisi wilayahnya, Lebensraum, bukannya tanpa risiko. Dunia pasti bereaksi negatif dan menentangnya, apalagi trauma PD I dengan korban yang begitu besar masih membekas di hampir semua keluarga di Eropa yang kehilangan anggotanya maupun harta bendanya. Ketakutan akan bahaya perang baru juga masih menghinggapi rakyat Jerman, yang setelah perang selesai pun masih harus bergulat dengan resesi dan depresi ekonomi yang berat.

PABRIK U-BOAT - Salah satu mesin perang Hitler yang paling menakutkan adalah kapal selam kecil, U-boat. Foto in, memperlihatkan salah satu pabrik U-boat Atlas Works di Bremen yang dipacu memproduksi kapal selam secara massal. Selain U-boat, dengan dibuatnya kapal perang besar, Jerman melanggar Perjanjian Laut Jerman-Inggris.

Karena itu Hitler dan rezim Nazinya harus dapat menenangkan dunia serta rakyatnya sendiri. Kepada dunia luar, Jerman berusaha meyakinkan sejauh dan selama mungkin mengenai ketiadaan bahaya dari Jerman sampai Hitler merasa siap untuk membuka kedoknya. Yaitu tatkala restrukturisasi dan persenjataan kembali kekuatannya telah rampung dan Jerman siap bersikap menyerang. Untuk menenangkan pihak lain, politik propaganda harus dilancarkan, tak terkecuali dari mulut Hitler sendiri keluar janji dan pernyataan manis yang menyejukkan.

Betapa tidak, misalnya beberapa bulan sesudah berkuasa, ia menegaskan keinginan Jerman untuk hidup bersama secara damai dengan para tetangganya. “Perang hanyalah membawa penderitaan dan kemalangan bagi rakyat,” katanya. “Nazi tidak pernah mengenal politik untuk mengubah perbatasan wilayah dengan merugikan orang-orang lainnya,” demikian Hitler yang terang-terangan berdusta. Kepada rakyat Jerman sendiri, Kanselir Hitler juga menegaskan Jerman tidak akan pernah mencoba menaklukkan bangsabangsa lain yang membencinya, “Karena hal itu hanya akan mengorbankan jutaan rakyat Jerman di medan perang, padahal mereka ini amat bernilai serta kita cintai.”

Dalam situasi dunia yang dibayangi kekhawatiran akan kemungkinan pecahnya perang besar lagi, setiap pertanda atau pernyataan yang menenteramkan dari Berlin, senantiasa disambut gembira dan penuh kelegaan dari negara-negara lain Kondisi psikologis seperti ini diketahui Hitler, sehingga tidaklah mengherankan ketika tangannya sibuk mempersenjatai kembali Jerman secara besar-besaran, dari mulutnya keluar berbagai pernyataan bersemangat perdamaian, serta meyakinkan pihak-pihak luar akan niat baiknya. Begitu fasihnya Hitler akan cara itu, sehingga bahkan sesudah mengeluarkan perintah untuk menginvasi Polandia, ia masih mengirim pesan perdamaian dan persahabatan ke Inggris. Pesan itu tibanya di London bersamaan waktu dengan mulai pecahnya perang.

Selain pernyataan bernada damai, Jerman Nazi pun berusaha meyakinkan dunia dengan mencapai berbagai persetujuan dengan pihak luar, seperti pembaruan Perjanjian Berlin 1926 dengan Uni Soviet, tercapainya konkordat dengan Vatikan, serta deklarasi non-agresi dengan Polandia. Namun semua ini adalah akalakalan Hitler, karena dibalik itu semua ia telah memiliki suatu rencana besar terhadap dunia.

Persenjataan kembali

Prioritas pemerintahan Nazi adalah pembangunan kembali kekuatan militernya, baik secara legal maupun illegal dari sudut ketentuan Versailles. Upaya ini dimulai ketika 1 Oktober 1934 Hitler mengins truksikan peningkatan jumlah pasukan Jerman, dari 100.000 personel sebagaimana ditetapkan oleh Versailles, menjadi 300.000 orang. Hitler juga memberitahu Kastaf Umum Jenderal Ludwig Beck, bahwa pada 1 April 1935 ia akan secara terbuka mencanangkan wajib militer sekaligus mengumumkan tidak terikatnya lagi Jerman dengan Versailles yang membatasi kekuatan militer Jerman.

PABRIK U-BOAT - Salah satu mesin perang Hitler yang paling menakutkan adalah kapal selam kecil, U-boat. Foto in, memperlihatkan salah satu pabrik U-boat Atlas Works di Bremen yang dipacu memproduksi kapal selam secara massal. Selain U-boat, dengan dibuatnya kapal perang besar, Jerman melanggar Perjanjian Laut Jerman-Inggris.

Sebelum itu Jerman terpaksa mematuhi ketentuan tersebut karena merasa tidak berdaya. Bahkan istilah “Staf Umum” yang dilarang oleh Versailles, juga tidak pernah disebut-sebut. Menteri Propaganda Goebbels melarang media Jerman menyebut istilah tersebut, sekalipun diam-diam pemerintahan Nazi membentuk lagi organisasi militer tersebut. Demikianpula penerbitan buku tahunan tentang kepangkatan para perwira serta jabatannya sejak 1933 dihentikan agar tidak diketahui intelijen asing.

Kerahasiaan pembangunan kembali angkatan bersenjata Jerman ini benar-benar dipegang teguh, karena Hitler khawatir jika dilakukan terlalu terbuka akan mendorong negara-negara lain ikut dalam lomba senjata. Maka ia pun sudahberpikirjauh, seandainya ada negara lair’ yang nantinya sempat memiliki persenjataan yang lebih unggul dan sumber daya yang lebih besar, Jerman harus menyerangnya dulu sebelum segalanya menjadi terlalu terlambat. Hitler yang menilai Kekaisaran Jerman terlalu lamban dalam memulai PD I sehingga kehilangan momentum terbaiknya untuk meraih kemenangan, tidak mau mengulangi sejarah itu lagi. Penilaian ini antara lain dinyatakan sejarawan Gerhard Weinberg dalam Germany, Hitler, and World War II ,1995).

Pembangunan kembali kekuatan ini dipimpin dan dipantau Hitler sendiri. Juni 1934 ia memanggil Laksamana Erich Raeder, mengingatkan agar pembuatan kapal selam benar-benar dijaga kerahasiaannya, dan pembangunan dua kapal penjelajah tempur yang masing-masing berbobot 26.000 ton agar dinyatakan hanya 10.000 ton. Dan itu pun berupa kapal lama yang sekadar ditingkatkan kapasitasnya. Menurut ketentuan Versailles, bobot maksimal yang diizinkan adalah 10.000 ton saja. Padahal dalam kenyataannya ka.pal perang yang dimaksudkan ini akan berbobot 31.300 ton, dan akan dikenal dengan nama Scharnhorst dan Gneisenau.

Selain kapal perang permukaan, diamdiam Jerman juga mulai membuat kapal selam (U-boat, Untersee Boat) yang dilarang keras oleh negara-negara pemenang PD I. Laksamana Raeder memperoleh jaminan dari Hitler bahwa soal anggaran tidak perlu dipikirkan, karena prioritas pemerintahannya adalah untuk angkatan bersenjata, termasuk penambahan personel. Jaminan Hitler dibuktikan dengan keputusan tahun 1935 untuk mulai membangun kapal-kapal tempur (battleships) berbobot lebih dari 40.000 ton, yang merupakan pelanggaran langsung terhadap Perjanjian Laut Jerman – Inggris yang tintanya pun belum kering karena baru saja ditandatangani tahun itu juga. Sesudah pelanggaran itu Jerman bahkan menyiapkan pembuatan kapal tempur raksasa berbobot lebih dari 56.000 ton, yang peletakan lungs pertamanya dilakukan menjelang invasi ke Polandia.

Meskipun Hitler dikenal kurang memperhatikan kekuatan laut dibandingkan kekuatan darat dan udaranya, namun apa yang ditempuh dalam peningkatan Kriegsmarine itu jelas terarah untuk menghadapi negara-negara maritim besar, yaitu Inggris, Prancis dan Amerika. Keberadaan kapal tempur terbesar Jerman Bismarck (45.000 ton) pun tidak pernah diketahui oleh Inggris yang kena kibul dalam perjanjian lautnya dengan Jerman. Setelah kapal ini dikaramkan tahun 1941, Inggris baru sepenuhnya menyadari bahwa dari awal Nazi memang tidak pernah menghormati perjanjian tersebut.

Sementara itu Goering yang diserahi Hitler tugas membangun kekuatan udara, meminta para pabrikan untuk segera merancang berbagai pesawat militer baru. Dad pesawat intai, angkut, pemburu, hingga pembom. Maka muncullah jenis-jenis baru pesawat militer Jerman dalam tempo yang relatif singkat, karena pada hakikatnya gambar rancangan itu sudah dikerjakan lama sebelumnya. Resminya ia menjabat sebagai menteri penerbangan, yang tugasnya terutama dalam pem-bangunan penerbangan sipil. Namun dengan efektif ia diamdiam berhasil membangun kekuatan udara, dan para pilot militer pun diproduksinya sebanyak mungkin dengan samaran kegiatan latihan terbang dalam olahraga kedirgantaraan.

Bersamaan dengan itu, industri persenjataan terus ditingkatkan ke-mampuannya untuk menghasilkan senapan, meriam, tank, panser serta berbagai senjata dan kendaraan militer lainnya. Pabrik otomotif yang semula ditugaskan memproduksi mobil untuk rakyat, Volkswagen, diminta mengalihkan produksinya menjadi kendaraan perang. Industri besar seperti Krupp yang memproduksi baja serta IG Farben yang menghasilkan barang kimia, kebanjiran pesanan dari pemerintahnya.

Semua industri, besar-kecil, bekerja dengan kapasitas penuh. Dari mereka keluarlah basil pro duksi berupa tank, truk, meriam, senapan, bahan bakar buatan, karet sintetis dan lain-lainnya. Mereka dengan cepat mampu menyediakan barang yang diperlukan untuk mendukung persenjataan kembali Jerman, karena banyak dari mereka yang sejak lama diamdiam telah membuat cetak biru kapal perang, pesawat terbang, meriam, tank dan lain-lainnya.

Dijajal di Spanyol

Untuk terang-terangan memperlihatkan kepada dunia basil peningkatan dan kehebatan persenjataan kembali itu tentu tidak bijaksana. Karena hal itu akan memancing reaksi dari negara-negara lain. Untuk mengetahui sejauh mana efektivitas dan kemampuan persenjataan barunya, sekaligus untuk memberi pengalaman bagi sebagian anggota angkatan bersenjatanya, Hitler mencobanya di tempat lain, yakni di Spanyol yang sedang dilanda perang saudara hebat (1936-39).

LEGION CONDOR - Spanyol adalah ladang uji coba bagi Hitler untuk menguji mesin-mesin perang yang telah diproduksi pabriknya secara diam-diam. Hitler mengirim armada Luftwaffe untuk mendukung Fransisco Franco. Mereka terkenal dengan sebutan Condor Legion. Sebuah Heinkel He 111 Legiun Condor. Diawal misi, mereka sempat gagal karena malah membom kelompok Nasionalis.

Dalam perang saudara ini, Hitler berpihak kepada Jenderal Fransisco Franco yang melawan pemerintahan Republik yang didukung kaum kiri. Franco yang beraliran nasionalis kanan dan cenderung fasis, didukung persenjataan dan personel Italia dan Jerman Nazi, termasuk kekuatan udara. Sedangkan kaum republik dibantu oleh Stalin dan relawan internasional lainnya. Pesawat dan born-born baru dari Jerman dicobakan di medan perang Spanyol oleh pasukan udara Nazi, yang dikenal dengan nama Legiun Condor. Salah satu babak yang tercatat dalam perang saudara yang kej am dan brutal itu adalah ketika pesawat Jerman menghancurkan kota Guernica Y Luno di Spanyol Utara pada 1937. Pemboman kota dan penduduk inilah yang diabadikan oleh Pablo Picasso dengan lukisannya Guernica (1937) yang sangat terkenal.

Diktator fasis Italia Mussolini dalam perang saudara Spanyol itu memberi bantuan besar kepada Franco, dengan mengirim puluhan ribu pasukannya. Bermula dari kerjasama di Spanyol inilah maka Hitler menjadi lebih dekat dengan Mussolini. sehingga keduanya tahun 1936 sepakat membentuk persekutuan berupa Poros Berlin-Roma. Poros ini terbentuk berdasar kepentingan kedua pihak untuk mengalahkan kaum komunis atau “Bolshevisme”, dan sekaligus menyaingi hegemoni kekuatan Barat khususnya Prancis serta Inggris.

Dan medan perang Spanyol, Hitler menarik keuntungan lain berupa uji-coba persenjataan barunya, pengembangan taktik peperangan dan pengalaman tempur angkatan bersenjatanya secara ril. Per senjataan itu antara lain meliputi beberapa skadron Heinkel 51, Me-109, pembom Ju52 dan lain-lainnya, ditambah beberapa batalion tank, meriam antipesawat 20 mm dan 88 mm, meriam antitank, senapan mesin berat dan lain-lain. Ribuan personel dari berbagai cabang ketentaraan pimpinan Kol. von Thoma dikirim, termasuk penasihat kepolisian dari Gestapo. Dua kapal perang besar, Deutschland dan Admiral Scheer juga ditugaskan ke perairan Spanyol. Kontingen pasukan dan persenjataan Jerman itu baru ditarik pulang setelah Franco menang, dan membuat Hitler semakin yakin akan kemampuannya di bidang kemiliteran.

Militer Harus Tunduk

Sesudah program untuk angkatan bersenjata berjalan baik dan mampu mengatasi reaksi dari negara-negara lain, Hitler makin mengonsolidasikan kekuasaannya atas tentara Jerman yang selama ini punya tradisi sendiri yang kokoh. Hitler menghendaki tentara taat dan tunduk sepenuhnya kepadanya. Militer semata-mata hanya instrumen belaka untuk melaksanakan kemauannya.

Ia menyadari banyak tokoh tentara yang tidak sependapat dengannya, misalnya mengenai konsep Lebensraum karena berisiko memancing pecahnya perang baru. Namun Hitler tak peduli. Ia tetap akan menjadikan Jerman sebagai kekuatan yang disegani, bebas dari trauma dan belitan Versailles, selanjutnya menciptakan Jerman Raya yang meliputi pula Austria, Cekoslowakia, dan Polandia. Dan basis kekuatan di Eropa Tengah dan Timur inilah Nazi akan melancarkan penaklukkannya terhadap Uni Soviet. baik karena pertimbangan ideologis maupun kebutuhan “ruang hidup” bagi bangsa Jerman.

Ia berusaha akinkan para jenderalnya, bahwa Jerman mampu menundukan tanpa harus berperang, cukup dengan gertakan dan unjuk gigi. Hitler membuktikannya dengan memasuki Rhineland pada awal Maret 1936. Wilayah yang dinyatakan sebagai daerah bebas militer oleh Versailles itu diduduki pasukan Jerman tanpa perlawanan dari Prancis-Inggris. Dua tahun kemudian, Maret 1938 Jerman Nazi mencaplok Austria tanpa kekerasan setelah Hitler menekan habis-habisan kanselir Austria, Kurt  von Schuschnigg.

Satu bukti ia tambahkan lagi dengan pencaplokannya Cekoslowakia, meskipun tindakan ini sempat memicu krisis dan permusuhan dengan Inggris-Prancis yang menjamin kedaulatan Cekoslowakia. Krisis ini diawali dengan tuntutan Berlin agar wilayah Sudetenland yang banyak dihuni penduduk orangJerman, diserahkan kepada Jerman.

Akhirnya dengan gertakan, Hitler mampu memaksa PM Inggris Chamberlain dan PM Prancis Daladier mengorbankan Cekoslowakia “demi perdamaian di Eropa”. Lalu membanjirlah pasukan Jerman ke Bohemia dan Moravia pada pertengahan Maret 1939 untuk menduduki seluruh Cekoslowakia. Negeri kecil dan pemberani ini dibuat tak berdaya karena kepengecutan negara-negara Barat penjaminnya Kesabaran negara-negara ini pun ada batasnya, sehingga tatkala Hitler menyerbu Polandia pada 1 September 1939, akhirnya perang terhadap Jerman Nazi pun dideklarasikan. Namun sebelum itu semua terjadi, Hitler telah mengamankan situasi internalnya sendiri, terutama dari kemungkinan tentangan para perwira yang tidak menvukai tindakan agresifnya yang ilmatailuIrakan Jerman.

Dua Aliran

Di kalangan perwira jerman memang timbul dua aliran, yang sangat memuja Hitler dan yang tidak menyukainya. Pemuja Hitler antara lain Jenderal Wilhelm Keitel dan Jenderal Alfred Jodi. Keduanya sejak awal aktif berusaha membentuk struktur komando angkatan bersenjata di lingkungan kementerian peperangan. Usaha ini ditentang panglima dan kepala staf angkatan darat, masing-masing Jenderal von Fritsch dan Jenderal Beck, yang khawatir struktur baru itu akan menyaingi kepemimpinan staf umum angkatan darat.

Kapal Jerman

Kebetulan Fritsch maupun Beck adalah perwira yang kritis terhadap Hitler. Mereka masih berpegang pada tradisi tentara Prussia yang memberi hak pada pimpinan tentara, untuk ikut memberi pertimbangan dalam persoalan yang menyangkut politik strategis. Misalnya mengenai risiko suatu tindakan strategis, penugasan pasukan, dan juga kebijakan luar negeri yang acap memerlukan pendapat dari staf umum angkatan bersenjata.

Sebaliknya para perwira seperti Keitel dan Jodi yang begitu terpesona dengan Hitler, menghendaki militer sepenuhnya sebagai pelaksana murni dari politik Fuehrer. Tidak boleh ada yang mempersoalkan perintah dari Hitler sebagai panglima tertinggi. Hitler juga menginginkan hal itu, sehingga ia mencari kesempatan untuk menyingkirkan para perwira yang dapat menjadi penghalang ambisinya.

Dua korban pertama adalah Menteri Peperangan Jenderal Werner von Blomberg, dengan alasan ia kawin lagi dengan seorang wanita yang tidak pantas menjadi istri perwira Jerman yang terhormat. Korban kedua adalah Jenderal Fritsch yang terkena tuduhanpalsu seolah-olah ia homoseksual. Mereka diberhentikan, diganti oleh perwira lain yang lebih penurut, Walther von Brauchitsch. Maka lapanglah jalan bagi Hitler untk melanjutkan petualangan dengan menyulut peperangan baru di Eropa ! (rb)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: