Hitler dan Pemimpin Megalomania


Photo Hitler

Photo Hitler

Betapa pun dianggap bertanggung-jawab atas kematian puluhan juta jiwa semasa Perang Dunia II, Adolf Hitler akan tetap dicatat sebagai penentu sejarah dunia. Ia adalah satu dari segelintir tentara rendahan yang sanggup tampil menjadi hantu dunia, membawa Jerman keluar dari cengkeraman Sekutu dan bangkit menjadi penguasa Eropa. Sebuah upaya besar yang bahkan seorang jenderal Sekutu pun kecil kemungkinan tak akan sanggup melakukannya.

Tak heran jika kemudian banyak ahli sejarah, politik, bahkan kejiwaan, lalu tertarik membedah profil Hitler secara mendalam. Nazi, partai berpengaruh yang ia pimpin, serta The Third Reich, visi masa depan Jerman yang ia perjuangkan, memang merupakan fenomena tersendiri. Begitu pula dengan angkatan perang Jerman yang sanggup merangsek begitu cepat ke negara-negara sekitar Jerman. Namun, Hitler adalah sosok central yang jauh lebih fenomenal.

Berbagai penilaian diberikan oleh para pengamat, sejawat, dan orang-orang yang pernah berada di lingkaran terdalamnya. Ada yang menyebutnya sebagai nasionalis sejati, orator yang sanggup mempengaruhi orang, penjahat perang yang sadis, psikopat. Tetapi ada pula yang menyebutnya sebagai pemimpin agung serta pemimpin yang lembut dan Leman yang kebapakan. Profilnya amat variatif.

Apa pun itu keputusannya untuk bunuh diri di ujung keambrukan Jerman Nazi harus dianggap sebagai akhir dari sebuah kisah besar yang ironic sekaligus tragic. Ia berhasil membawa keluar rakyatnya yang tengah didera depresi ekonomi hebat, mampu membangun angkatan perang hingga terdigdaya di Eropa, namun justru memilih mengakhiri hidupnya dengan menelan racun dan menembakkan pistol ke mulut. Bersama istrinya, Eva Braun, ia bunuh diri di bunker bawah kota Berlin pada 30 April 1945, ketika disadari bahwa Rusia, musuh besarnya, telah berhasil menguasai kota ini.

Kepada sejumlah perwira dan dokter yang mendampinginya di hari-hari terakhir, ia menyatakan merasa terhormat coati bunuh diri ketimbang menyerah kepada tentara Rusia atau dihadapkan ke pengadilan perang. Yang begitu luar biasa: ambisinya menguasai Eropa tak pernah padam hingga ia memutuskan bunuh diri.

Dari sekian telaah profil yang ditujukan kepadanya, yang menarik perhatian untuk diketengahkan adalah visinya yang megalomania. Banyak yang berpendapat, justru dari karakternya inilah Hitler, yang secara intelijensia sebenarnya pas-pasan, memiliki ambisi yang kelewat batas. la, misalnya, ingin menjadikan Jerman tuan di Bumi ini, atau Lord of the Earth. Untuk itu ia harus lebih dulu memimpin Jerman meraih kembali kedigdayaan Imperium Roma yang pernah berjaya antara tahun 962 hingga 1806.
Kala itu kekaisaran Jerman nyaris menguasai seluruh daratan Eropa. Membentang dari wilayah Jerman, Austria, Swiss, Liechtenstein, Belgic, Belanda, Luxemburg, sebelah timur Prancis, utara Italia, dan barat Polandia. Wilayah itu bergabung dalam rentang masa ratusan tahun. Namun, kelak Hitler Hitler nyaris menyatukannya kembali hanya dalam 12 tahun. Seluruh kontinental Eropa nyaris disatukannya kecuali kecuali Swiss, Spanyol, Liechtenstein, Swedia, Portugal, Andorra, Vatican, dan wilayah Ural.
Akan tetapi untuk mencapai kejayaan yang begitu cepat tersebut, Hitler memang harus memaksakan banyak hal. Misalnya, dengan memerintahkan jutaan tentaranya merebut Rusia walau dalam cuaca tidak bersahabat. Menghabisi lawan-lawan politik dan kaum Yahudi dengan cara yang amat sadis. Serra, berulang-kali menegaskan pada dunia bahwa Jerman adalah bangsa dari ras

masuk ke wilayah ke Rusia, Nazi Jerman juga telah membunuh lebih dari 20 juta orang penduduk sipil Soviet dan tujuh juta tentara Soviet.

Keinginannya harus diakui memang kerap membuat para panglima perangnya geleng gepala. Menurut situs www. wisegeek.com, Hitler sendiri bisa dijadikan contoh kasus megalomania paling ekstrem dalam sejarah modern. Karakter megalomanianya telah memberi inspirasi serta mendorong untuk menguasai dunia, terlahir kembali menjadi ras superior, dan memicu diri untuk memusnahkan ras lain. Sisi kejiwaan yang satu ini juga telah menggiringnya untuk merusak segala hal yang berada di luar apa yang telah diyakini.

Keburukan lain dari seseorang yang terkurung karakter megalomania, adalah bahwa ia akan menganggap segala hal yang berada diluar kendalinya sebagai ancaman yang harus dimusnahkan. Hal ini bisa punya kepercayaan diri, dan tak bisa menyembunyikan ketakutan yang amat mengada-ada.

Sayangnya, Hitler bukanlah contoh terakhir. Kolumnis Schuyler Ebbets, yang biasa menulis artikel dan kritik tajam di AS, misalnya, melihat bahwa kebijakan luar negeri yang dilancarkan Presiden AS George W. Bush sedikit banyak juga memancarkan visi yang megalomania dengan pola yang begitu mirip. Dalam kaftan ini, jika Hitler memulainya lewat Perjanjian Versailles dan serangan teroris terhadap gedung Reichstag di Berlin, Bush memulai upayanya untuk menguasai dunia lewat isu Serangan 9/11.

Ebbets mencurigai serangan teroris ke jantung AS tersebut sebagai sebuah konspirasi tingkat tinggi, dimana Bush dan sejumlah koleganya yang tergabung dalam kelompok Neocons (Neo Concervatives) secara tersamar selanjutnya memanfaatkannya untuk menguasai dunia lewat paham kapitalisme pasar-bebas dan demokrasi liberal yang amat American-Style. Untuk menahan “serangan dari luar” Bush sendiri membentengi negerinya dengan seperangkat The Homeland Security Act dan Departemen Keamanan Dalam Negeri yang baru saja dibentuk.

Meski tersamar, serangan politik luar negeri yang dilancarkan menurut pola megalomania ini sesungguhnya sudah terendus dan menuai banyak sindiran di berbagai negara. Begitu pun toh ada seorang kepala negara yang mati-matian mendukungnya, yakni PM Inggris Tony Blair. la bahkan tak sungkan “memaksakan” paham kapitalisme pasar-bebas kepada Rusia dan Cina yang memang kerap mem¬bandel terhadap AS.

Dalam pidatonya mengenai Tatanan Dunia Baru yang disampaikan pada 29 April 2003, misalnya, Blair pernah secara terangterangan memperingatkan Presiden Putin untuk menghentikan seluruh upava menyaingi kekuatan Barat. Dunia sudah tak punya pilihan untuk berpihak kepada AS, tandasnya. Hari itu juga Putin melontarkan pernyataan yang lumayan keras. “We are not with you and we don’t believe you! ”

Tampak sudah bahwa dunia memang tengah menapaki sebuah tatanan baru. Jika jalan kemegahan yang ditawarkan Hitler begitu lugas sekaligus naif, yang kini ada amatlah tersamar dan penuh jebakan. Astaga!.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: