Dari Kwajalein Sampai Eniwetok (Kepulauan MARSHALL)


Berhasil merebut dua posisi kuat Jepang di Atol Tarawa dan Makin, di Kepulauan Gilbert pada November1943, AS kemudian mengarahkan sasaran berikutnya yaitu Kepulauan Marshall. Sejak menguasainya semasa PD I, Jepang telah menjadikan kepulauan ini sebagai pangkalan udara dan laut yang panting di Pasifik Tengah. Pangkalan ini dibangun di Kwajalein, yang meru­pakan atol terbesar di dunia. Kepulauan Marshall sendiri terletak sekitar 850 km barat laut Gilbert.

Pendaratan di Kepulauan Marshal

Seusai mengua­sai Tarawa, Nimitz dan stafnya langsung merancang invasi terhadap Kepu­lauan Marshall. Mereka ingat betul betapa pesawat pengebom Jepang yang berpangkalan di Atol Kwajalein, telah menghancurkan posisi Amerika di Pulau Wake dan lain-lainnya semasa’awal Perang Pasifik. Akhirnya keluar keputusan bahwa serbuan akan dilancarkan mulai akhir Januari 1944. Sasaran utamanya adalah Kwajalein de­ngan pangkalan utamanya di Pulau Roi dan Namur, yang sebet­ulnya merupakan satu pulau tetapi seperti terpisah dan ditautkan oleh sepotong pantai pasir yang panjang.

Dari pengalaman dan pelajaran yang diperoleh dalam serbuan terhadap Tarawa, maka bombar­demen udara maupun laut akan dilakukan lebih hebat dan lebih lama. Dalam serbuan terhadap Marshall, bombardemen ke darat akan terus dilancarkan sampai pasukan tinggal sekian puluh me­ter dari bibir pantai. Pada saat itu, pesawat akan melepas peluru sinar sebagai isyarat agar kapal-kapal perang menghentikan tembakan meriamnya ke pantai. Namun pesawat terbang tetap melan­jutkan operasinya, dengan tents menembakkan roket dan senapan mesin untuk memaksa pasukan Jepang yang masih hidup tetap berlindung, sehingga tidak dapat menyerang pasukan yang tengah mendarat di pantai.

Selain itu kapal pendarat LCI (Landing Craft, Infantry) yang mampu mendekat hingga garis pantai, dikonversi agar mampu meluncurkan roket-roket kaliber 4,5 inci. Kendaraan pendarat jenis Amtrac (amphibian tractor) juga ditambah persenjataannya sehingga masing-masing memiliki sepucuk meriam 37 mm dan lima senapan mesin. Dengan demikian Amtrac bukan hanya berfungsi sebagai kendaraan amfibi pendarat pasukan di pantai, namun juga untuk bertempur di darat

Rencana menginvasi Marshall merupakan langkah logis. Karena tak mungkin AS menguasai kepulauan ini manakala Gilbert termasuk Tarawa dan Makin belum direbut lebih dulu. Pihak Jepang pun juga berpikiran serupa. Mereka telah mengantisipasi bahwa Marshall akan jadi sasaran berikut sesudah Gilbert. Tetapi mengingat luasnya Kepulauan Marshall, maka Jepang kesulitan menebak atol mana dari 29 atol di Marshall yang akan jadi sasaran pertama musuh. Hal inilah yang mengakibatkan Jepang terpaksa memencarkan kekuatannya ke seantero kepulauannya tersebut, sebagaimana diakui oleh para perwiranya yang tertawan dan diinterogasi kemudian.

Di pihak lain, para perencana Amerika sendiri juga mengalami kesulitan menentukan sasaran per­tama invasi mereka terhadap Mar­shall yang luasnya hampir 500.000 mil persegi. Laksamana Raymond Spruance sebagai panglima ar­mada dan kedua komandan satuan amfibinya, Laksamana Richmond Turner dan Jenderal Holland M. Smith merekomendasikan ke­pada Nimitz agar sasaran awalnya adalah Atol Maloelap dan Wotje yang terletak di Marshall bagian timur, sebelum mengarah ke sasaran utama Kwajalein. Tetapi Laksamana Nimitz tidak sependa­pat. Berdasar keberhasilan operasi terhadap Kepulauan Gilbert, is memutuskan untuk melewati saja atau mem-by-pass atol dan pulau­pulau di timur, dan langsung ke Atol Kwajalein di tengah Kepu­lauan Marshall.

“Flintlock” dan “Catchoole”

Nimitz menyetujui serbuan terhadap Marshall dilakukan dalam dua tahap. Setelah merebut dan menguasai Atol Kwajalein dengan “Operasi Flintlock”, maka akan disusul tahap kedua untuk merebut Atol Eniwetok yang ber­sandikan “Operation Catchpole”. Untuk mencegah Armada Gabu­ngan Jepang mengintervensi kedua operasinya di Marshall, maka Nimitz memerintahkan sera­ngan oleh armada kapal induknya terhadap pangkalan udara dan laut Jepang di Truk, yang termasuk gugusan Kepulauan Carolines.

Sejumlah prajurit Marinir berhasil menawan pasukanJepang dalam pertempuran di Kwajalein Atoll. Menawan prajuritJepang dalam kondisi hidup bias dibilang merupakan kejadi an istimewa mengingat mereka kerap bertempur dengan fanatik sampai mati.

Untuk menyerbu Atjalein, satu divisi Angkatan Darat Amerika disiapkan merebut Pulau Kwajalein, sedangkan 4th Marine Division yang baru dibentuk, diserahi untuk menguasai pulau kembar Roi dan Namur. Divisi ini praktis masih hijau, karena walau terlatih baik, mereka belum punya pengalaman tempur. Satu resimen AD juga akan didaratkan di Atol Majuro yang tidal( begitu dijaga oleh Jepang. Ini merupakan tem­pat kapal perang Jepang biasa lego jangkar. Jauh hari sebelum invasi dilakukan, maka sejak Desember 1943 Amerika telah mengirim pesawatnya yang berpangkalan di Gilbert maupun kapal induk untuk menyerang pangkalan Jepang di Kepulauan Marshall.

Ketika itu intelijen AS belum menyadari bahwa Jepang telah mengubah strateginya dengan memundurkan garis pertahanan­nya, sehingga Marshall berada di luar penugasan Armada Gabungan Jepang untuk melawan pendaratan musuh. Armada ini hanya akan digunakan manakala garis per­tahanan-dalam yang melindungi langsung Kepulauan Jepang mulai terancam. Dimundurkannya garis pertahanan ini sebagai akibat dari hilangnya begitu banyak kapal maupun pesawat AL Jepang di Pasifik. Karena belum mengetahui perubahan strategi Jepang itu, maka Laksamana Spruance pun tetap berhati-hati dan waspada terhadap kemungkinan turunnya Armada Gabungan Jepang untuk menyerang armadanya.

Intelijen Amerika mem­perkirakan pertahanan terkuat Jepang berada di Roi dan Namur. Mereka bahkan menduga mung­kin lebih kuat dibandingkan pertahanan Jepang di Betio, yang membuat Marinir Amerika harus bermandikan darah tatkala me-rebut Tarawa. Perhitungan intel­ijen tersebut terbukti meleset. Roi dan Namur ternyata hanya diper­tahankan oleh sekitar 1.800 hingga 2.400 pasukan Jepang, dan mereka ini pun kurang dilengkapi dengan kubu perbentengan sebagaimana yang terdapat di Tarawa.

Wilayah Jepang

Pengeboman hebat terhadap pertahanan Jepang di Kwajalein dilakukan terus-menerus dari udara dan laut selama satu minggu menjelang pendaratan. Namun invasi dengan sandi “Operation Flintlock” yang semula dirancang pada 29 Januari, diundurkan dua hari menjadi 31 Januari 1944. Fajar hari itu, pasukan Marinir yang diangkut 10th Amtrac Bat­talion menyerang lima pulau kecil di lepas pantai Roi dan Namur. Mereka dengan cepat mengua­sainya dan menyiapkan meriam­meriam yang mampu menjangkau pertahanan Jepang di Roi dan Na­mur. Pendaratan pertama pagi itu terjadi di pulau kecil Ennuebing pukul 09.52 oleh sekompi Marinir,

Sebuah tank ringan M3 Marinir jadi korban serangan infanteri Jepang di Namur. Dalam serangan ini dua awak tank tewas, sementara sisanya, termasuk seorang komandan kompi lapis baja terluka . Perhatikan sisi lambung tank, tak jauh dari alur rantai bagian atas yang jebol terkena hantaman senjata antitank Jepang.

yang merupakan kesatuan pertama Amerika yang menjejakkan kaki di wilayah yang sudah dikuasai Jepang sejak sebelum Perang Pasifik pecah. Jepang memperoleh mandat menguasai Kepulauan Marshall dari Liga Bangsa-Bangsa seusai PD I. Sebelumnya wilayah di Pasifik Tengah ini merupakan wilayah protektorat Jerman.

Elemen Marinir lainnya juga menguasai dengan cepat Pulau Mellu. Di pulau yang sudah luluh lantak ini, pasukan Marinir men­emukan 30 mayat tentara Jepang yang tewas akibat bombardemen prapendaratan, serta menawan lima lainnya yang masih hidup. Setelah menduduki pulau-pulau tepian Atol Kwajalein, maka Marinir menyiapkan artileri yang semuanya diarahkan ke Pulau Namur dan Roi. Dalam operasi pendaratan yang relatif mudah tersebut, pihak Marinir hanya menderita seorang anggotanya terluka. Itu pun karena terkena tembakan dari pihaknya sendiri.

Serbuan terhadap sasaran uta­ma Roi dan Namur agak tersen­dat. Serangan ini direncanakan dengan menggunakan kapal-kapal pendarat LST yang menampung pemindahan pasukan dari kapal­kapal transpor pada malam hari. Paginya LST akan mendekati bibir pantai dan  memuntahkan Amtrac yang mendaratkan pasukan di pantai. Kesulitan muncul tatkala batalion Amtrac setelah men­daratkan Marinir dan meriam mereka di lima pulau di dekat Roi dan Namur, baru tiba kembali ke tempat berkumpulnya kapal LST setelah hari mulai gelap. Amtrac kesulitan menemukan LST masing-masing, padahal mereka memerlukan pengisian bahan bakar lagi. Celakanya, sejumlah komandan LST malah mempersu­lit dengan menampik Amtrac yang bukan bagian dari kapalnya.

Sebagai akibatnya, timbul kekacauan sehingga banyak Amtrac yang kehausan bahan bakar untuk operasi pendaratan selanjutnya, terutama untuk mengangkut pasukan dari 24th Marine Battalion ke pantai Namur. Keadaan ini ditambah lagi dengan banyaknya waktu yang terbuang gara-gara kesulitan pemindahan 4th Amtrac Battalion ke dek untuk tank di sebuah LST yang akan mendaratkan 23rd Marine Battal­ion di Roi. Dampak dari semua ini adalah terundurnya waktu operasi pendaratan, sementara bombarde­men dari udara maupun laut tetap dimulai tepat waktu.

Kesulitan tata kelola opera­si pendaratan ini memang tak terbayangkan sebelumnya. Tak kurang dari 24 traktor pendarat dari 10th Amtrac Battalion pun tak dapat dilacak keberadaannya. Meskipun kemudian sejumlah Amtrak tambahan dapat di­manfaatkan tetapi jumlahnya tidak mencukupi. Pasukan yang dapat diangkut hanya duapertiga dari kekuatan yang seharusnya. Pasukan 23rd Marine akhirnya siap diberangkatkan pada pukul 11.00, tetapi perintah berangkat tertunda beberapa waktu untuk menunggu rampungnya pemunggahan 24th Marine Battalion ke Amtrac mereka.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: