Pendaratan di Roi-Namur (Kepulauan Marshall)


Menjelang bertolaknya Amtrac dari LST masing­masing, hujan turun dan mengakibatkan serangan udara terhadap pantai Roi dan Namur terancam dihentikan. Tetapi ternyata pesawat dari kapal induk serta tembakan kapal pe­rang dan peluncuran roket dari kapal-kapal pendarat, tidak hirau terhadap hujan. Meriam dan roket kapal tetap menghantam sasaran hingga menit‑menit terakhir menjelang Amtrac mencapai daratan Roi dan Namur, sedangkan pesawat terus beraksi melindungi hingga sepatu Marinir menginjak pasir pantai.

Marinir mendarat di Roi-Namur (Kep. Marshall)

Pendaratan di pantai Roi tidak menemui banyak perlawanan dari Jepang. Selain sebagai akibat bombardemen berhari-hari sebelumnya, ternyata kekuatan pasukan Jepang tidaklah sebesar yang diperkirakan semula. Pasukan Marinir dengan cepat mendaratkan tank-tank ringan dan medium untuk mendukung serbuan ini. Amtrac yang mendaratkan Marinir ke pantai, juga ikut menerjang masuk ke daratan karena kini telah dipersenjatai dengan meriam dan senapan mesin.

Sekalipun begitu, pasukan infanteri Marinir bersikap hati-hati dalam gerak majunya, sehingga sering kali tank maupun Amtrac yang merangsek maju tidak atau kurang memperoleh perlindungan infanteri. Sehingga menimbulkan kesan mereka gegabah dan kurang berkoordinasi. Para perwira pun memang acap kehilangan kontrol terhadap pasukannya Barulah menjelang sore mereka berhasil mengendalikan kembali tank-tank mereka yang terlalu jauh meninggalkan satuan infanterinya. Perlawanan terorganisasi dari pasukan Jepang di kawasan pantai berhasil dilumpuhkan, sehingga petang hari itu seluruh garis pantai Roi telah dikuasai Marinir, termasuk memblokir jalan bagi musuh untuk masuk dari Namur.

Pembagian lokasi pendaratan . Secara teknis pantai dibagi menjadi empat seksi guna menampung Marinir yang didaratkan

Jika 23rd Marine Battalion di Roi menghadapi perlawanan relatif ringan di pantai pendaratan, maka lain halnya dengan 24th Battalion yang menyerbu Namur. Tank-tank yang didaratkan belum-belum sudah menghadapi parit-parit antitank di pantai, sehingga mereka tidak dapat maju secepat seperti direncanakan semula. Mereka tertahan dan hanya dapat membantu infanteri dengan tembakan meriamnya. Pasukan infanteri yang didaratkan dalam gelombang pertama pun mengalami kesulitan mengenali tanda-tanda di kawasan pantai yang sudah mereka pelajari sebelumnya Ini disebabkan oleh hancur dan berubahnya kondisi serta wajah pantai sebagai akibat bombardemen dahsyat sebelumnya. Karena itu kemajuan gerak mereka pun terhambat.

Dua kompi yang daerah sasaran masing-masing sudah ditentukan pun juga kacau. Mereka tercampur baur di tengah gelapnya kepulan asap pertempuran. Namun mereka tak peduli dan berusaha maju, sedangkan sisa 246 Battalion baru mendarat setelah Amtrac pendarat tersedia. Begitu mendarat, mereka pun langsung ikut menjadi pasukan terdepan bersama Marinir yang telah lebih dulu mendarat dan bertempur. Kemajuan paling jauh yang mereka capai hanyalah sekitar 50-60 m dari garis pantai. Mereka terpaku di tempat karena sengitnya perlawanan Jepang.

Pertempuran di Roi lebih gampang dijalankan oleh pasukan penyerbu yang masih kurang pengalaman itu karena kondisi pulau yang datar, tanahnya keras dan terbuka. Sebagian besar Roi berupa pangkalan udara dengan landasan-landasan terbangnya yang membentuk segi tiga. Sedangkan Namur masih diiputi semak belukar yang lebat, sehingga memudahkan pasukan Jepang melawan dari tempat persembunyian mereka. Kubu pertahanan Jepang yang tersembunyi dan sulit ditemukan, dilewati begitu saja oleh pasukan Marinir terdepan, untuk ditangani oleh pasukan di belakangnya.

Sebuah bungker Jepang yang ditemukan, dikepung dan diledakkan oleh regu demolisi Marinir. Bungker ini ternyata tempat penyimpanan mesiu dan torpedo, sehingga meledak dahsyat dan memicu ledakan lagi pada dua tempat penyimpanan lain di dekatnya. Asap dan debunya menyelimuti pulau tersebut. “The whole damn island has blown up!” seru seorang pilot yang menyaksikan dari pesawatnya. Akibat ledakan hebat ini, 20 Marinir tewas dan lebih dari 100 lainnya terluka. Sebuah lubang seukuran kolam renang besar menganga di bekas tempat ledakan tadi.

Kwajalein Jatuh

Ledakan yang tidak disangka-sangka dengan korban besar ini sempat mengacaukan 24th Battalion, sehingga mereka tidak mampu menyamakan gerak majunya dengan pasukan 23rd Battalion di Roi. Padahal sore hari itu kedua pasukan seharusnya sudah dapat mengamankan objek serbuan masing-masing. Pasukan 24th Marine Battalion ini sempat shock, dan organisasinya pun kacau. Tetapi para perwiranya berusaha sekuatnya untuk konsolidasi kembali, sehingga dengan dukungan tank-tank medium sore hari itu mereka mampu bergerak kembali. Panglima divisi yang mendarat di Namur sore itu, langsung memperoleh laporan perlunya tambahan pasukan. Ia memerintahkan sepasukan tank dipindahkan dari Roi ke Namur, melewati `jembatan’ pasir yang menghubungkan kedua pulau ini.

Namur, Marshall Islands, Maret 1944, Sebuah tank M4A2 Sherman "Killer" dari C Company, Marine 4th Battalion. Para awak tank Marinir sengaja mengangkut tank ringan Jepang Type 94 di atas dek mesinnya. Perhatikan fasilitas lapisan papan kayu di sekujur tubuh tank. Lapisan ini dipakai untuk menangkal serangan ranjau antitank jenis magnet Type 99 milik Jepang. Fasilitas lain yang cukup unik bisa dipergoki pada kotak berisi peralatan anti air yang menempel di belakang tank Sherman

Namur, Marshall Islands, Maret 1944, Sebuah tank M4A2 Sherman "Killer" dari C Company, Marine 4th Battalion. Para awak tank Marinir sengaja mengangkut tank ringan Jepang Type 94 di atas dek mesinnya. Perhatikan fasilitas lapisan papan kayu di sekujur tubuh tank. Lapisan ini dipakai untuk menangkal serangan ranjau antitank jenis magnet Type 99 milik Jepang. Fasilitas lain yang cukup unik bisa dipergoki pada kotak berisi peralatan anti air yang menempel di belakang tank Sherman

Pasukan tank memelopori gerak maju 24th Battalion. Tetapi mereka kekurangan amunisi sehingga gerakan dihentikan sementara. Senja hari itu pasukan Marinir berhasil menguasai duapertiga Namur sebelum berkonsolidasi untuk bergerak lagi esok fajar. Malam itu Jepang melancarkan serangan-balik, dan memancing Marinir untuk menghamburkan peluru terhadap sasaran imajiner. Serangan malam Jepang yang lebih berarti dilakukan fajar hari pada celah antara kedua batalion Marinir. Pertempuran sengit terjadi. Tank-tank Marinir ikut menahan serangan yang dilakukan secara fanatik. Prajurit Jepang dengan granat tangan menabrakkan diri ke tank. Granat meledak dan tubuhnya binasa, namun tank tetap kokoh utuh. Bahkan ada opsir-opsir Jepang yang menyerang kendaraanbaja ituhanya dengan bersenjatakan pedang samurai!

Pasukan dari kedua batalion saling bekerjasama untuk menahan Jepang, yang akhirnya berhasil dipukul mundur. Bahkan pertempuran ini malah membuat posisi pasukan Marinir bertambah maju. Sehingga rencana operasi berikut malah terjadi lebih awal, dan pada tengah hari kedua sasaran Roi dan Namur pun berhasil dikuasai sepenuhnya. Marinir tinggal melakukan operasi pembersihan. Sekitar pukul empat sore pada 1 Februari kedua pulau telah dinyatakan aman.

Sementara itu 7th Army Division yang ditugaskan menguasai Kwajalein di ujung selatan atol, masih bertempur untuk menghabisi pasukan Jepang yang bertahan. Tentara AD yang lebih berhati-hati dalam gerakannya baru dapat menguasai pulau ini pada 4 Februari. Dalam operasi ini, pasukan AD dibantu tembakan meriam kapal perang dari jarak dekat, hanya beberapa ratus meter dari pantai. Di pulau ini Jepang membangun landasan untuk pesawat pengebom, namun belum sempat dirampungkan. Sekitar 450 km tenggara Atol Kwajalein, terdapat Atol Majuro yang tidak dipertahankan Jepang. Padahal laguna atol ini yang panjangnya 40 km dengan lebar hampir 10 km, ideal untuk dijadikan pangkalan AL. Karena itulah AS langsung memanfaatkannya sebagai pangkalan terdepan bagi satuan armada kapal induk cepatnya pimpinan Laksda Marc Mitscher.

Dengan dikuasainya Atol Kwajalein, maka pertempuran di Kepulauan Marshall bagian tengah berakhir sudah. Meskipun pertempuran ini memakan waktu lebih lama daripada di Tarawa dan Makin, namun jumlah korban tewas di pihak pasukan Amerika lebih sedikit. Jika di Tarawa lebih dari 1.000 pasukan Marinir terbunuh, maka perebutan Atol Kwajalein memakan korban 372 pasukan Amerika tewas dari sekitar 41.000 pasukan yang dikerahkan merebut Atol Kwajalein. Padahal perlawanan Jepang di Kwajalein tak kalah sengitnya dengan lebih dari 7.500 pasukannya tewas. Hanya sekitar 100 tentara Jepang yang membiarkan did tertawan, ditambah 165 orang Korea.

Berkurangnya jumlah korban Amerika ini disebabkan mereka belajar dari pengalaman operasi yang berdarah-darah di Tarawa. Berbagai langkah peningkatan kemampuan dan taktik operasi diterapkan. Mulai dari bombardemen prapendaratan yang dilakukan lebih intensif, penambahan pelapisan baja dan persenjataan tank pendarat Amtrac, perbaikan manajemen koordinasi antarpasukan, hingga penggunaan kapal-kapal markas yang dirancang khusus untuk peran tersebut.

Eniwetok sasaran, Truk diserang

Sasaran berikut dalam menguasai Kepulauan Marshall adalah Atol Eniwetok yang terletak sekitar 500 km barat daya Kwajalein. Atol ini merupakan bagian tepi paling barat dari Kepulauan Marshall. Tiga dari empat pulau utama di atol ini menjadi sasaran penyerbuan amfibi, yaitu Engebi dan Parry oleh Marinir, serta Eniwetok oleh pasukan gabungan Marinir-AD. Atol tersebut sudah dalam perencanaan untuk direbut bahkan sebelum invasi terhadap Marshall direncanakan. Laksamana Nimitz menilai Eniwetok amat penting, karena dapat dijadikan pangkalan aju ketika kekuatan AS bergerak ke barat, semakin mendekati wilayah Jepang sendiri.

Sejumlah pasukan Marinir bergerak dengan konsentrasi penuh dalam kampanye militer di Eniwetok Atoll. Manuver model begini dipersiapkan untuk menghadapi pertempuran jarak dekat dan kerap meletus secara tiba-tiba. Perhatikan bayonet yang telah terpasang pada senapan garand mereka.

Sewaktu AS berhasil merebut Atol Kwajalein, mereka menemukan sejumlah dokumen dan peta pertahanan Jepang di Kepulauan Marshall. Penemuan ini amat penting, karena membuat AS mengenali seluk beluk sistem pertahanan Jepang di pulau-pulau Atol Eniwetok, termasuk kedalaman air lagunanya. Di Pulaus Engebi baru rampung dibangun sebuah lapangan terbang yang belum sempat dimanfaatkan oleh Jepang. Di antara pulau-pulau Eniwetok, maka Engebi merupakan sasaran paling penting selain laguna Eniwetok sendiri yang dapat dijadikan tempat berlabuh dan berlindungnya AL Amerika.

Setelah berhasil merebut Kwajalein, Laksamana Nimitz tidak mengirim balik armadanya ke Hawaii untuk berkonsolidasi lagi, tetapi langsung menyiapkannya untuk invasi terhadap Eniwetok pada 17 Februari. Untuk melindungi serbuan ini, dia memerintahkan Laksamana Mitscher mengirim kesembilan kapal induk cepatnya untuk menyerang pangkalan Jepang di Truk, yang termasuk dalam gugusan Kepulauan Caroline, sekitar 1.200 km barat Eniwetok.

Pangkalan udara dan laut Jepang ini amat vital karena menampung kekuatan militer Jepang dalam jumlah besar, baik pesawat maupun kapal perang. Bahkan Armada Gabungan Jepang pun ada yang dipangkalkan di Truk. Letaknya strategis, di antara Niugini (New Guinea) dengan Kepulauan Mariana. Pangkalan ini juga menampung kapal maupun pesawat yang diungsikan Laksamana Mineichi Koga dari Rabaul, tatkala AS berusaha menghancurkan Rabaul dengan serangan udara tanpa henti mulai pertengahan Desember 1943. Koga adalah pengganti Laksamana Isoroku Yamamoto sebagai Panglima Armada Gabungan.

Semua pertempuran yang terjadi di Namur berlangsung lebih alot. Tembakan yang lebih gencar, serta halangan lebih berat menghambat laju Marinir

Serangan udara terhadap Truk dilancarkan dengan hebat selama dua hari satu malam terus-menerus oleh pesawat yang diluncurkan dari satuan tugas kapal induk pimpinan Mitscher, yang disertai enam kapal tempur. Satgas 58 AL Amerika ini pun untuk pertama kalinya menggunakan radar untuk operasi malam hari. Serangan hebat ini cukup mengagetkan Jepang mengingat lokasi Kepulauan Caroline yang cukup jauh dari gugusan Marshall. Gempuran mendadak terhadap pangkalan penting itu mengakibatkan sekitar 250 pesawat Jepang dihancurkan di darat dan 41 kapal ditenggelamkan, di antaranya dua penjelajah dan tiga perusak. Bobot kapal yang dikirim ke dasar laut lebih dari 200.000 ton, sehingga tercatat sebagai rekor tonase kapal yang berhasil dikaramkan dalam aksi tunggal selama perang berlangsung. Dengan kerugian yang begitu besar dalam sekejap, maka kekhawatiran Amerika akan ancaman Jepang terhadap operasi pe-rebutan Eniwetok dapat disingkirkan. Sedangkan dari pihak Jepang, Truk yang dibangun diamdiam sebagai pangkalan penting, tetap dinilai strategis. Karena itu Laksamana Toga memerintahkan sisa kekuatan udaranya dikirim dari Rabaul untuk terus melindungi Truk, dengan akibat kekuatan Jepang di Niugini tidak terlindungi dari udara. Padahal mereka tengah menghadapi serbuan Jenderal MacArthur.

Perebutan tiga pulau
Seperti halnya ketika merebut Kwajalein, maka sasaran pertama adalah pulau-pulau luar. Karena di situlah pusat-pusat pertahanan Jepang diposisikan. Serbuan sesuai waktu yang direncanakan, 17 Februari. Pulau Engebi merupakan sasaran pertama di Atol Eniwetok Bombardemen dahsyat terhadap pulau ini membuat pasukan Jepang nanar. Sehingga sewaktu Marinir mendarat hanya beberapa menit setelah gempuran dari laut dihentikan, mereka pun tidak menemui perlawanan sengit. Pasukan ini didukung pesawat dan satuan Regu Demolisi Bawah Air (UDT) Marinir yang melakukan debut tempur pertamanya untuk mengamati kawasan pantai.

Para pengemudi Amtrac yang telah berpengalaman di Kwajalein, kini lebih tahu apa yang harus mereka jalankan. Sehingga tidak sampai terjadi lagi campur aduk pasukan dari berbagai satuan, meskipun di sana-sini masih terjadi sedikit salah lokasi dalam pendaratan. Satuan tank Marinir dengan cepat dan efektif berhasil melumpuhkan tank-tank Jepang yang telah diubah fungsinya sebagai kubu pertahanan pantai. Menjelang siang, pasukan Marinir berhasil menguasai lapangan terbang yang masih baru. Pertempuran cukup alot karena pulau ini masih banyak pohon dan semak rimbun, sehingga pasukan Marinir hams dibantu sepasang meriam serang 105mm untuk menghancurkan kubu-kubu Jepang. Sore hari pulau kecil ini berhasil dikuasai dan dinyatakan aman.

Di Engebi, pasukan Marinir menemukan dokumen yang mengungkapkan bahwa di kedua pulau sasaran lainnya, Pulau Parry dan Pulau Eniwetok, Jepang ternyata memiliki pasukan pertahanan yang cukup kuat. Garnisun yang ditempatkan di Eniwetok terdiri dari sekitar 800 personel yang telah berpengalaman. Mereka menempati kubu pertahanan yang dihubungkan dengan jaringan parit dan terowongan bawah tanah yang lubangnya tertutup tumbuh-tumbuhan.

Semula Brigjen (Mar) Thomas E. Watson akan mendaratkan pasukan gabungan Marinir dan AD secara bersamaan di kedua pulau. Tetapi setelah mempelajari dokumen tersebut, is tidak berani gegabah dan mengubah rencana dengan merebutnya satu persatu. Pendaratan di Eniwetok dilakukan pada 19 Februari. Sekalipun telah dibom hebat, tetapi pasukan Jepang yang terlindung dalam perkubuan mereka masih mampu melakukan perlawanan sengit. Komandan pasukan AD yang menyerbu cepat menyadari kekuatan dua batalionnya tidaklah akan mampu menguasai pulau ini.

Karena itu pasukan Marinir yang menyusul mendarat, ditugaskan menyapu barat daya pulau bersama batalion AD. Mereka bergerak setelah senja, dibantu peluru-peluru sinar yang ditembakkan dari meriam-meriam. Namun laju mereka tidak sama, karena Marinir maju lebih cepat. Rasa optimis mampu segera menyudahi perlawanan musuh ternyata tak tercapai, karena pasukan Jepang memasuki celah antara kedua pasukan Amerika tersebut. Serangan oleh Jepang yang terpojok itu tidak mudah dipatahkan. Namun Jepang juga tidak berhasil mengusir pasukan Amerika yang gigih mempertahankan posisinya. Akhirnya serangan Jepang gagal, dan esoknya seharian penuh pasukan Amerika terns maju menguasai bagian barat daya Pulau Eniwetok. Pulau ini baru berhasil dikuasai sepenuhnya sehari kemudian, 21 Februari, setelah batalion AD berhasil mengamankan paruh timur laut Eniwetok.

Perebutan Pulau Parry jugatidak selancar seperti yang diperhitungkan semula. Pasukan yang ditugaskan menguasai pulau ini umumnya sudah pernah bertugas di Engebi dan Eniwetok. Mereka sudah letih. Batalion mereka baik AD maupun Marinir telah kehilangan anggota dalam operasi sebelumnya, dan hingga kini pun belum tergantikan. Mereka juga mengeluhkan senjata yang mereka anggap kurang berdaya ofensif. Mereka menginginkan senapannya diganti dengan Ml dan BAR.

Pada 22 Februari pasukan ini mendarat di pantai Parry bagian barat laut yang diselimuti asap dan debu akibat bombardemen sebelumnya. Pemandangan pun jadi tak jelas, sehingga banyak pasukan yang tidak yakin apakah mereka sudah mendarat di tempat yang benar atau melenceng ke tempat lain. Akibatnya pasukan sering tercampur, sehingga mengurangi efektivitas bertempurnya. Perlawanan pasukan Jepang juga sengit sekali, sehingga Pulau Parry benar-benar menjadi neraka hari itu. Jepang sempat mengirim tiga tank untuk menahan pasukan penyerbu. Tetapi mereka kalah ketika berhadapan langsung dengan tank-tank medium Marinir. Tatkala malam mulai tiba, maka serangan dihentikan untuk meniadakan atau mengurangi kemungkinan tembak-menembak tak sengaja di antara sesama pasukan sendiri. Keadaan dinyatakan telah dikuasai meskipun disadari pasukan Jepang di pulau ini belum seluruhnya tertangani. Penembak runduk Jepang malam itu masih beraksi di sana-sini, namun tidak banyak menimbulkan korban. Ketika fajar tiba, ofensif dimulai lagi sampai kubu pertahanan terakhir Jepang dilumpuhkan beberapa jam kemudian. Satu batalion AD yang semula disiagakan sebagai cadangan, diperintahkan menyapu seluruh pulau untuk menemukan sisa pasukan musuh yang mungkin masih berkeliaran.Untuk merebut ketiga pulau Eniwetok, AS kehilangan hampir 300 pasukannya, sedangkan Jepang sekitar 2.700 orang

Kulit luar Jepang

Setelah merebut Eniwetok, maka AL Amerika kemudian mengirim satuan-satuan Marinir lainnya untuk menguasai sekitar 30 atol dan pulau kecil lainnya di Kepulauan Marshall. Empat atol dalam gugusan kepulauan ini yang dianggap tidak berarti, dilewati begitu saja dan dibiarkan tetap dikuasai Jepang. Sebab atol itu terisolasi dan tidak ada manfaatnya buat diduduki.

Dalam operasi merebut Kepulauan Marshall, pihak Amerika kehilangan sekitar 600 pasukan Marinir dan AD-nya yang tewas. Jumlah ini sekitar
setengahya saja dari jumlah korban Amerika di pantai Betio di Tarawa pada 20-23 November 1943. Ini berarti AS telah belajar banyak dari pengalaman bertempur di Tarawa, yang merupakan pertempurannya yang paling berdarah. Taktik pendaratan amfibi, cara menghadapi musuh yang bertahan, peningkatan tata kelola operasi dan pasukan, semua ini dipraktikkan dalam merebut Marshall

Dari segi politik, berarti perebutan Marshall dalam Perang Pasifik ini untuk pertama kalinya kekuatan militer Amerika berhasil menduduki wilayah yang dikuasai Jepang sejak sebelum perang pecah Dengan lain kata, kulit luar wilayah Kekaisaran Jepang sendiri kini mulai terjamah oleh musuhnya, sehingga tak mustahil musuh akan dapat masuk ke bagianbagian lain yang lebih dalam lagi. Begitu Marshall dikuasai, Nimitz dan Spruance langsung merancang serbuan terhadap Kepulauan Mariana, yang termasuk lingkar dalam, inner ring dari pertahanan Jepang. (rb)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: