OV-10 Bronco From Bromo Valley


Tiga unit Bronco TNI AU yang berpangkalan di Lanud Madiun sedang melaksanakan latihan rutin terbang formasi. Latihan terbang rutin itu biasanya berlangsung di atas Gunung Bromo dan Lawu

Selepas kegagalan operasi bersandi Peace Pony I dan ll yang dilakukan Amerika guna meningkatkan kemampuan tempur TNI AU, Indonesia memutuskan untuk mengakuisisi pesawat COIN (Counterinsurgency) terbaru yang ada yaitu pesawat OV-10. Indonesia merancang sendiri persenjataan untuk melengkapi pesawat tersebut yang disesuaikan dengan kebutuhan. Maka tercipta­lah pesawat OV-10 dengan empat senapan mesin kaliber 7,62 mm,

Sejumlah personal darat Bronco sedang memasang persenjataan untuk Bronco. Persenjataan yang bisa dipasang antara lain bom 250 kg dan tabung peluncur roket. Warna biru bagi persenjataan bermakna untuk latihan

mampu membawa amunisi di luar badannya seberat 750 kg serta mampu beroperasi dan landasan pendek bila perlu dan landasan rumput dan diberi registrasi OV­10F Bronco. Persyaratan teknis inilah yang akhirnya disetujui Amerika, namun kemampuan ini ternyata lebih ditingkatkan lagi oleh Indonesia dengan mengganti senapan mesin kaliber 7,62 mm menjadi 12,7 mm, langkah progresif untuk pesawat yang mempunyai dua mesin ini.

Dari sisi sejarahnya Bronco yang dibeli oleh TNI AU sebanyak 16 unit merupakan pengganti bagi pesawat tempur P-51D Mustang yang sudah grounded. Salah satu yang membuat TNI AU tertarik kepada Bronco adalah kesuksesannya saat dioperasikan dalam Perang Vietnam. Proses pembelian Bronco seperti prosedur standar langsung dilakukan di AS sekaligus melaksanakan pendidikin para awaknya di negeri Paman Sam itu.

Persiapan pengadaan

Untuk mengakuisisi pesawat Bronco persiapan dilakukan dengan menyeleksi pilot dan teknisi serta tes bahasa Inggris mengingat pendidikan semuanya akan dilakukan di Amerika. Dari sekian banyak personel TNI AU terpilih 24 teknisi dan 10 pilot, cukup guna mempelajari pesawat OV-10. Sebelumnya kebanyakan teknisi berbasis teknologi pesawat Mustang. Untuk para pilot tidaklah sulit beradaptasi terbang dengan pesawat baru, semakin baru pesawat semakin mudah diterbangkan. Kendala justru akan ditemui para teknisi mengingat pesawat OV-10 sudah memakai generasi baru balk mesin maupun avioniknya. Mesin sudah mengadopsi turboprop sebelumnya para teknisi hanya mengenal mesin piston. Semua teknisi belajar dulu bahasa Inggris Tehnik di Lackland AFB selama dua bulan lalu ke Patrick AFB, Florida yang lebih dikenal dengan sebutan United State Air Force Eastern Test Range. Di tempat inilah para teknisi belajar bagaimana mempersiapkan pesawat, memasang amunisi, me-recover serta merawat pesawat sampai tingkat sedang. Sebuah pendidikan yang begitu lengkap dan bermanfaat.

Sementara itu para pilot setelah belajar bahasa di Lackland AFB, melanjutkan pendidikan di Randolph AFB terus ke Eglin AFB dan bergabung dengan teknisi Patrick AFB. Di tempat inilah pilot dan teknisi belajar bersama di bawah bimbingan para instruktur Amerika untuk mengoperasikan pesawat OV-10F Bronco sebagai alat utama sistem senjata utamanya sebagai pesawat COIN. Dan pengalaman para teknisi dan pilot ternyata pesawat ini mempunyai sistem yang lebih sederhana bahkan dapat beroperasi stand alone jauh dari home base tanpa bantuan peralatan khusus termasuk saat start engine dapat memakai baterai dalam – sungguh pesawat yang cocok buat Indonesia.

Proses Kedatangan 

KSAU Marsekal Ashadi Tjahyadi sedang menginspeksi persenjataan Bronco yang akan digunakan dalam Operasi Seroja.

Secara bergelombang pesawat dikirim ke Indonesia lewat penerbangan yang melelahkan dengan rute San Fransisco – Hono – lulu – Guam – Manado – Halim. Gelombang pertama sebanyak tiga unit datang di Halim pada 28 September 1976. Pesawat yang diberi registrasi S-101, S-102 dan S-103 ini langsung bergabung dengan tim demo udara yang pada tanggal 5 Oktober 1976 akan mengadakan demo udara dalam rangka hari jadi ABRI yang dipusatkan di Parkir Timur Senayan. Tampilan pertama OV-10F Bronco di hadapan publik telah menguras perhatian masyarakat dan membuat bangga militer Indonesia – sejak saat itulah TNI AU telah mempunyai taring yang tajam (lagi) yaitu adanya pesawat bersenjata jenis Bronco. Tampil pertama kali di hadapan publik pesawat langsung diberangkatkan ke Bacau guna melaksanakan operasi militer.

Gelombang kedua datang tiga pesawat pada tanggal 13 November 1976, gelombang ketiga datang tiga pesawat pada tanggal 17 Desember 1976 lalu tiga pesawat pada tanggal 16 Februari berikutnya dua pesawat pada tanggal 16 Maret 1977 dan terakhir dua pesawat tiba pada 17 Mei 1977, semuanya memakai registrasi S-115 dan S-116. Belakangan registrasi pesawat diubah menjadi TT-1001 s/d TT-1016, yaitu Tempur Taktis. Perubahan registrasi ini membawa konsekuensi logic atas tugas yang diemban pesawat Bronco. Hampir dalam semua operasi kamdagri yang bersifat taktis kehadiran Bronco selalu ditunggu pasukan darat.

Pindah Kandang

Suasana latihan bersama dengan Bronco dan pilot-pilot dari Thailand.

Selama menjadi pesawat tempur yang menjadi andalan bagi TNI AU sempat pindah kandang setelah kehadiran F-16. Teman baru Bronco itu ternyata menempati Skadron Udara 3 sehingga Bronco dimutasikan menjadi kekuatan udara Skadron Udara 1. Sesuai sejarahnya Skadron Udara I sejak tahun 1977 melalui surat keputusan KASAU Nomor Skep /37/VII/ tahun 1977 tertanggal 23 Juli 1977 telah dibekukan karena ketiadaan pesawat. Hadirnya Bronco secara otomatis langsung mengaktifkan Skadron Udara
I. Pengaktifan kembali Skadron Udara I itu ditandai dengan upacara militer di Pangkalan TNI AU Abdulrachman Saleh yang dipimpin oleh KASAU Marsekal TNI Siboen. Pada perkembangan berikutnya setelah Bronco tidak operasional Skadron Udara I kekuatan pesawatnya diganti dengan jet tempur moderen buatan Inggris, Hawk 100/200.

Hampir tidak ada operasi kamdagri tanpa kehadiran si Kuda Liar. Sebut saja Operasi Seroja (1976-79), Operasi Tumpas 1977-78), Operasi Halilintar 1979), Operasi Guruh dan Petir 1980), Operasi Kikis Kilat (1980-81), Operasi Tuntas (1981-82), Jperasi Halau (1985-97), Operasi Rencong Terbang (1991-93), dan Operasi Oscar (1991-92). Selain itu setiap tahun berlangsung latihan satuan. Penugasan Bronco ke luar negeri juga sering dilaksanakan mulai dari Elang Thainesia, Elang Malindo dan Elang Indopura, kesemuanya ini menjadikan para pilot OV-10F sebagai pilot yang bau mesiu.

Suasana latihan terbang Bronco di atas gunung yang berada di sekitar Malang.

Kini si Kuda Liar sudah menjadi jinak, seperti yang terlihat di halaman Museum Mandala Dirgantara, Yogya. Pesawat registrasi TT-1015 mewakili temantemannya untuk dapat dilihat keperkasaan semasa masih dinas aktif. Ini merupakan pesawat OV-10F Bronco bernomor ganjil yang “selamat”, lainnya registrasi TT-1001, 03,05,07,09,11 dan 13 telah total lost di berbagai tempat karena latihan dan tugas. Untuk itulah pesawat Bronco TT-1015 ini dipasang logo Skadron 3, Skadron 1, unit OV-10 dan Skadron 21, satu-satunya pesawat militer TNI AU yang paling ban-yak berpindah domisili, paling banyak dalam penugasan dan paling lama dioperasikan (38 tahun sejak 1976 hingga 2004). (fdp)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 82 other followers

%d bloggers like this: