Era 1945-an Berawal Dari Churen


Membaca dan memahami sejarah TNI AU mampu membuat kita kagum. Pasalnya hanya selang beberapa hari sejak diproklamirkannya Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, segelintir remaja yang pernah mengecap pengalaman terbang bersama AU Belanda, langsung bergerak. Segelintir? Ya, memang segelintir saja, bahkan untuk yang mengantongi kualifikasi penerbang (groot militaire brevet, first class pilot) tidak sampai lima hitungan jari.

Sejumlah siswa penerbangan bersiap dalam sebuah upacara di Maguwo. Yogyakarta tahun 1946 disamping pesawat Churen. Dengan pesawat-pesawat peninggalan Jepang inilah TNI AU memulai fase awal pembangunannya dan mendidik penerbang.

Ada baiknya kita sebut saja di awal tulisan ini. Mereka adalah Agustinus Adisutjipto yang lulusan Militaire Luchtvaart School di Kalijati dan Sambudjo Hurip.

Pesawat Cukiu sedang disiapkan di Maguwo

Namun sesungguhnya hanya satu nama saja yang benar-benar berperan besar sebagai penerbang hingga pasca Kemerdekaan, dan kemudian dengan semangat tinggi mendidik calon penerbang barn guna mengoperasikan AURI yang mulai tumbuh. Sambudjo Hurip gugur di atas Malaya pada tahun 1942, ketika pesawat pembom medium B-10 Glenn Martin yang diterbanginya jatuh dalam sebuah pertempuran udara melawan Mitsubishi A6M Zero (catatan Angkasa: Nakajima Ki-43 Hayabusha ”Oscar”). Alhasil, tersisalah Adisutjipto yang dikemudian hari namanya diabadikan sebagai nama bandara di Yogyakarta.

Menurut data Angkasa, Adisutjipto sesungguhnya juga berasal dari skadron pembom Glenn Martin, namun kemudian pindah ke skadron intai dengan menerbangkan Curtiss CW-22B Falcon dan Lockheed L-12. Kepindahan ini kemungkinan diakibatkan oleh kekhawatiran terhadap serangan Zero dan Oscar Jepang.

Tak lama kemudian BKR dilebur ke dalam Tentara Keamanan Rakyat yang diresmikan pada 5 Oktober. Janin organisasi ketentaraan ini terus tumbuh, sempat berganti nama menjadi Tentara Keselamatan Rakyat, sebelum akhirnya ditingkatkan menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) pada 23 Januari 1946. Dalam fase inilah lahir TRI Angkatan Udara (TRI-AU) berdasarkan Penetapan Pemerintah No 6/50 Tahun 1946 tanggal 9 April.

Proses integrasi di lingkungan ketentaraan belum berhenti. Pemerintah pusat sangat khawatir karena begitu banyak laskar bersenjata, dan satu-sat-unya cara mengendalikan mereka adalah dengan menggabungkan kesemuanya di bawah satu wadah. Sampai akhirnya pada 3 Juni 1947, diresmikanlah berdirinya Tentara Nasional Indonesia dengan pucuk pimpinan merupakan pimpinan kolektif di bawah koordinasi Jenderal Soedirman. Anggotanya terdiri dari Letjen Oerip Soemihardjo, Laksamana Muda M. Nazir, Komodor Udara Suryadi Suryadarma, Mayjen Sutomo, Mayjoe Ir. Sakirman, dan Mayjen Djokosujono.

Suryadarma diketahui menerima perintah pada 1 September dari Soekarno untuk membidani sebuah angkatan udara. Sebuah mission impossible. Mengingat sejak kemerdekaan, Indonesia hanya memiliki satu orang pilot berkualifikasi multiengine rating, itupun sudah tiga setengah tahun tidak terbang terhitung sejak pen­dudukan Jepang.

Liarnya Churen

Masa transisi dari Jepang ke Indonesia memang berlangsung cepat. Di lingkungan BKR dan kemudian menjadi TKR Oedara, gerak cepat segera diambil oleh beberapa orang. Pangkalan-pangkalan yang berhasil direbut, kemudian diaktifkan dan ditingkatkan. Seperti di Pandanwangi (Lumajang), Bugis (Malang), Maospati (Madiun), Morokrembangan (Surabaya), Panasan (Solo), Kalibanteng (Semarang), Maguwo (Yogyakarta), Andir (Bandung), Cibeureum (Tasikmalaya), Jatiwangi (Cirebon), Cililitan (Jakarta), dan di sejumlah tempat lainnya. Seperti dikutip buku 50 Tahun Emas Pengabdian TNI Angkatan Udara (1996), di Maguwo ketika itu diperkirakan terdapat 70 pesawat Jepang dari berbagai jenis.

Sejumlah Churen terbang formasi dalam sebuah acara di Yogyakarta. Menurut data di TNI AU, penerbangan ini dilaksanakan saat berlangsungnya airshow pertama dan disaksikan persiden Soekarno pada tahun1947

Begitu banyakkah? Begitulah faktanya. Seingat Sudaryono, satu-satunya penerbang AURI generasi pertama yang masih tersisa, dia melihat begitu banyak pesawat bekas Jepang diparkir di Maguwo (Lanud Adi Sucipto, sekarang). “Lebih 70 pesawat,” ujar kakek berusia 86 tahun ini tegas. Jenisnya beragam seperti Yokosuka K5Y1 Willow, Nakajima Ki-43 Hayabusha, Mitsubishi Ki-51 Guntei, Mansyu Ki-79b Nishikoren, dan Ki-55 Cukiu. Jika ditotal diperkirakan ada lebih 100 pesawat peninggalan Jepang diparkir di sejumlah lapangan terbang di Indonesia. Sebagiai besar adalah Willow. Bisa dibayangkan, dengan pesawat segitu banyak tapi AURI hanya memiliki satu penerbang!

Banyaknya jumlah Willow yang di Indonesia dikenal luas dengan sebutan Churen itu, menurut Sudaryono karena Yogyakarta dulu digunakan Jepang sebagai tempat advanced training. Pesawat-pesawat ini di parkir di sepanjang jalan masuk pangkalan dari arah rel kereta api. “Itu penuh pesawat, berderet-deret,” kenangnya.

Namun Adisutjipto alias Pak Cip cukup brilian. Sebagai mantan penerbang Belanda dan merasakan getirnya Perang Pasifik, ia cukup punya bekal pengetahuan dan pengalaman untuk membentuk sebuah angkatan udara. Bekal itu lah yang nanti ia tularkan kepada junironya.

Terlihat marking Merah-Putih masih berbentuk bulat

Pasca Kemerdekaan, Adisutjipto mukim di Salatiga. “Dia bekerja di sebuah perusahaan bus,” ujar Sudaryono. Dilanjutkan Sudaryono, sekitar akhir Agustus seseorang bernama Tarsono Rud-jito (bekas BKR Oedara Yogya) datang mencari Adisutjipto. Karena mendapat informasi Adisutjipto di Salatiga, ia segera menyusul untuk menemui Adisutjipto. Singkat cerita, kedua orang ini saling bertemu dan bersepakat untuk kembali ke Yogyakarta. Di tempat lain, Suryadarma memerintahkan seorang teknisi bernama Basir Surya untuk untuk segera ke Yogyakarta.

Ketiga orang ini bertemu di Yogyakarta. Mereka kemudian memutuskan untuk menghidupkan sebuah Churen dan nanti akan diterbangkan oleh Adisutjipto. Basir surya bekerja cepat dan cermat. Sementara Adisutjipto berusaha memahami Churen, pesawat buatan Jepang yang sama sekali dia belum pernah menyentuhnya tanpa selembar pun manual book. Dengan bermodalkan keyakinan, kerja keras itu berbuah manis. Adisutjipto berhasil menerbangkan sebuah Churen yang sudah diberi marking Merah Putih di atas Yogyakarta pada 27 Oktober 1945. Inilah penerbangan bersejarah dalam dunia penerbangan Indonesia, ketika untuk pertama kali penerbang Indonesia menerbangkan pesawat di alam kemerdekaan. “Pak Cip sempat nyambar-nyambar di Alun-alun,” kata Sudaryono yang bergabung dengan TKR Oedara pada November 1945 setelah berjuang di Front Semarang. Aksi solo flypast yang dilakukan Adisutjipto ini dilakukan pada peringatan hari Sumpah Pemuda 28 Oktober di Yogyakarta.

Dari kiri-kanan: Bambang Saptoadji, Sutardjo Sigit, Sudaryanto dan Aryono saat masih jadi siswa penerbang dengan latar belakang pesawat Churen. Di pesawat ini marking Merah-Putih sudah terbentuk kotak. Kesukesan pendidikan penerbang AURI angkatan pertama ini tak terlepas dari keberadaan Adisutjipto.

Kesuksesan penerbangan pertama ini dilanjutkan penerbangan kedua di Cibeureum, Tasikmalaya pada 7 November. Meski urutan kedua, namun tingkat kesulitannya tetap rumit dan berisiko tinggi. Karena di Tasikmalaya ini, Adisutjipto kembali menerbangkan pesawat dari jenis yang lain, yaitu Nishikoren. Setelah sukses menerbangkan sejumlah pesawat peninggalan Jepang, Mabes TKR Oedara kemudian memutuskan untuk segera melakukan regenerasi pilot baru guna mengawaki pesawat yang jumlahnya banyak sekali. Karena hanya ada seorang Adisutjipto, pekerjaan ini tentulah sangat berat. Selain di Maguwo, pemuda-pemuda di Malang juga mencoba mengorganisir semacam flying school. Namun karena tidak ada seorang pun berkualifikasi penerbang, usaha mereka berakhir sia-sia. Karena itulah, usaha merintis sekolah penerbang ini mulai dilakukan secara lebih terorganisir sejak Desember 1945 di Maguwo setelah dirintis sendiri oleh Adisutjipto, didirikan sebuah sekolah penerbang pada 15 November di Maguwo.

Dengan dibukanya sekolah penerbang ini, pemuda-pemuda yang semula mengorganisir diri di Malang, digabungkan ke Yogyakarta. Sekolah ini menerima para siswa yang berasal dari bekas siswa Aspirant Officer Kortvervand yang telah mengantogi klein brevet, bekas siswa vrijwillige vlieger corps, serta pemuda-pemu­da yang sama sekali belum pemah menerima pendidikan penerbang. Nall, Sudaryono dan 15 pemuda lainnya masuk ke dalam kelompok terakhir.

Namun Adisutjipto tidak ge­gabah. Sadar seorang diri, is tidak lantas langsung menerima siswa dan mendidiknya. Pertama-tama, Adisutjipto mencetak sejumlah penerbang untuk menjadi instruk­tur. Menurut Sudaryono, angkatan pertama instruktur yang dididik Adisutjipto adalah Iswahjudi dan Imam Suwongso Wirjosaputro. Iswahjudi sendiri bekas siswa Aspirant Officier Leerling Vlieger namun belum sempat memper­oleh brevet, sedangkan Wirjosapu­tro bekas siswa Vrijwiliger Vlieger Corps. Angkatan kedua instruktur terdiri dan Abdulrahman Saleh dan Hubertus Sujono. Barulah setelah keempat penerbang ini dipandang Adisutjipto layak menyandang jabatan instruktur, sekolah penerbang pun mulai diaktifkan. “Instruktur utama adalah Iswahjudi dan Wirjos­aputro, saya sendiri dilatih oleh Iswahjudi,” papar Sudaryono.

Diakui Sudaryono sangat berisiko ketika fase pelatihan mulai memasuki tahap terbang. Pasalnya pesawat yang tersedia hanya Churen, yang jelas-jelas oleh Jepang digunakan untuk siswa advanced. Dengan mesin berkekuatan 300 hp, jelas Churen terlalu “kuat” untuk siswa pemula. “Powernya terlalu besar untuk pesawat latih mula. Tapi karena tidak ada lagi, ya, terpaksa dipakai untuk basic training,” kata Sudaryono. Menurut Sudaryono lagi, tidak mudah mendaratkan Churen karena de­sain roda pendarat belakangnya yang unlock. Karena itu pesawat punya kecenderungan ground loop jika pendaratan tidak tepat. Untung mengakalinya, siswa diperintahkan mendarat di lapan­gan rumput di sebelah landasan selama masa pendidikan.

Masa itu memang belum ada silabus pendidikan seperti sekarang. Latihan terbang pun dilaksanakan sesu4i ketersediaan waktu instruktur. Sudaryono mengakui bahwa is sudah solo setelah 15 jam terbang. Materi pendidikan juga masih seder­hana, hanya mendidik supaya seseorang bisa menerbangkan pesawat. Tidak ada materi per­tempuran udara, penembakan, atau pengeboman. Jika Churen digunakan sebagai pesawat latih mula, maka latih lanjut meng­gunakan Cukiu. Sementara bagi penerbang yang ingin mener­bangkan Hayabusha atau Guntei harus mencobanya sendiri karena tidak tersedianya instruktur.

Untuk Churen, tersedia gantungan bom dan di belakang ada dudukan senapan mesin. Bom bisa dirilis dari kokpit dengan tuas model tarik di sisi kanan. Kapasitas born di setiap sayap sekitar 50 kg. “Kami pernah latihan menariknya (tuas born), tapi tidak bawa born,” ujar Sudaryono. Untuk pesawat Guntai,Sudaryono pernah punya pengalaman mengedrop bahan bakar untuk stasiun radio AURI di Tasilunalaya. Caranya adalah dengan mengikatkan bahan bakar di dudukan born, kemudian melepaskannya di koordinat yang “diperkirakan” posisi stasiun radio tersebut. “Ketika itu belum ada peta, saya terbang kira-kira saja, nggak tahu apakah logis­tiknya sampai apa tidak,” kenang Sudaryono sambil tersenyum.

Begitulah, dengan segala ket­erbatasan yang ada, para founding fathers TNI AU mampu mengak­tifkan organisasi angkatan udara yang baru terbentuk dengan bermodalkan satu penerbang! Bahkan latihan penerbangan di­lakukan tidak hanya di Jawa, tapi juga hingga Sumatera. (ben)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: