Di Balik Perang Asia Timur Raya


Ilustrasi Pesawat Tempur Jepang

Ilustrasi Pesawat Tempur Jepang

AS memang sempat mengalami kerugian besor ketika Jepang berhasil menghanturkan pangkalon militer terbeser di wilayah Posifik. Tetapi, dengan bom atomnya, hanya dalam empat tahun, mereka dapat kembali menanamkan pengaruhnya di wilayah ini.

Selama berpuluh-puluh tahun, sejarahwan dan pengamat kemiliteran mempelajari dan mencari tahu tentang berbagai kisah di seputar Perang Asia Timur Raya. Perang akbar di belahan dunia sebelah timur ini begitu mengagumkan karena meski hanya dikobarkan oleh Jepang, dampaknya amat mendunia. Bersamaan dengan berkobarnya Perang Eropa di belahan dunia sebelah barat, Perang Asia Timur Raya menciptakan kegentingan global Perang Dunia II. Kaum sejarawan dan pengamat militer
mencari tahu, darimana datangnya semangat menjajah yang begitu hebat? Apa yang menyebabkan Jepang yang semula mengisolasi diri itu selanjutnya bisa berubah menjadi negeri imperialis? Hanya
dalam hitungan tahun, negeri ini bahkan telah menjadi penjajah yang semangatnya melebihi bangsa-bangsa Eropa. Potensi Jepang untuk menjadi “yang terbesar” di wilayah Asia, bahkan dunia, sebenarnya sudah bisa disimak dari kemampuan angkatan laut dan angkatan daratnya yang berhasil menaklukan beberapa wilayah di China dan Rusia sejak dasawarsa 1930-an.

Kapal Induk AS hancur oleh pesawat pemboman Jepang

Kapal Induk AS hancur oleh pesawat pemboman Jepang

Salah satu pencapaian yang sangat menentukan adalah ketika mereka berhasil menguasai Provinsi Manchuria di China pada 1931. Penjelajahan mereka untuk mencari minyak dan batubara itu mulai dilihat negara-negara superpower sebagai langkah pertama yang bisa mengubah keseimbangan geopolitik.

Para politisi di pusat pemerintahan sebenarnya tak begitu nyaman dengan semangat ofensif yang timbul. Namun, kegundahan ini bisa diredam dengan semakin banyaknya petinggi militer yang merembes ke pusat-pusat pemerintahan.

Pada masa itu telah diketahui bahwa peta aset minyak, mineral, dan cumber daya alam penting yang melimpah di sepanjang busur Asia, China, Melayu, hingga Hindia Belanda, praktis hanya berada di tangan Inggris, Belanda, dan Perancis. Ketiganya adalah penjajah tulen. Namun Jepang optimis dapat segera mengambil alih karena toh Jerman yang juga sama-sama kecil dapat melumpuhkan negara-negara itu di palagan Eropa.

Maka, dapat dimengerti jika langkah berikut dari Jepang adalah menjalin kedekatan dengan Jerman. Dua kebijakan luar negeri yang selanjutnya tak bisa dibilang biasa-biasa saja adalah pe­nandatanganan Pakta Anticomintern pada 25 November 1936 dan penggalangan Kekuatan Axis yang disahkan setahun kemudian. Bagi Jepang, langkah ini sangat strategic, karena dengan menggandeng Jerman-Italia, yang kala itu tengah mendominasi daratan Eropa, bisa memudahkan jalan untuk menghadapi Rusia dan China – dua negara besar yang amat berpengaruh di wilayah Asia.

Pada masa itu, menjelang tahun 1940, AS sendiri belum menjadi negara yang sangat menentukan di Asia. Namun karena Jepang mengetahui bahwa AS banyak membantu Inggris-Perancis di palagan Eropa, untuknya tetap dipersiapkan sebuah rencana ofensif khusus: serangan udara ke Pearl Harbor.

Dalam buku Edisi Koleksi Angkasa :bertajuk Perang Asia Timur Raya ini, kita untuk bisa mengikuti momen-momen tak terlupakan yang telah dilakukan Jepang di wilayah Asia. Kehebatan militernya mendapat pengakuan dunia terlebih karena anva dalam beberapa bulan mereka dapat mengenyahkan Inggris, Belanda serta Perancis untuk kemudian menguasai wilayahyang biasa mereka sebut Nanjo atauu Samudera Selatan.

Dibanding militer Inggris dan Belanda, kekuatan Jepang sebenarnya tak jauh lebih. Namun, berkat perhitungan yang cermat dan alokasi kekuatan yang tepat, mereka toh dapat mampu mengusir negara­negara itu dari wilayah Asia. Sangat bisa dikatakan bahwa taktik perang yang mereka lakukan tak lain adalah duplikasi B1itzkrieg Jerman.

Juga akibat westernisasi

Jika lewat tulisan di atas kita dapat melihat bahwa industrilalisasi telah mendorong semangat ekspansif militer Jepang, di lain pihak para sejarawan juga bisa mendapati bahwa westernisasi telah memberi andil yang tak kecil dalam pengembaraan negeri ini hingga ke wilayah Samudera Selatan.

Westernisasi lab yang pada intinya membuat negeri ini meninggalkan politik isolasionisme untuk kemudian meniru kultur Barat yang sangat mengagungkan industrialisasi, demokrasi, liberalisasi ekonomi, teknologi dan sistem kema­syarakatan yang bebas. Adalah Kaisar Meiji yang mengawali proses Westernisasi ini.

Kaisar yang bernama asli Mutsuhito itu naik tahta pada 1867 saat masih berusia 15 tahun. Di pundaknya diemban tugas membangkitkan kembali perekonomian Jepang yang tengah terpuruk. Ia harus merestorasi negerinya yang ambruk akibat korupsi, inflasi, dan kesalahan dalam kebijakan pertanian semasa diperintah Shogun Yoshinobu, salah seorang klan Tokugawa yang telah berkuasa sejak 1603.

Semasa diperintah Yoshinobu, Jepang sangat memegang teguh tradisi dan menolak pengaruh asing. Mereka merasa mampu berdiri di atas kaki sendiri terlebih karena perekonomian mereka kuat dan tak tergoyahkan selama ratusan tahun. Sejak abad 9, perekonomian mereka bertopang pada kegiatan perikanan, perkapalan, dan perburuan basil alam.

Di mata Kaisar Meiji, satu-satunya cara Jepang untuk bisa keluar dari krisis adalah dengan membuka diri dari pengaruh asing. Berbagai delegasi kemudian di kirim ke Eropa dan AS untuk mempelajari kebijakan politik, ekonomi, administrasi, dan pola kebudayaan. Ribuan pemuda Jepang disekolahkan ke luar negeri untuk kemudian dipanggil kembali untuk membangun negerinya.

Bagi AS sendiri, keterbukaan Jepang bak pucuk dicinta ulam tiba. Dikatakan demikian, karena keinginan untuk menanamkan pengaruh di negeri ini telah dilakukan dengan susah payah sejak 1790-an. Berbagai utusan dagang telah dikirim ke sana sejak 1797 namun senantiasa kembali dengan tangan Nampa karena dicegah militer Jepang. AS menuntut pembagian yang adil mengingat Jepang hanya mau melakukan kerjasama perdagangan dengan Belanda.

Pintu perdagangan untuk pertama kalinya terbuka lewat upaya provokatif Komodor Matthew Galbraith Perry. Berbekal pecan khusus dari Presiden

Millard Fillmore, Perry datang dikawal dua frigat dan dua kapal perang lain pada 1853. Lewat tekanan militer itulah, Jepang bersedia menandatangani Traktat Kanagawa pada 1854.

Siapa pun tabu bahwa AS memiliki ambisi yang besar untuk bisa menanamkan pengaruh ekonomi dan politik di wilayah Asia Pasifik. Langkah strategic bisa dimulai dengan “menguasai” Jepang, karena hanya negeri ini yang memiliki fondasi perekonomian yang kuat dan posisi yang menarik di wilayah ini.

Memang tak ada catatan yang menyatakan bahwa keruntuhan dinasti Tokugawa adalah akibat manuver para ekonom AS atau bukan. Hanya yang kemudian dipahami para sejarawan, konsesi perdagangan dan pemberlakukan pajak minimal untuk barang impor yang disepakati kedua negara bagaimana pun telah memaksa Jepang untuk segera melakukan beberapa kebijakan luar negeri untuk mengimbangi superioritas AS dan negara-negara imperialis yang saat itu bercokol di wilayah Asia.

Sejarah mencatat, setelah restorasi ekonomi berhasil dikejar, amatlah wajar jika Jepang juga menginginkan angkatan perang yang kuat. Mereka juga ingin merevisi objektif kepemerintahannya hingga kira-kira sama dengan visi yang dimiliki Inggris, Belanda, Perancis, dan AS. Hal inilah yang kemudian mendorong persinggungan kepentingan di wilayah Asia, ketika negeri ini juga memerlukan bahan-bahan dasar penopang industrinya.

AS memang sempat mengalami kerugian besar ketika Jepang meng­hancurkan pangkalan AL mereka yang terbesar di wilayah Pasifik, pada 8 December 1941. Tetapi sejarah tak lupa mencatat, bahwa dengan bom atomnya, hanya dalam empat tahun, AS dapat kembali menanamkan pengaruhnya di wilayah ini. Kali itu tanpa perlu berhadapan langsung dengan Inggris, Belanda, dan Perancis.

Benar memang seperti pernah di­katakan Lawrence Freedman dalam At­las of Global Strategy (1985). “Pendekatan para superpower dunia dalam menanamkan pengaruh politiknya di berbagai tempat sangat menge­depankan kestabilan nyali dan ke­mampuan langkah menipu. Semua akan dilakukan dengan tenang dan kalkulasi jangka panjang.”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: